
Lee Ha Na tengah mencoba dress berwarna hitam tanpa lengan yang diberikan oleh Kim Eun Seo sebagai hadiah ulangtahunnya. Dress itu terlihat begitu pantas ditubuh Ha Na, semakin menambah pesona kecantikannya.
"Eoh, ini sangat cantik, tapi.... apa ini tidak terlalu terbuka?" tanya Ha Na pada dirinya sendiri sambil memandang pantulan dirinya pada cermin yang ada dikamar mandi hotel.
Lee Ha Na memang seorang model, namun ia tak lantas terbiasa menggunakan dress yang sedikit terbuka tanpa lengan seperti itu, baginya pakaian ternyaman adalah dress yang berlengan panjang.
Tok.. Tok.. Tok..
Lee Ha Na bisa mendengar dengan jelas suara pintu kamarnya diketuk dari luar. Kemudian ia bergegas hendak mencari tahu siapa gerangan yang telah mengetuk pintu kamarnya ditengah malam seperti itu.
"Siapa yang bertamu dimalam hari?, tidak mungkin jika pelayan hotel, ini sangat tidak sopan" Lee Ha Na sedikit menggerutu namun ia masih saja menuju pintu untuk membukanya.
"Park Jimin?, kau kenapa?, kau baik baik saja?" tanya Lee Ha Na panik ketika menemukan Park Jimin dalam keadaan yang cukup menghawatirkan. Sedikit lebam berada di tepi bibir sexynya dan sedikit luka ada pada pelipis kanannya.
Jimin hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Lee Ha Na yang tengah menghawatirkan dirinya.
"Kau mabuk?" Lee Ha Na bisa mencium bau Anggur yang tersisa pada tubuh Jimin.
"Tidak, aku tidak mabuk" jawab Park Jimin dengan sedikit melantur menandakan kalau ia benar benar mabuk.
"Tidak apanya?, jelas jelas kau mabuk seperti ini"
Park Jimin hampir saja jatuh tersungkur didepan pintu kamar Lee Ha Na, mabuk Anggur membuatnya oleng tak bisa mengendalikan diri. Untung saja Lee Ha Na dengan segera menangkapnya sehingga posisi kepala Park Jimin menyender pada bahu Lee Ha Na melalui ceruk lehernya. Hingga posisi itu seolah mereka sedang berpelukan.
"Kau sangat merepotkan" kesal Ha Na, namun ia tidak begitu saja membiarkan Park Jimin. dibawanya tubuh Jimin masuk kedalam kamarnya kemudian menempatkannya keatas ranjang.
Lee Ha Na bangkit dari ranjangnya, niat hati ingin mengambil air dan handuk untuk menbasuh luka pada pelipis Park Jimin.
Grebbb...
Brughhh...
__ADS_1
Jimin menarik tubuh Lee Ha Na hingga terjatuh keatas tubuhnya yang kekar itu.
"Kenapa kau menggunakan pakaian seperti ini?" tanya Jimin dengan suara seraknya, "Apa kau sengaja ingin menggodaku eoh?"
Sial memang bagi Lee Ha Na, disaat ia sedang menggunakan pakaian seperti itu kenapa Park Jimin datang dengan kondisi mabuk. Ini bisa saja menjadi sumber masalah.
"Aku hanya mencobanya saja, akan kuganti" Lee Ha Na bangkit dari atas tubuh Park Jimin.
"Jangan..., biarkan saja, aku suka melihatmu dengan pakaian itu" Park Jimin tersenyum menyeringai ditengah mabuknya. Namun Ha Na kekeuh untuk mengganti lagi pakaiannya.
"Sudah kukatakan tidak perlu" Jimin kembali menarik Lee Ha Na hingga kembali terjatuh diatasnya, posisi wajah keduanya saling berhadapan dengan begitu dekat, masing masing dari mereka bisa mendengar deru nafas yang memburu dan detak jantung yang tak beraturan. Sungguh itu menggelitik hasrat seorang Park Jimin yang maniak sex.
"Lepaskan aku Park Jimin"
"Emhh...., aku tidak mau" Park Jimin justru melingkarkan kedua tangannya kebalik tubuh Ha Na, menarik tubuh ramping itu kian dalam berada dipelukannya.
"Sebaiknya kau bersihkan tubuhmu Park Jimin, kau bau Anggur" keluh Lee Ha Na, entah kenapa ia begitu tidak suka pada bau Anggur.
"Apa yang kau lakukan brengsek" Ha Na memukuli dada bidang dan kekar Park Jimin. Dan sedetik kemudian bibir basah keduanya saling bertemu. Bahkan dalam kondisi yang setengah sadar saja Park Jimin masih candu pada setiap bagian tubuh Lee Ha Na, Jimin mencoba memperdalam ciumannya pada Lee Ha Na. Dan siapa yang mengira jika Lee Ha Na akhirnya menggigit bibir sexy Park Jimin hingga lelaki tampan itu melepas ciumannya.
"Brengsek kau Park Jimin, aku sedang berusaha menolongmu yang sedang mabuk tapi sempat sempatnya kau berlaku seperti ini padaku?" Ha Na menjauhkan kepalanya meski tubuhnya masih ditahan oleh kedua tangan Park Jimin.
Klik...
Park Jimin mematikan lampu penerangan yang ada di atas meja disisi ranjang dengan sebelah tangannya.
"Akhhhhh... gelap, apa yang kau lakukan bodoh?" Ha Na berteriak, pasalanya penyakit Nyctophobiannya masih belum hilang, ia masih sering takut saat berada dalam kegelapan.
"Tenanglahhhh, aku ada disini" Sekarang tidurlah, aku ingin tidur, aku sangat lelah" Pinta Park Jimin dengan suara yang kian pelan.
"Lepaskan aku dulu"
__ADS_1
"Tidak, aku suka seperti ini, kau tenanglah aku tidak akan berbuat lebih lagi" Park Jimin menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua. "Kecuali jika kau yang ingin lebih dari ini" lanjut Jimin, ia tersenyum dengan mata yang terpejam.
"Tidurlah...., aku lelah" bisik Jimin pada telinga Ha Na, dan kemudian terlelap.
Lalu Lee Ha Na juga ikut terlelap dalam pelukan Park Jimin, tak ada yang mereka lakukan malam itu selain tidur dalam posisi Jimin memeluk tubuh Ha Na, bagi Jimin tubuh itu terasa begitu nyaman. Terlebih lagi disaat pikirannya kacau seperti itu justru Lee Ha Na lah yang jadi obat mujarab untuk mengurangi beban pikirannya.
***
Di lorong hotel ada Jeon Jung Kook yang memperhatikan Park Jimin yang masuk berasama Lee Ha Na kedalam kamar Ha Na.
Matanya memancarkan sebuah amarah, ia benci melihat itu.
"Tcihh, ternyata wanita itu murahan juga, lihatlah bagaimana ia membiarkan Park Jimin masuk kedalam kamarnya" Jeon Jung Kook memperhatikan Park Jimin yang tadi bersandar pada Ha Na. "Dia bisa mengambil kesempatan disaat mabuk sekalipun" Kemudian Jeon Jung Kook pergi meninggalkan hotel itu, ia pergi dengan amarah, ia cemburu, ia kesal, semua bercampur menjadi satu.
Seorang Jeon Jung Kook yang sedang berusaha untuk mendekati Lee Ha Na yang ia anggap wanita baik baik kemudian harus menelan pil pahit kekecewaannya, ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Ha Na membawa Jimin masuk kekamarnya.
Sepertinya Park Jimin tahu jika dari Club Malam tadi Jeon Jung Kook mengikutinya, ia lantas mencari akal agar Jeon Jung Kook menyerah untuk mengejar cinta Lee Ha Na, ia sengaja mengetuk pintu kamar Ha Na meski sebenarnya ia telah memesan kamar yang berbeda dengan Ha Na.
***
Dalam Keadaan yang setengah mabuk Jeon Jung Kook melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, memecah kesunyian jalanan malam kota New York. Ia membawa mobilnya tanpa arah dan tujuan pasti, sesekali ia sengaja memukul stir mobilnya dengan emosi mengingat kejadian yang ia lihat tadi.
Ia tidak menyangka jika akhirnya persahabatan antara ia dan Park Jimin harus menjadi renggang hanya karena wanita.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Vote, Like, Comment, Favorit ya guys 🙏🙏 biar akunya semangat up terus.
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz
__ADS_1