SKAKMAT

SKAKMAT
Perhatian Bastian Part II


__ADS_3

Setelah panggilan telepon itu berakhir, Bastian segera melajukan mobilnya menuju alamat yang di kirim Amanda padanya. Agar suaminya tidak curiga, Amanda meminta supirnya, untuk mengantarnya ke halte bus dan menunggunya di sana. Tak lama waktu berselang, akhirnya yang di tunggu pun datang. Bastian menepikan mobilnya tepat di depan halte Amanda berdiri. Bastian keluar dari mobilnya, kemudian membukakan pintu mobil bagian depan untuk istrinya.


"Terimakasih Bas. Tapi seharusnya kamu tidak usah melakukan ini. Aku juga sudah biasa begini setiap hari," ucap Amanda


"Hei, jangan bicara seperti itu. Aku ini suami kamu, dan kamu tanggung jawab aku. Kalau kamu ada apa-apa di jalan, aku yang di salahkan sama Ayah," ujarnya sambil tetap fokus mengemudi


Amanda terdiam, itu benar. Bastian adalah suaminya, jika terjadi sesuatu padanya, tentu lelaki itu yang harus bertanggung jawab.


"Manda, apa kamu sudah makan? Apa kau ingin mampir sebentar?" tanya Bastian


"Aaah, i-iya. Eeeh tidak, aku tidak lapar Bas. Aku ingin segera sampai rumah. Aku sangat lelah seharian ini?"


"Kamu yakin bisa tidur nyenyak dengan keadaan seperti itu? Kamu masih saja menjaga jarak denganku Manda. Kamu itu istri aku, jangan sungkan sama aku," ucap Bastian, kemudian membelokan mobilnya menuju restoran yang ada di sekitar jalan itu.


"Maaf Bas, aku hanya belum terbiasa saja dengan keadaan ini," ujar Amanda


Amanda memang butuh waktu untuk menentukan pilihannya. Antara mempermainkan suaminya atau sebaliknya, memulai dengan benar, menjadi istri yang baik untuk Bastian. Ia benar-benar butuh waktu untuk memantapkan hatinya.

__ADS_1


***


Suami istri itu, kini sedang menunggu pesanan makanan mereka, hari sudah semakin malam. Di luar restoran itu tampak begitu indah, lampu warna warni menambah keindahan malam hari ini. Bastian mengajak istrinya untuk berbincang-bincang kecil mengisi waktu


"Kamu sebenarnya kerja dimana Manda. Setiap hari kamu pulang malam begini?" tanya Bastian


"Eem aku kerja di Oportunity Group Bas,"


"Oh ya! Hebat juga kamu, bisa bekerja disitu"


"Iya, tapi cuma karyawan biasa Bas, itu tidak hebat."


"Menurut informasi pemiliknya seorang wanita, kalau tidak salah nama kalian sama, Amanda Manuwella juga. Apa kalian pernah bertemu Manda?" ujar Bastian antusias


"Iya nama kami sama. Aku selama bekerja disana belum pernah melihatnya Bas. Mana mungkin dia ada waktu untuk bertemu dengan karyawan rendahan seperti aku ini," ujar Amanda pura-pura sedih


"Kata beberapa orang yang pernah bertemu dengannya, mereka berkata dia wanita yang cantik, namun dingin Manda. Tidak pernah terlihat ia tersenyum, walaupun begitu katanya dia orang yang sangat baik"

__ADS_1


"Di balik wajahnya yang terlihat kejam, ia sangat menghargai orang lain. Aku juga sering melihat berita, ia sering menolong beberapa panti asuhan"


"Ayah juga sudah pernah bertemu dengannya, dulu perusahaan Ayah bekerja sama dengan perusahaannya," ujar Bastian menjelaskan


"Apa kalian pernah bertemu Bas? Atau kau ingin bertemu dengannya?" tanya Amanda ingin tahu


"Kami belum pernah bertemu Manda, tapi aku ingin sekali bertemu dengannya,"


"Apa kau menyukainya Bas?" ujar Amanda penasaran


"Eeh apa? Tidak, tidak Manda. Mana mungkin aku menyukai orang yang tidak pernah aku temui sebelumnya, melihat fotonya saja tidak pernah. Ia sangat menjaga privasinya Manda. Hanya orang-orang beruntung saja yang bisa melihatnya,"


Amanda ingin sekali tertawa, bagaimana mungkin dia membicarakan orang lain, dan orang lain itu adalah dirinya sendiri. Ternyata merahasiakan siapa dirinya di depan umum benar-benar tepat. Bastian suaminya saja tidak tahu siapa Amanda.


Akulah dia Bas. Kamu bukan hanya di izinkan bertemu, tapi juga diizinkan berbagi udara yang sama dengannya seumur hidupmu, batin Amanda


"Hei, kenapa diam? Ayo makan, kita harus segera pulang. Kamu pasti lelah sekali. Bekerja di perusahaan sebesar itu, pasti tekanannya besarkan?"

__ADS_1


Amanda tidak berkata apa-apa lagi, ia hanya mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Mereka makan malam dengan tenang, sambil sesekali di iringi obrolan-obrolan kecil. Malam semakin larut, namun tampaknya dua orang itu, sangat menikmati malam mereka, dengan pikiran masing-masing


__ADS_2