
"Aku datang, Aku datang memenuhi permintaanmu. Apa kau bahagia disana?, seharusnya begitu, karena kau tak merasa sakit lagi saat ini. Biarlah rindu yang tetap mendekatkan kita yang berada pada dunia yang berbeda Park Jimin"
Lee Ha Na
"Kau sendirian?" segelas jus Jung Kook sodorkan pada Ha Na yang duduk menyendiri.
Tadinya Jung Kook ingin menyapa ketika Ha Na sedang mengobrol bersama Eun Seo tiba tiba ia berhenti karena merasa tak enak hati mengusik pembicaraan mereka, jadi ia memilih menyapa ketika Ha Na sendirian saja.
"Ah, iya paman" Ha Na mencoba mengukir sebuah senyum pada bingkai bibirnya.
"Park Jimin kemana?" lelaki Jeon ikut duduk pada tempat duduk yang semeja dengan Ha Na meski tempat duduk itu dipisah jarak oleh meja yang melingkar.
Deg.......
Sumpah, Ha Na benar benar tak tahu harus berkata apa. Dadanya sungguh terasa sesak luar biasa seperti sesuatu menyumpal rongga parunya.
Ingin sekali ia menangis sampai sampai matanya sudah mulai berkaca kaca.
"Selamat atas pernikahan kalian ya. Waktu itu aku tak disini sehingga tak bisa memberi selamat pada kalian secara langsung" Jeon Jung Kook mengulur tangannya untuk memberi ucapan selamat.
Ingin sekali rasanya Ha Na berteriak mengeluarkan emosi kesedihan dalam dirinya. Sungguh ia tak mampu menahan dan menyimpan segalanya sendirian.
"Kami sudah tidak bersama. Maaf paman sepertinya saya harus menemui Hee Ra dan segera pulang. Aku tidak bisa meninggalkan anakku sendirian" Ha Na beranjak mengelak percakapan pada Jeon Jung Kook.
Lelaki Jeon tak bisa berkata apa apa. Merasa dirinya tak berdaya dihadapan Ha Na. Satu sisi yang pasti ia tak mungkin menahan istri orang untuk mengobrol dengannya meski ia sangat ingin.
Manik hazel itu masih mengikut setiap gerak gerik Ha Na hingga Ha Na sudah keluar dari tempat pesta pun manik hazel itu masih mengikuti Ha Na.
__ADS_1
Seperti ada sesuatu yang wanita itu sembunyikan ketika Jungkook sadar akan kata kata jika Ha Na tak lagi bersama dengan Park Jimin. Apa maksudnya?, tentu saja itu memancing penasaran Jung Kook untuk menggali informasi lebih banyak lagi.
Mobil dengan plat khusus keluarga Jeon membuntuti laju mobil dengan plat khusus keluarga Park.
"Apa yang sebenarnya coba ia katakan?, dia bilang tak bersama. Tapi ia masih didalam mobil Park dan melewati jalan yang akan membawanya ke kediaman Park Jimin?" lelaki Jeon pemilik manik hazel itu membuntuti Ha Na dengan sejuta pertanyaan dalam batinnya. Sengaja ia lakukan itu hanya untuk memastikan ucapan Ha Na.
Bahkan ketika mobil yang Ha Na kemudikan sendiri menghilang dibalik gerbang kediaman Park Jimin lelaki Jeon masih memperhatikan dari kejauhan.
"Apa yang kau pikirkan Jeon Jung Kook?, mungkin kau salah dengar. Tentu saja mereka masih bersama. Dia bahkan kembali ketempat ini. Seharusnya kau bisa melupakan segalanya" lelaki Jeon itu bicara pada diri sendiri, didalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari markas kebesaran keuarga Park Jimin.
Ada rasa ingin singgah. Tetapi Jeon Jung Kook takut dirinya dikira sengaja mengikuti Ha Na. Yahhh, walau kenyataan memang seperti itu.
***
"Aku harus bagaimana Park Jimin?, harus bagaimana?, aku tidak mampu menahan semuanya sendiri. Tetapi aku tak mengerti harus bercerita pada siapa?" Ha Na menangis sejadi jadinya. Bayi kecil menggemaskan terbangun dari tidur kemudian ikut menangis seolah mengerti kesedihan yang dirasa oleh ibunya.
Menghapus jejak alir air matanya kemudian membawa putranya kedalam dekapan hangat.
Jelas sekali kerinduan itu membuncah tumpah ruah tak tergambarkan lagi. Meski Ha Na baru mencoba mencintai lelaki bos mafia itu tapi ia mencobanya dengan tulus. Masa masa akhir bersama lelaki Park menjadi masa masa penuh kenangan.
Bukan satu atau dua kenangan saja yang ia lewati bersama Park Jimin. Menakutkan, menegangkan, menyenangkan, menyedidihkan semua banyak yang mereka lewati bersama.
Begitu bayi mungil menggemaskan itu kembali tertidur, Ha Na mencoba meletakkan putranya keatas ranjangnya. Bayi kecil itu terlihat tenang berada diatas tumpukan kain empuk yang membuatnya hangat.
"Apapun akan ibu lakukan untukmu. Maka tumbuhlah menjadi anak yang baik" kecupan kecil Ha Na daratkan di pipi mungil yang masih merah itu.
Sungguh Ha Na tak mengerti dengan apa yang harus ia rasakan. Ia harus senang atau sedih ketika melihat paras Park Jimin terlihat dengan jelasnya diwajah Park Jiseok kecil.
__ADS_1
Ha Na mengambil ponsel yang ia letakkan diatas nakas pada sisi tempat tidur.
"Paman, bisakah kita pergi besok?" Ha Na berbicara pada Jae Hyuk orang yang telah menghabiskan banyak waktu mengabdi pada keluarga Park.
"Baiklah, paman akan mengurus semuanya malam ini, bagaimanapun itu kita perlu menyelesaikan banyak prosedur untuk membawa Jiseok"
"Terima kasih paman" Ha Na memutuskan sambungan telepon diantara mereka.
***
Sungguh Ha Na ingin menangis atau apa?, Park Jimin telah melakukan banyak hal untuknya dan juga anak mereka. Termasuk telah menyiapkan sebuah rumah lagi untuk Ha Na bisa tinggali. Padahal kalau dipikir pikir Park jimin sudah meninggalkan setidaknya 7 rumah termasuk markas dan rumah yang dibeli orangtuanya sebelum meninggal. Dan kali ini adalah rumah ke delapan. Ha Na hanya perlu memilih dan memutuskan untuk menempati rumah yang mana.
Sebuah makam pada puncak tebing yang bersinggungan langsung dengan lautan. Hamparan ilalang dan pampas liar yang sedang berbunga menjadikan tempat itu idah dan sangat menarik. Tak ada kesan mengerikan disana karena hanya ada satu makam baru yang mana Park Jimin telah tenang disana.
Seluruh tubuh Ha Na bergetar, matanya berembun kala melihat makam suaminya Park Jimin. Ingin rasanya ia menangis meraung raung diatas pusara itu. Namun, ia mengingat pesan dari Park Jimin yang mana lelaki itu akan menyambut kedatangan Ha Na dan keluarganya dengan senyuman. Itulah yang membuat Ha Na menahan dengan begitu susah payah agar tak menangis.
Hal yang tak bisa Ha Na mengerti adalah kenapa Park Jimin lebih memilih tempat itu untuk peristirahatan terakhirnya. Kenapa ia tak meminta untuk disemayamkan di sisi orangtuanya saja?. Setidaknya Ha Na bisa mengunjungi tiga orang sekaligus jika saja Jimin berada di sisi ayah dan ibunya.
"Aku datang, aku datang Park Jimin. Lihatlah aku datang bersama malaikat kecil kita. Apa kau bahagia?" Ha Na melirih, matanya menatap pada Park Jiseok kecil seolah olah Park Jimin akan ikut melihat pada sosok kecil dalam pelukannya. "Aku tak mengerti kenapa kau tak bisa terbuka padaku, aku bahkan tak tahu jika kau sakit. Kau benar benar menahan rasa sakit itu sendiri".
Andai saja Ha Na bisa melihat sosok lain. Saat ini Park Jimin sedang berdiri tepat dihadapan Ha Na. Tersenyum menyapa pada putaranya. Dan terlihat ingin sekali memeluk wanitanya.
Bayi kecil Jiseok menggeliat. Apakah benar seorang bayi bisa melihat sosok lain?. Jika begitu artinya sosok kecil itu sedang menggeliat melihat ayahnya yang tersenyum bahagia menahan laju air mata.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Tolong, mataku berembun. Sungguh... Bagaimana ini???, Jimin kau jahat sekali.
__ADS_1
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz.