
Jeon Jung Kook baru saja menyelesaikan tugas tugas kantornya, diambilnya jas abu abu yang tadi ditempatkannya pada sandaran kursi kerjanya, ia menjadi sangat tak sabaran untuk datang kerumah sakit begitu Park Jimin mengatakan kalau Lee Ha Na ada disana.
Sebenarnya sudah hampir sebulan belakangan ia mencoba mencari tahu keberadaan Lee Ha Na tapi ia tak mendapatkan hasil apapun, entahlah apa yang membuatnya begitu penasaran terhadap Lee Ha Na.
Sepanjang perjalan Jeon Jung Kook hanya bisa bertanya tanya pada dirinya sendiri, bagaimana bisa Park Jimin dekat dengan Lee Ha Na?, apakah Jimin telah berhasil mendapatkan cinta Lee Ha Na?, ahhhh, membayangkan hal itu membuat dadanya terasa sesak sendiri tanpa sebab.
Mobil hitam dengan plat khusus keluarga Jeon itu melaju dengan begitu cepat di jalanan kota yang begitu ramai, handal sekali Jeon Jung Kook mengemudikan mobilnya.
Tak butuh waktu yang lama bagi Jeon Jung Kook untuk sampai di rumah sakit tempat Ha Na dirawat, ia bahkan sudah berada tepat depan ruangan yang dimaksud Jimin.
"Ah, benar ini nomor yang sama" Jung Kook memperhatikan lagi kesamaan nomor ruangan yang tertulis pada pintu dengan yang dikirimkan Jimin padanya.
Tanpa menunggu lama ia dengan segera membuka pintu itu, ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Kim Nam Joon dan Kim Eun Seo, kedua kakak adik itu tertidur saling bersender di sofa tunggu, dan Jimin sedang tertidur di kursi tepat sebelah bed dimana Ha Na terbaring, dan Jimin menggenggam dengan erat tangan Lee Ha Na, melihat hal itu hati Jeon Jung Kook terasa begitu sakit, kenapa bisa ia merasa begitu sakit?.
Menyadari kehadiran seseorang membuat Lee Ha Na menoleh tepat pada pintu, didapatinya Jeon Jung Kook yang sedang berdiri mematung melihat kearah mereka. Ada apa dengan Jeon Jung Kook?, kenapa ia menatap seperti tidak suka?.
"Tuan Jeon kau sudah datang?" tanya Ha Na dengan senyum yang dibuat buat, padahal hatinya terasa begitu sakit karena Jeon Jung Kook melihatnya dalam keadaan seperti itu, Lee Ha Na pasrah pada kenyataan, ia yakin jika Jimin dan Nam Joon tidak akan bercerita soal hubungannya dan tuan Jeon Jung Sik, bukankah mereka sudah berjanji pada Lee Ha Na untuk merahasikan hal itu.
"Selamat malam Lee Ha Na, kau baik baik saja?" Jeon Jung Kook mencoba bertanya dengan nada yang dibuat seolah biasa biasa saja.
Belum sempat Lee Ha Na menjawabnya Park Jimin terbangun, dilepasnya gengaman tangannya pada tangan Lee Ha Na.
"Jeon kau sudah tiba?" tanya Jimin yang masih mengantuk sambil mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Baru saja, apa yang sebenarnya terjadi?" Jeon Jung Kook penasaran.
"Akan aku ceritakan, bagaimana kalu kita bicara di kantin saja?, aku butuh kopi untuk menghilangkan kantukku"
"Baiklah, sepertinya aku juga membutuhkan sesuatu yang menyegarkan"
"Ha Na kami pergi keluar sebentar, jika kau butuh sesuatu bangunkan mereka" Jimin menunjuk kearah kakak adik yang sedang tertidur itu.
"heem, kalian pergilah" jawab Ha Na. Kemudian Jeon Jung Kook dan Park Jimin keluar dari sana.
***
Kedua manusia tampan bak mahakarya yang sempurna itu duduk saling berhadapan di kantin rumah sakit, hari yang masih hujan membuat suasana diantara keduanya menjadi semakin dingin.
"Aku penasaran bagaimana bisa kau menjaga Lee Ha Na yang sedang sakit?" tanya Jeo Jung Kook langsung pada Jimin.
"Kesalahanmu?, memangnya kau bikin masalah apa padanya?" Penasaran Jung Kook makin menjadi jadi.
"Pada awalnya karena aku yang begitu penasaran dan begitu menyukainya aku meminta anak buahku untuk menculik Lee Ha Na, dan pada akhirnya aku menghancurkan masadepannya"
"Menghancurkan masadepannya?, maksudmu apa?" Jeon Jung Kook merasa penjelasan Jimin terlalu ambigu untuk dipahami.
"Cinta membuatku hilang akal, aku jadi tidak bisa mengendalikan emosiku hingga akhirnya aku menidurinya" Jimin menyesal.
Deg....
__ADS_1
Jantung Jeon Jung Kook serasa berhenti ketika mendengarkan penjelasan sahabatnya, apa yang salah padanya?.
"Jadi kau?" tanya Jung Kook berhenti.
"Ya, pada awalnya Lee Ha Na sempat ingin bunuh diri karena kesalahanku, dan akupun begitu, karena aku sangat menyesal tidak bisa menjaga Lee Ha Na dari ulahku sendiri aku juga sempat ingin mengakhiri nyawaku, kalau saja Nam Joon tidak datang diwaktu yang tepat mungkin kami berdua sudah akan mati" terang Jimin tampa menyembunyikan fakta tentang kesalahnnya.
Putus sudah harapan seorang Jeon Jung Kook untuk bisa mengejar Lee Ha Na, ia tidak menyangka jika sahabatnya benar benar menyukai Lee Ha Na, padahal dulu ia hanya mengira jika Park Jimin hanya sekedar bercanda saja.
"Awalnya kami membuat perjanjian, jika Lee Ha Na hamil aku akan bertanggung jawab atas dirinya, tapi hari ini kami mendapatkan jawabannya, aku tidak harus bertanggung jawab terhadapnya karena Lee Ha Na baru saja, ah, maksudku kami baru saja kehilangan calon bayi kami" Jimin melanjutkan lagi ceritanya.
"Tapi kenapa kau tidak menikahinya saja langsung tuan Park?"
"Tidak, Lee Ha Na belum bisa menerima diriku sepenuhnya, tapi aku akan terus mencoba dan berusaha untuk menjadikannya istriku" jawab Jimin optimis sambil menyeruput Coffelatte miliknya.
Jeon Jung Kook merasa sedikit punya harapan mendengar ucapan Park Jimin yang terakhir, walaupun demikian ia tidak akan mengatakan pada sahabatnya kalau ia juga menyukai Lee Ha Na, ia tidak ingin terang terangan bersaing dengan sahabatnya sendiri.
"Aku turut bersedih karena kau telah kehilangan calon penerusmu tuan Park" ucap Jung Kook, entah ia benar benar bersedih atau sekedar basa basi pada Park Jimin.
Jimin hanya bisa tersenyum getir, ia sangat terpukul tapi ia juga tidak tahu harus berbuat apa.
Semua yang ia ceritakan pada Jeon Jung Kook adalah fakta walaupun ada rahasia yang masih belum mungkin untuk ia ceritakan, karena ia sudah berjanji pada Lee Ha Na untuk merahasikannya.
************************************
LOVE LOVE
__ADS_1
Author: Ameera Limz