Still Loving You

Still Loving You
SEPI DAN HAMPA


__ADS_3

readers. Maafkan author yang up nya lama kayak keong. Karena author kerjaannya menumpuk. Kemaren sempat listrik padam lama banget sampe hp dan laptop author pada habis batre, jadi kerjaan banyak yang terbengkalai.


Author juga mau ngucapin Terima kasih banyak buat kalian yang dengan ikhlas menunggu cerita ini. dan Terima kasih juga atas Jempol dan Vote dari kalian. Semoga kalian gak kecewa dengan cerita ini 🙏🙏🙏


Purple U readers 😘😍💜


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Malam itu Lee Ha Na juga Park Jimin merasa puas. Keduanya telah berhasil menghancurkan dua orang penghianat sekaligus dalam satu waktu.


Mereka berharap setelah ini dua orang penghianat yang baru saja mendapatkan sebuah pelajaran akan menyesali perbuatan mereka.


Malam yang hujan. Cuacanya dingin menusuk kulit dan jalanan kota cukup licin. Park Jimin mengemudikan mobilnya dengan cukup santai karena ia tahu akan bahaya bagi mereka jika ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi seperti biasa.


Lee Ha Na yang duduk disamping Park Jimin hanya diam seolah memikirkan sesuatu.


"Kemana dia?. Kenapa belakangan ini aku benar benar tak melihatnya?. Bahkan ia tak lagi mengupdete kegiatannya di sosial media" Lee Ha Na masih saja tetap kepikiran pria bernama Jeon Jung Kook itu. Memang sangat sulit sekali untuk melupakan seseorang yang memang kita cintai meski telah berusaha begitu keras menghapusnya dari hati dan pikiran.


"Kau memikirkan apa?" tanya Park Jimin yang melihat wanita Lee itu diam sedang melamunkan sesuatu yang entah apa itu. "Apa kau menyesal setelah kita akhirnya berhasil memberi pelajaran pada dua penghianat itu?"


"Ah, tiadak. Aku tidak menyesal sama sekali. Bahkan aku masih ingin melihatnya berlutut didepan ibuku" Lee Ha Na menyunggingkan senyum pada salah satu sudut bibirnya yang cherry. Sedikit rasa puas setelah ia berhasil melakukan apa yang ia inginkan sejak bertahun tahun lalu. Kemudian wanita Lee itu merasakan sesuatu yang begitu bergejolak pada dirinya. Tiba tiba saja ia merasa sangat lapar dan sangat ingin memakan Tteokbokki yang sangat pedas. "Bisa kau berhenti ke restoran yang menjual Tteokbokki?" ia meminta Park Jimin untuk berhenti ditempat dimana ia bisa mendapatkan makanan pedas itu.


"Ada apa denganmu?. Tak biasanya kau mau memakan makanan pedas. Saat kita makan bersama aku tak pernah melihatmu makan sesuatu yang pedas" Park Jimin mencoba mengingat ingat kebiasaan makan Lee Ha Na.

__ADS_1


"Entahlah. Tapi kali ini aku sangat ingin. Dulu saat kecil ibu sering membawaku ke restoran Tteokbokki. Mukin saja aku rindu ingin mencicipi rasa makanan itu"


"Baiklah" mana bisa seorang Park Jimin menolak permintaan Lee Ha Na. Ia itu seperti budak cintanya Lee Ha Na. Tentu saja bukan Lee Ha Na yang membudaknya tapi ia yang dengan senang hati melakukan segalanya.


Tak lama kemudian mobil yang dikendalikan oleh lelaki Park berhenti tepat di depan restoran yang biasanya menjual Tteokbokki pedas. "Ayo turun" Park Jimin mbukakan pintu yang tepat disebelah tempat duduk Ha Na.


"Tidak, aku tidak mau" Lee Ha Na menggeleng. Ia ingin sekali makan tapi ia juga sangat malas menggerakkan tubuhnya. Ia masih bersender pada jok mobil dengan begitu malas.


"Kau bilang kau ingin makan. Sekarang kita sudah sampai. Ayo turun" dengan sabarnya Park Jimin menunggu Lee Ha Na untuk turun. Namun, wanita Lee masih saja enggan untuk turun dari mobil. Apa yang sebenarnya dipikiran wanita itu?. Ia ingin makan tapi tak ingin bergerak.


"Tidak. Bisakah kau mebelikannya untukku?. Aku malas sekali untuk keluar" pinta Ha Na dengan wajahnya yang dibuat seperti sedang memelas.


"Oke. Tunggulah disini" Park Jimin akhirnya mengalah. Ia mengira jika wanita Lee itu malas keluar karena tak ingin ada orang orang yang mengenalinya. Secara Ha Na bukanlah orang biasa lagi. Ia dikenali banyak orang.


"Apa dia mencoba mempermainkanku?" Park Jimin duduk dengan kesal dibalik kemudi mobilnya kemudian mulai mengemudi tanpa membangunkan Ha Na yang pulas dalam tidurnya. Selain fokus pada jalanan sesekali Park Jimin sengaja menoleh kesampingnya memperhatikan betapa tenangnya wajah cantik wanita disampingnya ketika tertidur. Melihat wajah tenang itu ingin sekali rasanya Park Jimin melakukan sesuatu. Ah..., entahlah sesuatu seperti apa yang sedang dipikirkannya.


***


Dibelahan bumi lain. Tepat di sebuah negara yang jauh dari Korea. Negara yang berselisih waktu dua jam dari waktu standar Korea. Lelaki dengan manik hazel bernama Jeon Jung Kook masih sibuk dengan pekerjaannya. Duduk pada balik meja kerja kebesarannya. Kesunyian dan kesepian adalah temannya.


Sepi merayapi hari hari Jeon Jung Kook dan Hampa mengerayangi hatinya. Meski ia dikelilingi oleh orang orang yang bekerja padanya tetap saja itu tak bisa menghibur dirinya yang hampa itu.


Belajar melupakan meski akhirnya ia menyerah karena tak bisa melakukannya. Mungkin ia hanya perlu ikhlas melepaskan. Ia hanya yakin jika ia akan bisa bahagia melihat wanita yang dicintainya bahagia. Ya, setidaknya itu adalah hiburan bagi dirinya sendiri agar tak lagi terlalu berharap untuk bisa bersama.

__ADS_1


Sesal. Tentu saja ia menyesal. Andai saja ia bisa bergerak lebih cepat dari sahabatnya. Andai saja ia lebih berani dan tak beku dengan sikapnya yang dingin mungkin ia bisa mendapatkan wanita cantik bermarga Lee tersebut.


Meski sesekali hatinya merasa kecewa dan serasa teriris bilah tajam yang membuat hatinya sakit karena wanita yang dicintainya adalah wanita yang dalam bahasa kasarnya adalah seorang simpanan dari kakak kandungnya.


"Menyedihkan sekali kau Jeon Jung Kook" lelaki Jeon itu menggumam meratapi nasib cintanya sendiri. Ia berdiri dari duduknya kemudian berjalan mendekati dinding kaca ruangan kerjanya yang tepat menghadap pada hamparan garis pantai yang indah.


Sungguh sebuah serene malam yang luar biasa. Bentangan langit malam yang cerah bertaburkan bintang yang berkelip dan hamparan laut luas dengan ombak yang menggulung damai menyapa daratan.


Lelaki Jeon itu masih berkelana pada pikirannya meski matanya memandangi serene yang luar biasa itu. Meski indah, malam itu tetap saja tak bisa melukiskan keindahan pada hatinya yang menggalau.


Keputusannya untuk pergi jauh bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Ia benar benar pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Seperti yang ia katakan ia tidaklah di Singapur. Ia telah menjual perusahaannya dinegara dengan ikonik singa dengan tubuh ikan itu kemudian pindah pada sebuah negara yang mana suasananya begitu menenagkan.


Ia sengaja memilih tempat yang ramai namun kental dengan suasana alam dan budayanya. Disana ia membeli sebuah Resort yang berada tepat dipinggir pantai dua minggu lalu. Dan entah sampai kapan ia akan berada di negara yang indah itu. Mungkin sampai ia benar benar bisa melupakan segalanya.



Visual dari Jeon Jung Kook yang sekarang. Anggap saja pearchingnya gak ada 😂


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Gak bosen bosen loh author ingatin kalian agar gak lupa ninggalin jejak berupa Vote, Star Vote, Like, Comment karena ktu adalah satu satunya alasan author yang gaje ini masih lanjut nulis.


LOVE LOVE

__ADS_1


Author: Ameera Limz


__ADS_2