
"Bas, selama aku pergi, apa kamu baik-baik saja?" tanya Amanda menyudahi keheningan di antara mereka
"Maksud kamu?" tanya Bastian bingung
"Eeem, tidak terjadi apa-apakan selama aku tinggal? Soalnya saat kita bertengkar waktu itu, kamu sakit Bas. Padahal aku pergi cuma sehari," ujar Amanda ragu-ragu
"Kamu khawatir ya sama aku? Aku senang mendengarnya Manda," imbuh Bastian tertawa senang
"Bukan begitu maksudnya, aku hanya merasa tidak enak sama kamu. Aku minta maaf Bas, saat itu kita sedang sama-sama emosi. Aku takut kalau kita masih berada di ruangan yang sama, semakin membuat keadaan menjadi lebih buruk,"
"Tidak apa-apa Manda. Aku juga saat itu, pergi ke rumah Ayah untuk menenangkan diri,"
"Kamu datang sendiri?" tanya Amanda sambil merubah posisi tubuhnya, menatap suaminya
"Ia, aku datang sendiri. Mereka sempat kaget saat aku datang tanpa membawa menantu mereka," jawab Bastian sambil tertawa, membayangkan saat ibunya menyambutnya dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
Mendengar itu Amanda tampak sedih, ia merasa bersalah kepada Ayah dan Ibu mertuanya.
"Sudahlah, semuanya sudah berlalu, bukan? Kita jadikan pelajaran apa yang sudah terjadi ini. Aku berharap kita bisa memperbaiki semuanya Manda,"
Amanda kembali terdiam, ia tidak tahu harus bagaimana ia bereaksi atas penyataan Bastian. Tanpa ia sadari mobil mereka sudah tiba di basemant apartemen mereka. Merekapun keluar dari mobil, lalu menuju lift yang akan membawa mereka kelantai apartemen
***
Kedua pasangan suami istri itu, kini sudah berada di meja makan. Amanda sedang menata makanan yang di pesan Bastian lewat aplikasi online. Hari yang sudah mulai malam, dan Amanda yang juga mungkin lelah, membuat Bastian berinisiatif untuk membeli di luar saja makan malam hari ini. Walaupun sebenarnya, jika ia boleh jujur, beberapa hari tidak bertemu, membuatnya sangat merindukan masakan istrinya.
"Terimakasih Amanda," ucapnya sambil tersenyum
Untuk kesekian kalinya, keheningan kembali menyelimuti tempat itu. Tidak ada sama sekali yang ingin memulai berbicara. Mereka sibuk menikmati makanan masing-masing. Beberapa saat kemudian, Bastian memulai berbicara
"Manda, apa kamu mencintai Billy?" tanya Bastian tiba-tiba di sela makan malam mereka
__ADS_1
Sejenak Amanda berhenti dari kegiatan makannya. Menatap lurus ke dalam bola mata Bastian, yang juga sedang menatapnya.
"Maksud kamu?" tanya Amanda kemudian
"Maaf jika pertanyaanku membuatmu tidak nyaman Manda, tapi aku sungguh penasaran dengan itu. Sejak kapan kamu mengenalnya?"
"Apa aku harus menjawabnya Bas?"
"Aaah, kalau kamu tidak mau menjawab tidak masalah Manda. Kita lupakan saja, anggap saja aku tidak pernah mempertanyakan hal itu,"
"Aku bukan orang yang mudah jatuh hati pada pesona seseorang Bas. Bagiku mencintai dan di cintai bukan hal yang menyenangkan," ujar Amanda sedih. Teringat akan masa lalunya, saat ia jatuh pada pesona seorang laki-laki.
"Aaah maafkan aku Manda, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih. Tapi apa aku boleh tahu alasanmu mengatakan itu? Bukankah mencintai dan dicintai adalah impian semua orang?"
"Mungkin, tapi sejauh ini tidak berarti bagiku. Setiap orang punya alasan tersendiri Bas, cukup mereka saja yang tahu, orang lain jangan,"
__ADS_1
Bastiam tidak ingi bertanya lebih lanjut. Ia mengerti apa yang sedang dirasakan oleh wanita yang telah menjadi istrinya itu. Walau ia begitu penasaran dengan masa lalu istrinya, tapi ia harus sabar. Pasti ada waktunya, saat wanita itu siap menjadikannya sandaran saat ia sedang rapuh. Apapun alasan Amanda untuk bersedih, Bastian berharap semoga ia adalah alasan untuk Amanda tersenyum di kemudian hari