SKAKMAT

SKAKMAT
Rencana Kepindahan


__ADS_3

"Regina, mau apa kamu ke sini....?"


Setelah bel apartemen mereka berbunyi, Bastian bergegas menuju pintu, untuk memastikan siapa yang datang bertamu pagi itu.


Setelah ia membuka pintu, ia mendapati Regina sedang berdiri di depannya. Ternyata yang datang adalah wanita itu lagi, mantan kekasihnya.


Wanita itu tampak berantakan, dengan rambut yang sama sekali tidak disisir dengan rapi. Ditambah dengan penampilannya yang berbanding terbalik ketika mereka masih pacaran dulu.


Ini mungkin karena, Regina telah menjadi seorang ibu. Penampilan terkadang menjadi nomor terakhir dalam daftar prioritas mereka. Yang paling utama adalah anak, anak dan anak terus.


Tanpa aba-aba, Regina dengan cepat memeluk Bastian. Ia kemudian menangis, menumpahkan segala hal yang ia rasa, beberapa hari terakhir ini. Bastian yang belum siap dengan situasi itu terlihat mematung. Mencoba berpikir sejenak, agar ia dapat menentukan tindakan selanjutnya.


"Bas, tolong selamatkan aku dari Def...!" ujar Regina di sela-sela tangisnya.


"Aku takut Bas, aku sangat takut sekali...." imbuhnya lagi


Mendengar itu Bastian dengan cepat memahami apa tujuan kedatangan Regina. Sebelum Amanda datang dan melihat mereka, ia harus melepaskan diri dari pelukan wanita itu.


"Bas...." ujar Amanda lagi sambil masih terus menangis di hadapan Bastian. Ia kemudian menceritakan apa yg ia alami beberapa waktu lalu, ketika ia bertemu dengan Def mantan suaminya


.


.

__ADS_1


.


Amanda mendengarkan dengan seksama semua penjelasan suaminya, tentang kedatangan Regina tadi.


"Aku tidak mengerti mengapa dia selalu saja melibatkan aku dalam setiap masalahnya. Padahal aku dan dia sudah bukan siapa-siapa lagi," keluh Bastian


"Maaf ya, Manda. Jika semua ini membuatmu menjadi tidak nyaman," ujarnya lagi


"Iya, Bas, tidak apa-apa. Aku percaya sama kamu....!" jawab Amanda sambil tersenyum tulus pada suaminya.


"Terimakasih ya.....!"


Keduanya menghabiskan akhir pekan mereka dengan di rumah saja. Ini sudah menjadi kebiasaan keduanya. Mungkin karena aktifitas kantor yang begitu banyak, membuat keduanya enggan untuk pergi kemana-mana. Berdiam diri di apartemen, sambil mengobrol ringan, perihal kerjaan atau hal-hal lainnya.


"Hm.....? Kamu serius....?" jawab Amanda sedikit kaget


"Lalu, kita nanti tinggal dimana....?" ujarnya lagi


"Kita pindah saja ke rumah Ayah. Atau kalau kamu mau, kita beli apartemen lagi atau rumah baru, tidak masalah," ujar Bastian menjelaskan


"Bagaimana...?"


"Aku takut, bagaimana jika Regina berbuat jahat padamu. Dari awal kita sudah mengatakan padanya, kalau kamu adalah sepupuku. Dan tadi ketika ia datang, ia melihatmu lagi,"

__ADS_1


"Kamu melihat sendirikan, reaksinya, dia curiga dengan hubungan kita," tutur Bastian panjang lebar


Amanda mengangguk, ia sangat setuju dengan pemikirian suaminya. Bukan hanya Regina, setiap orang juga pasti akan tidak percaya, jika mereka adalah sepupu. Ditambah lagi, mereka tinggal di dalam apartemen yang sama.


"Eeem, kamu benar Bas....!"


"Bagaimana kalau kita pindah ke rumah Ayah saja. Sembari kita memantau kondisi mereka,"


"Ayah dan Ibu sudah tidak muda lagi, Bas, mereka pasti membutuhkan kita,"


Bastian setuju dengan ide istrinya. Dengan tinggal bersama orang tua, ia bisa memantau kondisi keduanya. Memastikan segala yang mereka butuhkan terpenuhi.


"Tapi, Manda....?"


"Bagaimana jika Ibu bertanya perihal kehamilan kamu seperti waktu itu...?" tanya Bastian.


Sebenarnya ini adalah hal yang selalu menjanggal pikirannya. Ia tidak mau Amanda merasa tertekan dan terbebani.


"Aku tidak apa-apa, Bas...! Sudah sewajarnya Ibu berkata seperti itu,"


"Kita juga sudah berusaha. Ya, mungkin belum waktunya, untuk aku menjadi seorang ibu," tutur Amanda tegar


"Iya, Manda. Aku mengerti....! Kita berjuang sama-sama ya....!" ujarnya sambil memeluk istrinya

__ADS_1


^^^


__ADS_2