
Keesokan harinya Bastian dan Amanda sedang bersiap-siap untuk meninggalkan rumah orang tuanya menuju apartemen milik Bastian. Ia tidak ingin orang tuanya terus menerus mengurus hidupnya. Sudah cukup mereka ikut campur dengan pernikahannya kali ini.
"Kenapa buru-buru sekali kalian pindahnya nak. Ibu masih ingin bersama menantu ibu," ucap Ibu sebastian.
Wanita itu sangat senang dengan Amanda. Ia yakin Amanda adalah gadis yang baik, Amanda pasti bisa mengubah hidup putranya.
"Kami berdua harus saling mengenal Ibu. Kami butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Kami juga harus mandiri bukan?" ucap Bastian meyakinkan Ibunya
"Berbuat baiklah pada istrimu Bas. Jangan sakiti dia, hargai dia seperti kau menghargai Ibu. Walaupun kalian tidak saling mengenal, tapi Ibu yakin waktu yang akan menumbuhkan cinta diantara kalian," ucap wanita itu lagi
"Ia Bu, Bas akan menjaganya. Bas tidak akan menyakitinya, Ibu tenang saja ya. Ayah Ibu kami pamit ya," ucap Bastian mengakhiri pembicaraan dengan Ibunya
"Ibu Ayah, Amanda pamit ya. Terimakasih telah menerima Amanda, di keluarga kalian. Doakan kami ya Ibu, Ayah," ucap Amanda tulus, ia pamit meninggalkan kedua mertuanya. Walaupun sebenarnya ia tidak rela.
Ini pengalaman pertamanya merasakan kasih sayang orang tua. Ia sedikit menangis memeluk Ibu mertuanya.
"Manda sudah menganggap Ibu seperti Ibu kandung Manda sendiri. Terimakasih Ibu," ucap Manda menangis.
"Semoga kau bahagia ya nak. Hormati suamimu, turuti perkataannya jangan membantah. Ia adalah kepala keluarga yang harus kamu hargai," ucap Ibu menasehati menantunya
__ADS_1
***
Lima belas menit kemudian sampailah mereka di apartemen mikik Bastian.
"Ini adalah kamarmu. Jangan pernah bermimpi aku akan tinggal satu kamar denganmu. Aku tidak akan pernah tertarik dengan tubuhmu yang jelek itu." ucap Bastian
Terserahlah dia bicara apa aku tidak peduli, siapa juga yang sudi se kamar dengan lelaki brengsek sepertinya, batin Amanda.
Tanpa banyak bicara ia langsung meninggalkan suaminya, menuju kamarnya. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Tidur di sofa semalaman benar-benar tidak nyaman. Malah menambah sekujur tubuhnya semakin sakit. Setelah membereskan semua barangnya ia langsung menuju ranjangnya lalu tidur.
***
Ia pun beranjak ke kamar mandi membasuh wajahnya dengan air, kemudian pergi menuju dapur, ia lapar. Ia kemudian membuka kulkas mencari bahan makanan yang bisa ia olah untuk makan malamnya kali ini.
Tidak ada bahan makanan yang tersisa, hanyalah dua butir telur dan bumbu dapur lainnya. Baiklah tidak usah kuatir, makan malam dengan sepiring nasi goreng bukanlah masalah baginya. Kehidupannya yang benar-benar di mulai dari nol, membuatnya menjadi pribadi yang sederhana dan terus bersyukur. Apapun yang akan ia makan hari ini adalah berkat Tuhan yang harus ia syukuri
Setelah ia selesai memasak nasi goreng sederhana itu, tampak sosok suaminya dari balik pintu rumah. Entahlah darimana lelaki itu, ia tidak peduli dan tidak mau ikut campur. Lelaki itu berjalan menuju meja makan tempat Amanda berada
"Apakah kau sudah makan? Aku hanya bisa membuat nasi goreng malam ini. Sepertinya bahan makanan di kulkas sudah habis. Ini makanlah aku juga membuatkannya untukmu," ucap Amanda menawarkan suaminya
__ADS_1
"Kau tidak perlu repot memasak untukku. Aku tidak mau memakan masakan wanita sepertimu," ucap Bastian tidak peduli
"Oke kalau begitu. Aku juga tidak sudi makan bersama dengan orang yang tidak tahu berterimakasih sepertimu," ucap Amanda dengan tatapan menghina.
Bastian tidak peduli dengan ocehan istrinya. Perlahan ia memperhatikan ekspresi istrinya. Tidak lagi tampak ketakutan yang biasanya ia tunjukan di depan Bastian. Wajah itu seolah mengintimidasi Bastian, tatapan tajam dan wajah dingin Amanda membuat Bastian sedikit merinding. Ia bingung, siapa wanita di hadapannya ini. Ini istrinya kan?
"Kenapa menatapku seperti itu. Aku ini suamimu, apa kau lupa kata-kata ibu tadi siang?" bentaknya
"Ck, kau ingin sekali dihormati rupanya. Hahaha maafkan saya tuan Sebastian, sepertinya anda tidak pantas dihormati," ucapnya sedikit tertawa
"Kurangajar kamu. Beraninya kau melawanku hah! Dasar perempuan murahan, tidak tau diri," ucap Bastian emosi. Ia menarik kerah baju istrinya
Dengan sigap Amanda melepaskan tangan Bastian di lehernya.
"Berani sekali kau Tuan Sebastian. Hati-hati dengan tanganmu ini. Jika kau masih menyayangi tubuhmu, jangan macam-macam dengaku. Juga, jaga mulut kurangajarmu itu, jika kau tidak ingin aku merobeknya dengan tanganku" ancam Amanda.
Kemudian ia menarik tangan Bastian menguncinya di belakang tubuh pria itu. Bastian sangat kesakitan, ia sedikit kaget. Tenaga gadis itu cukup kuat. Amanda mendorong tubuh Bastian hingga terjatuh mengenai meja. Bastian yang tidak siap akan serangan itu, hanya bisa pasrah memaki istrinya yang beranjak pergi meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
Sial kuat sekali dia. Siapa sebenarnya gadis itu. Mengapa ia seperti memiliki kepribadian ganda. Saat pertama kali bertemu, ia tidak seperti ini. Dia benar-benar licik. Dasar perempuan jahat. Aku akan mencari tahu siapa dirimu. Lihat saja nanti, gumam Bastian
__ADS_1