
"Def.....!"
"Hallo Regina, apa kabar? Apa kau merindukanku?"
Melihat kedatangan Def yang secara tiba-tiba itu cukup mengagetkan Regina. Selama ini ia telah bersusah payah, agar lelaki itu tidak akan pernah menemukan keberadaannya. Namun entah apa yang sudah terjadi, bagaimana Def bisa menemukannya, ia tidak tahu
"Apa yang kau lakukan di sini, Def? Mengapa kau mencariku? Apa belum cukup semua yang kau lakukan padaku dan anakku?" ucap Regina penuh emosi
"Tenang dulu Regina, janganlah kau marah. Kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi?" ujar Def santai. Ia sama sekali tidak peduli dengan gertakan Regina
"Ck, untuk apa aku merindukan orang sepertimu. Laki-laki jahat, tidak tahu diri....!"
"Oh sayang, tenangkan dirimu. Caramu memperlakukanku menentukan bagaimana nasibmu setelah ini, manisku,"
"Apa yang ingin kau lakukan padaku, sialan!"
"AAKKHH....." pekik Regina saat Def mencengkram rambutnya cukup kuat
"Sudah ku peringatkan kau dari awal Regina, caramu memperlakukanku menentukan nasibmu," ujar Def. Tangannya kini berpindah ke leher Regini. Ia mencengkramnya cukup kuat sehingga membuat wanita itu kesakitan.
Tiba-tiba seorang anak kecil berlari ke arah mereka. Menatap kedua orang yang sedang berdiri di depannya.
"Ayah, Ayah sedang apa? Mengapa tangan Ayah berada di leher Bunda? Lepaskan Ayah, Bunda kesakitan," teriak anak kecil itu sambil menarik-narik baju Def.
__ADS_1
Anak kecil berumur kurang lebih tiga tahun itu, tampak sangat ketakutan. Melihat bagaimana perlakuan Ayahnya pada Bundanya.
"Lepaskan, Ayah...!" teriaknya sambil terisak
"Titi masuk ke dalam, nak! Ini urusan orang tua," jawab Regina
"Tidak Bunda, Titi tetap ingin di sini. Titi ingin menolong Bunda,"
"Ayah, lepaskan Bunda," ucapnya di sela tangisannya.
Melihat anaknya menangis membuat Regina dengan susah payah melepaskan diri dari cengkraman Def. Ia juga memohon pada lelaki yang pernah menjadi suaminya.
"Def, aku mohon lepaskan aku. Apa kau tidak kasihan melihat anakmu Def," ucapnya.
"Aku tidak pernah menginginkan anak itu Regina,"
"Kau sudah menghancurkan hidupku Regina. Aku membencimu dengan seluruh hidupku," ucap Def. Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan anak dan mantan istrinya tanpa belas kasihan sedikitpun
Hati Regina hancur mendengar perkataan Def. Meratapi betapa malangnya nasib dirinya dan juga anaknya. Def benar-benar lelaki tidak punya hati, jangankan istrinya, anaknya saja tidak dianggap olehnya.
Segudang penyesalan kembali hadir di pikiran Regina. Andai saja dulu ia tidak tergoda oleh nafsu dan materi, mungkin ia sudah bahagia dengan Bastian. Lelaki yang dulu begitu mencintainya. Sekarang semua tampak sudah terlambat, Bastian sudah tidak menginginkannya lagi. Hanya Titilah, putri satu-satunya yang ia miliki sekarang. Ia berjanji akan menjaga dan membesarkan anak itu, dengan seluruh kemampuan yang ia punya.
"Bunda, Bunda tidak apa-apa?" tanya Titi sambil berhambur ke dalam pelukan Regina
__ADS_1
"Bunda baik-baik saja, sayang. Maafkan Bunda ya" ucap Regina menangis
"Ayah jahat, Bunda. Ayah sudah meninggalkan kita, Ayah tidak sayang sama Titi. Titi benci Ayah," isak Titi sambil menangis
.
.
.
Seperti biasanya setiap pulang kerja, Bastian selalu menyempatkan diri, untuk menjemput istrinya. Menunggu dengan sabar, di depan lobby utama perusaahan tempat Amanda bekerja.
Sekitar lima menit ia menunggu, akhirnya Amandapun keluar dari gedung itu. Tampak beberapa karyawan, mengangguk hormat padanya. Tentu itu cukup menarik perhatian Bastian. Bertanya dalam hati mengapa karyawan lain, bersikap seperti itu pada istrinya. Padahal jabatan Amanda di sana, hanyalah karyawan biasa.
"Hei, Bas...! Kamu sedang memperhatikan siapa?" ucap Amanda mengagetkan suaminya
"Astaga, kamu mengagetkanku saja," ujarnya sambil mengelus-elus dadanya
"Uh kasihan, kaget ya, hahahah!" balas Amanda tertawa, tidak peduli dengan raut wajah kesal dari suaminya. Bersamaan dengan itu iapun masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah suaminya.
"Tadi kamu sedang memperhatikan siapa, Bas?" tanya Amanda kemudian
"Aku bingung Manda, jabatan kamu di perusahaan ini, sebenarnya apa? Itu yang aku perhatikan dari tadi. Seluruh karyawan di sana memberi hormat padamu," jawab Bastian
__ADS_1
Oh astaga, Bastian ternyata memperhatikan itu. Gawat, apa yang harus aku katakan padanya. Mati aku, matilah aku. Kebohongan apa lagi yang harus aku katakan padanya.
Oh my God, bagaimana ini....?