SKAKMAT

SKAKMAT
Pernikahan Tanpa Cinta


__ADS_3

Amanda masih berdiri mematung di depan pintu apartemen mereka. Ia menerawang jauh keluar dengan tatapan kosong. Entah apa yang sedang ia pikirkan, yang pasti otaknya sedang tidak bisa berpikir jernih kali ini. Bertanya pada dirinya sendiri, apakah pernikahannya harus serumit ini.


Ada apa dengan Bastian, sebelum menikah, mereka sudah sepakat untuk menyembunyikan status mereka. Lalu sekarang kenapa dia marah? Amanda menghirup udara sebanyak yang ia mau, kemudian beranjak masuk ke apartemennya. Ia perlu menenangkan diri, menjauh dari Bastian sepertinya lebih baik menurutnya. Ia melihat suaminya masih duduk diam di sofa ruang tamu. Tampaknya lelaki itu masih marah, ia menantap Amanda dengan tajam tanpa senyum sedikitpun.


"Mau kemana kamu? Jelaskan padaku semua ini Manda, aku ini siapa bagimu," teriak Bastian dengan nada marah


Tapi Amanda tidak mempedulikan suaminya, ia melangkah menuju kamarnya. Masih terdengar samar-samar suara suaminya, bertiak memanggil namanya. Amanda perlu menenangkan diri, ia butuh waktu untuk memikirkan semuanya.


"Mau kemana kamu? Suamimu sedang marah, dan kau malah pergi keluar. Istri macam apa kamu! Atau kau mau menemui lelaki tadi?" ucap Bastian masih dengan nada marah, saat ia melihat Amanda hendak pergi


Amanda masih diam, ia sedang merangkai kata yang tepat untuk manusia yang sebentar lagi berubah wujud di depannya.

__ADS_1


"Bastian, kita sedang tidak baik-baik saja. Kita sama-sama sedang emosi, aku ingin menenangkan diri. Ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan masalah ini,"


"Bohong kamu! Kau mau menenangkan diri dimana, hah! Kau mau bertemu pria itu lagi kan? Jangan coba-coba untuk membodohiku Manda,"


"Aku tidak mengerti apa alasanmu marah Bas, Billy tidak tahu apa-apa soal kita. Kamu tidak pantas memarahinya seperti tadi,"


"Terus saja kau bela lelaki brengsek itu Manda. Kau tahu apa kesalahannya? Itu karena dia mencintaimu, dia mencintai kamu yang sudah menjadi istri orang. Kamu itu istriku Manda, hanya milikku,"


"Ck, asal kamu tahu dia lebih dulu mengenal aku di banding kamu. Tidak salah jika dia mencintaiku Bas. Kamu tidak berhak untuk melarangnga!"


"Ck, iya kamu memang suami aku. Kita boleh di sebut suami istri Bas, tapi tidak ada cinta di dalamnya. Kamu jangan terlalu bangga dengan status itu,"

__ADS_1


Ucapan Amanda cukup membuat Bastian bungkam 'SKAKMAT'. Itu adalah kenyataan yang tidak mungkin untuk ia ingkari. Mereka hidup bersama tanpa ada cinta di dalamnya. Tapi Amanda adalah istrinya, hanya itu alasan yang ia punya. Ia tidak mengerti perasaan apa yang ia miliki pada perempuan itu. Selama ini ia sudah cukup nyaman hidup bersama dengan Amanda.


"Kenapa kau diam Bas, kamu baru sadar, hah? Kamu, sebagai suami aku, apa pernah kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku."


"Apa pernah ada keinginanmu untuk memperkenalkan diriku pada rekan kerjamu, bahwa aku ini istrimu. Jawab aku Bas?"


"Apa kamu tidak tahu apa yang sudah aku lakukan selama ini Amanda. Aku sudah melakukan tanggung jawabku dengan baik. Apa itu kurang untuk menyatakan semuanya?"


"Ck, semua orang juga bisa melakukan itu Bas. Tanpa status suami juga, Billy bisa melakukan itu. Jika memang kamu mencintai aku, harusnya kamu menyangkal ucapan Billy, dan menjelaskan semuanya padanya. Menjelaskan padanya siapa kita sebenarnya, bukan malah bertindak seperti ini,"


Sekali lagi, ucapan Amanda membuat hati Bastian meringis. Seperti puluhan belati menusuk jantungnya. Semuanya benar, ia sendiri tidak mengakui hubungan mereka. Lantas atas dasar apa ia menuntut istrinya, untuk mengakuinya sebagai suaminya.

__ADS_1


"Semua sudah jelas Bas, tidak ada cinta di dalam pernikahan kita. Jika kamu sendiri tidak mau memperjelas hubungan kita, maka jangan pernah berharap aku berbuat demikian," ujar Amanda.


Ia lega semua yang ada di hatinya sudah ia utarakan. Ia pergi meninggalkan suaminya, yang masih berdiri mematung. Tidak peduli, apakah pria itu marah ataupun menangis. Terserahlah


__ADS_2