
Di sebuah clup malam, Bastian dan teman-temannya sedang berkumpul membicarakan hal-hal yang tidak berfaedah. Entah itu tentang gadis yang mereka tiduri atau gadis mana yang akan mereka ajak bermain di atas ranjang malam ini.
Itu bukanlah hal yang baru bagi Bastian. Menghabiskan malam yang panjang bersama dengan para wanita. Namun malam ini, ia sama sekali tidak tertarik untuk itu.
Pikirannya melayang jauh pada perempuan berwajah dingin yang baru beberapa hari ini ia nikahi secara paksa. Siapa gadis itu sebenarnya, mengapa ia seperti dua orang yang berbeda. Saat pertama kali mereka bertemu, gadis itu tampak begitu berantakan. Ia masih bisa melihat ketakutan di sorot mata gadis itu.
Di malam pertama pernikahan mereka, ia melihat dengan jelas bagaimana gadis itu menangis dan kesakitan karena ulahnya. Namun, bagaimana bisa gadis itu berubah menjadi dingin. Sorot matanya yang tajam menyembus bagian terdalam hatinya. Terus memikirkan gadis itu membuat kepalanya pusing.
Ia kemudian berpikir, jangan-jangan gadis itu berada disini. Apa ia mencarinya saja. Tapi bukankah ia tidak mau peduli dengan gadis itu? Bastian pusing dengan pikirannya sendiri. Sudah sekitar lima kaleng bir memenuhi tenggorokannya. Dentuman musik membuatnya semakin pusing. Namun ia berusaha menguasai dirinya
"Bas kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan? Irfan bertanya pada Bastian
"Aku juga tidak tahu, akhir-akhir ini aku banyak pikiran Fan," imbuh Bastian
"Hahahah, itu berarti kau perlu belaian dan pelepasan Bas. Udalah santai saja. Nikmati waktunya malam ini. Sepertinya malam ini banyak gadis cantik disini. Kau pilihlah salah satu, Bas" ucap Irfan memprovokasi pikiran Bastian
__ADS_1
Pengaruh alkohol yang cukup kuat membuat Bastian tidak bisa berpikir dengan normal. Ia lalu beranjak pergi meninggalkan Irfan dan menarik salah satu gadis untuk menghangatkan ranjangnya malam ini. Entah karena alkohol atau karena ia sedang memikir istrinya, ia melihat gadis itu mirip sekali dengan Amanda istrinya. Tanpa sadar ia lalu berteriak memanggil nama gadis itu
"Amanda, ini kau Amanda. Sayang kau cantik sekal, kau sungguh menggoda. Layani aku malam ini, layani suamimu" ucap Bastian.
Ia sama sekali tidak sadar akan apa yang ia lakukan. Pikirannya terus melayang memanggil nama gadis itu
***
Setelah malam yang panjang dan panas, Bastian terbangun. Ia menyadari dirinya, tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Ia melihat di sampingnya seorang wanita sedang terlelap. Sama sepertinya dirinya, tidak mengenakan apa-apa. Ia sedikit kaget, ternyata wanita itu bukanlah Amanda istrinya.
Apa yang terjadi pada istrinya itu, bagaimana jika istrinya mengadukannya pada orang tuanya. Ayahnya pasti akan marah besar. Tidak, ia tidak boleh panik. Ia harus terlihat baik-baik saja. Ia langsung mengambil pakaiannya dan mengenakannya, kemudian meninggalkan gadis itu. Ia tidak memikirkan apapun, yang ia pikirkan hanyalah istrinya, dan nasibnya sendiri. Ia bergegas menuju mobilnya, sambil mencoba menelpon ayahnya Ardi Fernando
"Hallo Ayah...," ucapnya Bastian setelah panggilan itu tersambung
"Hallo Bas, ada apa? Apa kau baik-baik saja, bagaimana istrimu nak? Kapan kalian akan mengunjungi kami. Ibumu sudah merindukan menantunya," ucap Ardi beruntun sambil tertawa
__ADS_1
Sejenak Bastian mencerna ucapan ayahnya. Ia menyimpulkan satu hal Amanda tidak ada disana. lalu kemana wanita itu. Aaah ia semakin panik
"Aah ia Ayah kami baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkan kami," ucapnya.
"Bas hanya sekedar ingin tahu kabar Ayah dan Ibu," ucapnya lagi
"Kami baik-baik saja nak. Jaga dirimu dan istrimu ya. Sampaikan salam Ayah dan Ibu padanya," ucap Ardi
***
Bastian kemudian melajukan mobilnya menuju apartemennya. Perasaannya tidak karuan, hatinya kacau balau. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Wajah Amanda terus menari-nari di kepalanya. Kemana istrinya, dimana ia tidur semalam.
Bagaimana jika wanita itu kenapa-kenapa. Bastian sungguh sangat panik. Meskipun ia tidak mencintai Amanda, tapi gadis itu adalah tanggungjawabnya selama ia menjadi suaminya. Bastian menyalahkan dirinya andai saja ia tidak minum terlalu banyak, mungkin saja ia bisa pulang dan menunggu istrinya. Bisa jadi wanita itu kembali ke apartemennya, menunggunya membuka pintu. Aaah, Bastian frustasi
Sesampainya di apartemennya, ia langsung berlari memandangi sekelilingnya. Tidak ada jejak istrinya. Ia kemudian menghubungi security yang berjaga disitu. Bertanya apakah ia melihat istrinya semalam. Namun hasilnya nihil. Ia semakin panik. Dimana istrinya.
__ADS_1
Ia pun kembali ke apartemennya, berusaha menenangkan diri. Ia merebahkan dirinya, ia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Baiklah ia akan tidur dulu, memulihkan tenaga dan pikirannya. Mungkin nanti istrinya akan kembali.