SKAKMAT

SKAKMAT
Perjanjian


__ADS_3

Pagi ini Amanda belum juga beranjak dari tempat tidur. Ini bukan akhir pekan ataupun tanggal merah. Ia masih ingin menikmati pagi hari dengan bermalas-malasan. Urusan kantor sudah ia percayakan kepada sahabatnya Ella. Gadis itu hampir kembali terlelap, ketika Bastian menggedor-gedor pintu kamarnya.


"Aaah sialan," gumamnya. Kemudian dengan malas ia beranjak dari tempat tidur. Ia pun membuka pintu dan mendapati suaminya dengan raut wajah yang sulit di tebak


"Beraninya kau mengganggu pagiku brengsek," ucap Amanda marah


"Sudah jangan banyak tanya, ikut aku." Bastian menimpali sambil menarik paksa Amanda dari balik pintu kamarnya.


"Lepaskan tanganmu, aku bukan binatang sehingga kau harus menyeretku," imbuh Amanda sambil menyentakan tangan Bastian dari pergelangan tangannya. Laki-laki itu tidak peduli, ia menyeret Amanda hingga terduduk di sofa ruang tamu. Ia melemparkan sebuah kertas kosong di atas meja.


"Apa ini, kau sudah gila ya. Menyuruhku membaca kertas kosong ini. Dasar setres," ucap Amanda tertawa melihat kelakuan suaminya pagi ini


"Heh bodoh, kau tidak punya otak ya. Siapa yang menyuruhmu membaca kertas kosong. Kau memang benar-benar perempuan murahan, isi kepalamu itu cuma uang uang dan uang saja, iakan?" ucap Bastian menyeringai meledek


"Ck apa kau lupa omonganku semalam. Berani kau bicara kasar dengan mulutmu itu, aku akan merobeknya dengan tanganku," ucap Amanda emosi.


"Sekarang katakan apa maumu. Aku tidak punya waktu untuk berurusan dengan orang sepertimu," ucapnya lagi

__ADS_1


"Aku mau kita buat perjanjian, hitam di atas putih. Aku tidak menginginkan pernikahan ini. Aku tidak pernah tertarik untuk menikahi wanita murahan sepertimu. Aku mau pernikahan ini hanya selama satu tahun saja"


"Dalam setahun itu, ku beri kau kesempatan untuk mengambil sebanyak-banyak uang yang kau mau. Bukankah tujuanmu menikahiku adalah karena uang? Maka silahkan lakukan," ucap Bastian sombong


"Satu lagi, ku peringatkan kau. Jangan pernah kau mengurusi urusan pribadiku, karena kau tidak punya hak di dalamnya," imbuh bastian penuh penekanan.


"Hah hahahahah, sepertinya kau sedikit kurang pintar tuan Bastian. Sudah sering aku peringatkan, hati-hati dengan mulutmu itu. Kau bisa kehilangan semua yang kau punya," ancam Amanda sambil mengusap bibir Bastian.


Ia menatap tajam, menyoroti mata laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Aku tidak membutuhkan surat perjanjian ini. Aku juga tidak membutuhkan sepersen pun uangmu. Anggap saja kita tidak saling mengenal,"


"Lakukan saja yang kau mau, aku tidak peduli. Mengurusi hidupmu, sama dengan buang-buang waktu bagiku"


Kalimat itu terucap begitu indah dari bibir Amanda. Namun menusuk jauh ke dalam hati Bastian. Ia tidak pernah menyangka istrinya berani bicara setegas itu.


"Dan apa katanya dia tidak butuh uangku? Sebenarnya siapa dia," batin Bastian

__ADS_1


"Selamat bersenang-bersenang di dalam neraka yang kau buat tuan Bastian. Ini baru awal dari permainan kita," ucapnya lagi kemudian berlalu meninggalkan Bastian sendirian


***


Amanda ingin sekali melanjutnya tidurnya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, tampak nama Ella muncul. Ia pun menggeser tombol hijau, menganggkat panggilan itu


"Ada apa Ella, pagi-pagi kau sudah menggangguku," teriak Amanda mengomel. Terdengar Ella terkekeh di seberang


"Maaf mengacaukan pagimu pengantin baru. Sepertinya kau sangat menikmati waktumu ya, sehingga kau tidak ingin di ganggu," ucap Ella sambil tertawa


"Tutup mulutmu Ella, itu sangat tidak lucu,"


"Maafkan aku Nona, tapi ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu. Kau harus ke kantor hari ini. Pemimpin perusahaan Senada Group ingin menemui anda, membahas kerjasama perusahaan yang sempat tertunda bulan lalu," jelas Ella.


"Aah sial, aku sedang tidak ingin bertemu siapapun hari ini. Katakan saja padanya aku sedang di luar kota Ella. Minggu depan saja,"


"Tidak bisa Manda, ia sedang menunggumu. Ia bahkan sudah tiba satu jam yang lalu,"

__ADS_1


"Aah brengsek. Baiklah suruh orang menjemputku tiga puluh menit lagi. Aku akan bersiap-siap. Aku akan mengirim alamatnya padamu," imbuh Amanda kemudian menutup panggilan telepon itu


__ADS_2