
Setelah sekian lama keduanya terdiam, akhirnya Amanda memulai pembicaraan. Ia sudah tidak ingin lagi membahas soal pertengkaran mereka. Ia hanya fokus, pada rangkaian alasan kepergiannya ke luar kota esok hari.
"Bas, ada hal yang ingin aku bicarakan," ucap Amanda hati-hati
Lelaki itu sama sekali tidak bergeming, tidak peduli dengan apa yang akan istrinya sampaikan. Ia terus fokus menikmati makan malamnya.
"Bastian, tidak bisakah kamu mendengarku sebentar saja?" ucap Amanda setengah berteriak. Ia sudah cukup kesal dengan tingkah suaminya ini
Itu cukup mengundang perhatian Bastian, masih dengan wajah tanpa ekspresi, ia menatap Amanda
"Heh, yang mendengarkan itu telinga, bukan mata ataupun mulut," ucapnya kemudian
"Tidak bisakah mulutmu itu berbicara saja. Aku ini sedang makan, kau mengganggu saja," ujarnya marah
Dia masih saja marah padaku, dia cukup pendendam ternyata. Kalau seperti ini, bagaimana aku meminta izin, batin Amanda
__ADS_1
Amanda tidak memiliki waktu banyak. Besok ia harus pergi keluar kota. Ia akhirnya mengambil kesimpulan, meminta izin saja. Di izinkan atau tidaknya ia tidak peduli.
"Bastian, besok aku akan keluar kota. Ada pertemuan perusahaan yang harus aku hadiri," ucapnya memulai
"Eem, bukan hanya aku saja yang pergi. Ada karyawan yang lain juga. Apa aku boleh pergi?" tanya Amanda
Amanda mulai jengah. Melihat suaminya yang tidak mengacuhkannya, membuatnya jengkel. Apa yang ada di kepala lelaki ini. Dan mengapa Amanda tampak seperti orang bodoh di dekatnya. Ternyata pilihannya untuk menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya, adalah pilihan yang salah. Ia seharusnya tidak di perlakukan seperti ini oleh siapapun. Ia seharusnya di hormati, di segani juga di hargai. Ia tampak tidak berarti di hadapan lelaki itu.
"Bastian, kau itu manusia atau bukan? Tolong kamu hargai aku sedikit saja. Aku sedang bicara padamu," ujar Amanda mulai marah
"Kau saja tidak pernah menghargai keberadaanku. Kamu kini tahukan bagaimana rasanya tidak dianggap oleh orang lain," ujarnya lagi.
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa ia cerna terlebih dahulu. Ini bukan keinginannya, harusnya tidak seperti ini. Ia menyesali perkataannya. Ia hanya memberi sedikit pelajaran pada Amanda. Namun tampaknya ia sudah melebihi batasannya.
"Kau selalu saja mengungkit masalah yang telah berlalu, Bastian. Siapa yang tidak menghargaimu. Kejadian kemarin itu hanyalah salah paham," ucap Amanda. Ia masih bisa menguasai dirinya.
__ADS_1
"Lagi pula, aku sudah menjelaskan semuanya padamu. Aku juga sudah meminta maaf. Kamu yang tidak pernah menghargai aku disini," ucap Amanda lagi
Ia diam sejenak, lalu berbicara lagi.
"Aku menyerah Bastian. Aku sudah berusaha meminta maaf. Namun, jika itu belum cukup bagimu, terserah. Aku tidak peduli,"
Setelah berkata demikian, Amanda meninggalkan suaminya yang sedang diam seribu bahasa. Entah apa yang ada di kepala lelaki itu, Amanda tidak tahu. Amanda tidak ingin ambil pusing. Mengenai kepergiaannya keluar kota, ia sudah mengambil keputusan. Ia akan pergi, meskipun lelaki itu tidak memberinya izin.
***
Keesokan harinya, Bastian sudah berpakaian rapi hendak berangkat ke kantor. Rencananya pagi ini, ia akan meminta maaf pada istrinya. Sepertinya tindakannya untuk berpura-pura marah, tidak membawa dampak positif bagi hubungan mereka.
Dapur tampak kosong. Tidak ada istrinya disana. Di meja makan juga belum tersedia makanan satupun. Bastian heran, tidak biasanya istrinya seperti ini. Atau jangan-jangan Amanda sakit? Pikiran Bastian menjadi kemana-mana.
Tiba-tiba, Amanda muncul dari balik pintu kamar pribadinya. Wanita itu tidak terlihat mengenakan pakaian kantor. Ia tampak mengenakan pakaian santai, di tambah dengan sebuah koper yang tidak terlalu besar di tangannya. Sontak saja bola mata Bastian membulat sempurna.
__ADS_1
Apa yang ia lakukan? Dia ingin pergi dari rumah? Hanya gara-gara pertengkaran kemarin? Yang benar saja ini.