
Melihat koper di tangan Amanda, sontak saja Bastian berpikir istrinya itu akan pergi meninggalkannya. Tidak tahu harus berbuat apa, yang ia pikirkan sekarang adalah mencegah perempuan itu.
Secepat kilat, ia menuju istrinya, menarik tangan wanita itu, mencegahnya pergi.
"Jangan pergi Manda, semuanya masih bisa kita bicarakan baik-baik," ujarnya dengan wajah memelas
Amanda mengernyitkan dahinya bingung, melihat tingkah suaminya. Lelaki itu seperti anak kecil saja, yang mengerengek kepada ibunya. Sepertinya banyak hal yang Amanda tidak tahu tentang suaminya. Ia bisa saja tampak seperti seekor macan yang ganas, namun di lain hal ia bisa berubah menjadi seekor kucing yang manja.
Amanda tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tertawa, melihat wajah memelas dari lelaki itu.
"Apakah kau baik-baik saja?" ucap Amanda sambil tertawa
"Kamu tidak sedang bermimpi kan?" ujar Amanda meyakinkan dirinya
Bastian tidak mempedulikan perkataan istrinya. Ia terus saja menggenggam erat tangan perempuan itu
"Amanda jangan pergi, kita bicarakan semuanya dengan baik. Aku minta maaf," ucap Bastian lagi dan lagi
Tentu ini semakin membuat Amanda bingung. Betapa aneh suaminya ini.
"Hei Bastian, ada apa? Kamu baik-baik saja kan? Jangan bertingkah aneh pagi-pagi begini,"
"Lihat dirimu sudah rapi, sudah ganteng. Tapi tingkahnya ya Tuhan, di luar kenormalan manusia," ujar Amanda lagi masih tidak berhenti menertawakan sikap suaminya
__ADS_1
"Tenang dulu, tenang. Tarik napas...... buang.... tarik lagi..... buang. Bicaralah yang jelas,"
Untuk beberapa saat Bastian menenangkan dirinya. Menarik napas lalu menghembuskannya ke udara
"Bagaimana aku bisa baik-baik saja, kamu mau pergikan. Kamu mau meninggalkan aku kan?" ucap Bastian
"Jangan pergi, aku minta maaf dengan kejadian beberapa hari yang lalu," ujarnya lagi
Sambil terus tertawa Amanda berbicara pada suaminya
"Astaga Bastian, makanya lain kali kalau ada orang berbicara itu di dengarkan, di perhatikan,"
"Kemarinkan aku sudah mengatakannya padamu. Hari ini aku akan keluar kota,"
"Ya Tuhan, kau bertingkah seperti perempuan saja. Apa kau ini manusia berkepribadian ganda?" guraunya
"Dengarkan aku dulu, belum juga aku selesai bicara," ujarnya lagi
"Aku pergi ke Kota X, untuk mengikuti pertemuan. Bisa dibilang sejenis workshop. Banyak karyawan lain yang juga mengikutinya. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan para karyawan yang bekerja di Oportunity Group," jelas Amanda, sebisanya.
"Ah berapa hari kau akan pergi," ucap Bastian
"Kau pergi tanpa menyiapkan makanan untukku. Sarapan pagiku, makan siangku mana?" ujarnya manja
__ADS_1
Amanda gemas mendengar ocehan lelaki itu
"Kemarin saja kau tidak sarapan, dan tidak membawa bekal makan siang. Makanya hari ini aku tidak mempersiapkannya untukmu,"
"Aku pasti akan kelaparan selama kau pergi. Berapa hari kau disana Manda?"
"Ah, manja sekali suamiku ini," ujarnya geli
"Tidak lama, hanya tiga hari saja,"
Entah mengapa mendengar itu, hati Bastian sedikit tidak rela di tinggal oleh istrinya. Walaupun hanya tiga hari, namun ia tidak tahu bagaimana ia bisa bertahan hidup tanpa wanita itu.
"Itu lama Manda. Ah, aku pasti akan merindukanmu,"
Sepertinya Amanda juga merasa berat hati meninggalkan suaminya. Lelaki yang beberapa bulan ini, selalu menemani hari-harinya. Terlebih ia merasa bersalah karena telah membohongi lelaki itu, dengan alasan kepergiannya. Sudahlah, ini pilihan yang sudah ia pilih. Mau tidak mau ia harus tenggelam dalam kebohongan-kebohongan berikutnya
"Maafkan aku Bastian, tapi aku memang harus pergi. Jaga dirimu ya," ujarnya lembut sambil mengusap punggung tangan suaminya
"Aku pasti akan selalu memberimu kabar setiap hari. Jaga kesehatanmu, dan jangan lupa makan,"
"Aku pergi ya. Aku pasti akan kembali" ucapnya sambil tersenyum
Mereka berdua berpelukan, sebelum akhirnya ia pergi. Bastian menatap punggung istrinya yang perlahan menghilang dari balik pintu apartemen
__ADS_1