Still Loving You

Still Loving You
KRISAN PUTIH


__ADS_3

Brak...


Seseorang membuka pintu kamar Lee Ha Na dengan begitu keras. Sontak membuat dua orang sahabat itu kaget dan mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.


"Kak Jimin sudah tiba?" Kim Eun Seo berubah menjadi begitu antusias sementara Lee Ha Na hanya diam tanpa kata. Ia telah salah mengira jika Park Jimin tak perduli padanya. Nyatanya Park Jimin tiba dengan begitu cepat.


Sementara itu Park Jimin menyunggingkan senyumnya.


"Berhubung kak Jimin sudah ada disini aku akan meminta bibi membuat makanan dan minuman untuk kita" Eun Seo baru saja hendak berdiri dari posisi duduknya ditepi ranjang Lee Ha Na, kemudian Ha Na menahan tangannya. "Ada apa?" tanya Eun Seo.


"Jangan beri tahu ibu"


"Tenanglahhhhh, aku bukan tipe sahabat yang bermulut ember".


Begitu Eun Seo berdiri ia berjalan melewati Park Jimin dan berhenti sesaat disebelah lelaki Park tersebut.


"Kakak, kau kasar sekali" bisik Eun Seo pada Jimin. Namun bisikan itu masih bisa didengar oleh Ha Na.


"Apa?" Park Jimin tampak bingung.


"Disini, disini. Hahaha...." Kim Eun Seo menunjuk area leher sebelah kanan dan kiri. Maksudnya adalah Park Jimin banyak sekali meninggalkan bekas permainannya pada leher putih nan Jenjang Ha Na. Kemudian ia tertawa puas meledek Jimin. Lee Ha Na yang menyaksikan itu hanya bisa menggeleng pada Park Jimin seolah berkata "Bukan aku yang memberi tahu. Sungguh bukan aku".


"Kau anak kecil tahu apa" ketus Jimin.


"Memangnya Lee Ha Na sudah besar?" Eun Seo meledek.


"Sana pergilah" didoronglah oleh Jimin tubuh Eun Seo keluar dari kamar Lee Ha Na kemudian menutup pintu dengan rapat.


"Awas jangan macam macam atau kuadukan pada bibi Min" teriak Eun Seo dari arah luar pintu kamar dan berjalan dengan tersenyum puas karena berhasil meledek Park Jimin dan sahabatnya sendiri. Dan Eun Seo berhasil membuat Lee Ha Na merasa begitu kikuk ditinggal berdua saja dengan Park Jimin.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan dengarkan ledekannya" titah Jimin pada Ha Na. Lelaki Park itu berjalan mendekati ranjang dimana Lee Ha Na terbaring. Ia duduk menyender pada kepala ranjang dan tangannya bergerak mengecek suhu tubuh wanita Lee itu dan mengelus surai coklat tua Ha Na yang sedikit berantahkan dengan begitu lembut. "Maafkan aku"


"Maaf untuk apa?" tanya Ha Na bingung.


"Aku sudah membuat bekas sehingga bocah tengil itu meledekmu" yang Jimin maksud bocah tengil adalah Kim Eun Seo.


"Aku salah karena tak menyembunyikannya"


"Tapi aku senang melihat bekas itu" Jimin tersenyum nakal. "Itu adalah tanda bahwa kau sudah menjadi milikku"


Lee Ha Na berusaha bangkit dari posisi berbaringnya. Kemudian mencubit bagian pinggang Park Jimin dengan cukup kuat.


"Awhhh, ini sakit sayang" Jimin mengelus elus pinggangnya yang terasa perih akibat cubitan Ha Na.


"Rasakan olehmu" Lee Ha Na kembali merebahkan tubuhnya dan memiringkan tubuhnya membelakangi Park Jimin.


Jemari Park Jimin kembali bergerak mengelus puncak kepala Lee Ha Na dengan lembut dan kasih sayangnya yang tulus. Ia mersa seperti sedang mengurusi istri yang sedang sakit. Senyumnya pun mengembang membayangkan hal demikian. "Kau butuh sesuatu sayang?" tanya Jimin dengan suara yang lembut menenangkan.


***


"Ibu, apa yang harus kulakukan?. Kenapa kami harus bertemu lagi saat usiaku sudah mulai dewasa?" gadis Jeon itu menangis dipinggir pusara ibu angkatnya yang sudah tiada. Tak bisa dipungkiri jika ia begitu merindukan ibu angkatnya. Jantung yang kini tertanam pada tubuh gadis Jeon itu adalah jantung ibu angkatnya. Tentu saja ia tak bisa melupakan begitu saja.


Dulu ketika Jeon Hee Ra berusia 13 tahun ia mengalami kegagalan jantung. Jantungnya tak bisa berfungsi dengan baik. Kondisi itu membuat dokter Choi dan mediang istrinya tak bisa tinggal diam begitu saja. Mereka terus berupaya mencari donor untuk putri angkat mereka yang mereka beri nama Jeon Mi Kyung.


Hingga suatu ketika saat istri dari dokter Choi ingin menjenguk Jeon Mi Kyung yang sedang terbaring dirumah sakit ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Membuat kondisi nyonya Choi tak bisa untuk bertahan lama. Dan sebelum ia pergi untuk selamanya ia meminta pada suaminya yang dokter itu untuk mendonorkan jantungnya pada Mi Kyung putri angkat mereka.


"Ibu, kenapa aku tidak bisa mengingat masa kecilku bersama mereka?. Dan sekarang aku merasa diriku seperti orang asing padahal mereka adalah keluarga kandungku sendiri. Dulu aku mengira aku akan sangat bahagia bisa kembali hidup bersama keluargaku sendiri. Nyatanya aku malah membiarkan perasaanku mengarah menuju perasaan yang salah" gadis Jeon masih saja menangis diatas pusara ibu angkatnya yang berada tepat dibawah pohon yang cukup rindang. Dedaunan dari pohon itu yang rontok diterpa angin berjatuhan tepat dihadapannya dan sebagian jatuh diatas rambut indahnya.


"Seharusnya kau membawa setangkai krisan putih jika ingin kemari" pria dengan tubuh yang cukup tinggi dan proporsional itu meletakkan setangkai bunga krisan putih yang ia bawa diatas nisan tepat dihadapan Jeon Hee Ra yang sedang berjongkok.

__ADS_1


Gadis Jeon itu mendongakkan kepalanya melihat pada sosok lelaki yang sudah berdiri disampingnya.


"Kenapa bisa ada disini?"


"Tentu saja tahu dari ayahmu itu".


Jeon Hee Ra benar benar lupa jika sebelum ia berangkat ke komplek pemakaman ia mengirim pesan pada dokter Choi. Dan pria disampingnya itu pasti menanyakan keberadaannya dari ayah angkatnya.


"Kau tidak salah. Jadi jangan menangis menyalahkan dirimu sendiri seperti itu" ucap lelaki dengan perawakan yang proporsional tersebut. "Sebaiknya kita pulang" ajaknya pada Jeon Hee Ra. Mengulurkan telapak tangan kanannya pada Hee Ra agar gadis itu segera beranjak untuk berdiri.


Jeon Hee Ra menolak uluran tangan pria itu. Ia lebih memilih untuk berdiri sendiri meski harus menahan sedikit sakit pada sebelah kakinya karena kesemutan terlalu lama berjongkok.


"Aku belum mau pulang" jawab Gadis Jeon.


"Tapi ibumu yang lain terus menanyakanmu"


"Aku belum bisa pulang" kekeuh Hee Ra.


"Sampai kapan?, sampai kau melupakan perasaanmu?. Apa kau tahu sampai kapan perasaanmu itu akan hilang?" tanya pria itu dengan suara dingin. Kedua telapak tangannya dimasukkan pada kedua saku celana hitam kantorannya. "Jangan menjadi egois. Kau bisa membuat ibumu kembali jatuh sakit jika kau bersikap seperti ini"


"Tapi aku tidak bisa. Aku sungguh tidak bisa" gadis Jeon tak kuasa lagi membendung air matanya hingga akhirnya meluap.


Gadis itu berbalik arah kemudian berjalan menjauhi lelaki yang masih berdiri mematung melihatnya. Meski dengan langkah yang sedikit terseok seok karena kakinya kesemutan gadis itu terus melangkah menjauh.


"Jangan bersikap seperti ini" lelaki itu memeluk tubuh Jeon Hee Ra dari arah belakang.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


LOVE LOVE

__ADS_1


Author: Ameera Limz


__ADS_2