
"Sudah jangan bersedih, semua orang pasti pernah jatuh, bukan? Itu, janganlah menjadi alasan untuk kita tidak ingin maju. Waktu terus berjalan, dan kita juga harus terus melanjutkan hidup," ujar Bastian tulus, sambil menggenggam tangan istrinya. Ia berjanji dalam hati, akan membahagiakan wanita itu
"Terimakasih Bas. Aku juga sedang berusaha untuk melupakan yang sudah terjadi,"
"Memang sudah seharusnya begitu,"
Saat Amanda hendak beranjak dari duduknya, tiba-tiba Bastian menahan tangannya. Membuatnya kembali duduk, menunggu apa yang akan di lakukan pria itu selanjutnya.
"Ada apa?" tanya Amanda
"Aku punya sesuatu untuk kamu," sambil menyerahkan sebuah paperbag kecil ke arah Amanda
"Apa ini?" tanya gadis itu bingung
"Bukalah, semoga kamu menyukainya," ujar Bastian sambil tersenyum
Tampak ada dua buah kotak kecil dalam paperbag itu. Di kemas dengan begitu rapi, tampak begitu manis di pandangan Amanda. Tak ingin berlama-lama, ia membuka kotak pertama, seketika matanya berbinar terang. Senyum yang begitu manis tampak di wajah cantiknya, sepertinya ia menyukai hadiah itu. Bastian memandangi reaksi istrinya, menyimpannya di memorinya.
__ADS_1
"Ini indah sekali Bas. Gantungan handphone ini, ya Tuhan aku sangat menyukainya. Darimana kau tahu kalau aku menyukai hal-hal seperti Bas?" tanya Amanda penuh semangat
"Syukurlah jika kamu menyukainya. Aku pernah tidak sengaja masuk ke kamarmu. Memandangi benda-benda milikmu di sana, aku langsung menyimpulkan jika kamu menyukai hal-hal yang imut, lucu dan sederhana," ujar Bastian menjelaskan.
"Aah maafkan aku jika aku melakukannya tanpa seizinmu," ujar Bastian linglung, sambil menggaruk kepalanya
"Aaah baiklah tidak masalah, perbuatanmu aku maafkan karena benda mungil ini," ujar Amanda sambil terus memandangi gantungan handphone itu tanpa berkedip. Benda itu bentuknya seperti berlian berwarna biru langit, tampak berkilau menampilkan keindahan. Amanda begitu menyukainya, apalagi ia sangat menyukai warna biru
"Hei, kau jangan melupakan kotak yang satu lagi Manda. Aku yakin kau pasti menyukainya juga,"
"Ah iya, aku hampir saja melupakannya Bas,"
"Ini indah sekali Bastian, bagaimana bisa kau tahu hal-hal yang aku sukai. Kau baik sekali Bas,"
"Itulah hebatnya suamimu ini. Aku mengetahui semua yang kamu sukai,"
"Benarkah? Tapi kau tidak perlu memberikan ini untukku Bas. Aku tidak ingin merepotkanmu,"
__ADS_1
"Hei, aku ini suami kamu. Tidak salah jika aku memberikan hadiah untuk istrikukan? Selama pernikahan kita, aku tidak pernah memberikanmu sesuatu"
"Terimakasih Bastian, kau baik sekali padaku. Tapi sepertinya aku akan menyimpannya saja. Aku tidak terbiasa memakainya di keseharian. Apa tidak apa-apa?"
"Tidak masalah Amanda, yang penting kamu menyukainya, itu sudah cukup bagiku,"
"Aku akan membalas kebaikanmu Bas. Aku janji akan memberikanmu sesuatu juga"
"Hei jangan. Tidak perlu melakukan itu Manda. Jangan merepotkan dirimu," tolak Bastian. Ia tahu istrinya yang hanya sebagai karyawan biasa di Oportunity Group itu, pasti akan kerepotan jika harus memberikannya hadiah juga
"Tidak Bas, aku juga ingin memberi sesuatu kepada suamiku," ujarnya sambil tersenyum
"Aku tidak ingin kau kesusahan Manda,"
"Tidak Bastian, ayolah ku mohon,"
"Baiklah lakukan yang kau mau. Tapi jangan kau paksakan dirimu Manda. Aku hanya ingin kau tetap disini bersamaku, itu sudah lebih dari cukup untukku,"
__ADS_1
Kau begitu menawan ketika tersenyum Manda, tetaplah seperti ini untukku. Aku berharap, perlahan tertulis namaku di hatimu. Aku ingin kau mencintaiku juga. Tidak masalah aku harus berjuang dahulu, aku akan memulai mencintaimu lebih dulu