SKAKMAT

SKAKMAT
Bingung


__ADS_3

"Amanda, proyek pembangunan apartemen elit di Kota X sudah mulai ada kemajuan," ujar Ella memulai penjelasannya


"Pak Billy, memintamu bersamanya untuk memantau langsung di lapangan, bagaimana perkembangannya," lanjutnya


Amanda menyimak penuturan Ella. Keluar kota untuk urusan bisnis, bukanlah hal baru baginya. Akan tetapi sepertinya, kali ini tampak rumit. Kenyataan bahwa ia sudah menikah, tentu kemana ia pergi, ia harus meminta izin suaminya. Bagaimana ia harus menjelaskan masalah ini. Bastian saja masih marah padanya.


"Tidak bisakah itu di wakili saja Ella?" tanya Amanda


"Maksud kamu?" imbuh Ella bingung


"Kamu tahukan aku sudah menikah. Aku butuh alasan untuk meminta izin pada Bastian," jelas Amanda


"Tidak bisa Amanda. Pihak dari Senada Group, meminta kau yang harus terjun lapangan," jawab Ella


"Apa yang harus aku katakan padanya. Dia saja masih marah padaku," ujarnya lagi dengan nada frustasi


Dalam situasi sulit seperti ini, bolehkah dia memilih lagi? Memilih untuk tidak menikah, bahkan jika ia diizinkan untuk meminta lebih, ia tidak ingin merahasiakan siapa dirinya pada Bastian.


"Apa kamu tidak punya keinginan untuk jujur pada Bastian saja, Manda?" tanya Ella


"Jika kamu terus merahasiakan semuanya padanya, mungkin akan muncul masalah-masalah baru yang akan lebih rumit dari ini," ucap Ella lagi

__ADS_1


"Aku belum berpikir sejauh itu Ella. Aku juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskan padanya. Belum saatnya dia tahu siapa aku,"


"Lalu sampai kapan kau terus berbohong? Kamu pikirkan baik-baik semuanya. Jangan sampai ia mengetahuinya lebih dulu. Apalagi jika ia mengetahuinya dari orang lain,"


Amanda tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ella. Bukannya memberi saran yang baik, malah membuat ia semakin terjerumus dalam dunia kebingungan.


***


Amanda memilih untuk pulang lebih awal hari ini. Melimpahkan seluruh urusan perusahaan pada Ella. Ia berencana untuk menyiapkan malam untuk Bastian, sebelum lelaki itu pulang. Semoga saja Bastian tidak marah padanya, dengan demikian peluang untuk ia meminta izin akan lebih besar.


Hari sudah mulai malam. Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Di jam ini, biasanya waktu Bastian pulang kerja. Saat Amanda sedang menata makan malam mereka, tampak sosok lelaki yang ia tunggu dari balik pintu. Dengan senyum penuh terukir di wajahnya, Amanda bergegas menyambut suaminya.


"Kau sudah pulang Bastian, kau pasti sangat lelah. Mandilah, aku akan menunggumu. Aku sudah menyiapkan makan malam," ujar Amanda penuh semangat


"Huh, terus saja sepeti itu. Tidak ada manis-manisnya pada istrinya," ucap Amanda pada dirinya sendiri


"Kalau tahu dia masih marah, aku tidak akan bersusah-susah pulang lebih awal, hanya untuk menyiapkan makan malam untuknya," ujarnya lagi


***


Amanda sedang menunggu suaminya di meja makan. Harap-harap cemas, semoga lelaki itu, mau makan bersamanya kali ini.

__ADS_1


Tak lama kemudian, yang ia tunggu akhirnya datang. Masih dengan muka datar tanpa ekspresi, Bastian mendudukan tubuhnya di kursi. Biasanya ia akan menunggu Amanda mengambilkan makannya. Namun, karena ia sedang berpura-pura marah, ia mengambil sendiri makanannya, untuk menyempurnakan perannya


"Biar aku saja Bas," ujar Amanda menahan Bastian


"Tidak perlu, aku bisa sendiri," ujarnya tidak peduli


"Tapi, Bas---,"


"Kamu mau aku makan atau tidak," ujar Bastian sedikit meninggi. Ia sama sekali tidak memberi Amanda kesempatan untuk bicara


Baiklah lebih baik Amanda diam. Membiarkan Bastian berbuat sesukanya saja. Mereka menyantap makan malam mereka dalam hening. Tak ada satupun yang berniat memulai pembicaraan.


----------------------------------


Hallo readers...


Terimakasih telah membaca ceritaku, semoga ini bisa mengisi waktu luang kalian. Terus dukung author, dengan memberi komentar2 yang membangun. Jika kalian suka, like cerita ini dan juga vote author dengan koin atau poin ya..


Tetap semangat dan jaga kesehatan, dan tetap di rumah aja


Wish you happiness....

__ADS_1


Nit


__ADS_2