Still Loving You

Still Loving You
MALAM BERSAMA


__ADS_3

πŸ”žWARNINGπŸ”ž


Malam ini terasa hangat, dua orang insan berbeda jenis kelamin sama sekali tak merasakan dinginya suhu diluar rumah. Keduanya sedang berada didalam sebuah kamar yang menghangatkan.


Park Jimin berhasil membuai wanita bermarga Lee itu hingga berada pada ranjang kebesarannya. Sebuah senyum seringai khas pada wajahnya seolah tak bisa untuk tidak terukir.


Malam malam seperti inilah yang diinginkan seorang Park Jimin sejak dulu. Setelah bertahun tahun ia mencoba untuk meraih malam seperti malam ini. Malam yang ingin ia rengkuh bersama Lee Ha Na setelah ia merasa bahwa dirinya dibuat gila oleh tubuh Lee Ha Na sejak pada malam pemaksaan itu.


Luar biasa memang, Park Jimin benar benar melewati malam itu bersama Ha Na. Meski status diantara keduanya pun begitu tak jelas.


Apakah itu sebuah wujud dari ucapannya saat di tempat hiburan malam bersama Jeon Jung Kook?.


Sepertinya benar. Keduanya melakukannya atas dasar suka sama suka tanpa dasar pemaksaan sedikitpun.


Keduanya bertemu dalam satu penyatuan hangat. Merengkuh malam indah bersama, menjajal mendaki puncak hasrat keduanya.


Nafas yang memburu menderu terasa hingga pada wajah keduanya, tatapan mata yang sayu namun mendamba terlihat jelas pada manik milik mereka masing masing.


Suara suara gila berhasil lolos dan terdengar dari bibir keduanya, semua itu berhasil membangunkan sisi bringas seorang Park Jimin untuk bisa terus sampai pada puncak hasratnya.


Keduanya berhasil mendaki bersama sama, mengatur nafas keduanya. Dengan pandangan meneduhkan Park Jimin melihat pada manik hitam bulat juga bening milik Ha Na. Dalam, dalam dan semakin dalam hingga Ha Na tak kuasa untuk menatap balik mata sipit menggoda itu.


"Terima kasih nona Park" Park Jimin mengulas sebuah senyum pada salah satu sudut bibirnya, sebuah kecupan hangat ia daratkan pada puncak dahi Lee Ha Na, membuat wanita bermarga Lee itu memejam menikmati dan tersenyum tipis. Jimin merebahkan tubuhnya disamping tubuh polos Ha Na sebelumnya ia menarik selimut menutupi tubuh mereka. Tak bosan bosan pula Park Jimin memanggil Ha Na dengan marganya.


Lee Ha Na menggapai tas bawaannya, mengambil ponsel dari dalamnya. "Ini masih jam sebelas malam, aku harus pulang" Lee Ha Na bringsut dari atas ranjang kebesaran lelaki Park itu. Memunguti setiap pakaian berserakan yang tadi ia gunakan.


"Masih mau pulang juga?" tanya Park Jimin dengan senyum kemenangan yang terulas begitu saja. Kedua tangannya ia letakkan dibalik kepalanya untuk menumpu.


"Aku sudah mengirim pesan pada ibu, aku sudah mengatakan jika aku akan pulang malam ini"


"Bersihkan tubuhmu, aku akan mengantarmu pulang" perintah Park Jimin.


Gila memang apa yang mereka lakukan malam ini. Terutama bagi Lee Ha Na yang dulunya begitu polos. Bagaimana bisa ia menjadi egois. Setelah ia sendiri yang meminta Park Jimin untuk bertanggung jawab pada jala**nya malah ia yang seolah tak ikhlas melepaskan Park Jimin meski mereka tak punya hubungan.

__ADS_1


Lee Ha Na keluar dari pintu kamar mandi yang berada didalam kamar lelaki Park itu, ia sudah terlihat rapih dan segar kembali. bercak pada lehernya ia sembunyikan dibalik foundation dan bedak mahal miliknya. Lelaki Park pemilik kamar itu sedang duduk menyender pada kepala ranjangnya. Ia terlihat serius dengan ponselnya. Mengirimkan sebuah rekaman suara entah itu kepada siapa.


***


"Mana kunci mobilku?" tanya Park Jimin pada Ji Suk orang kepercayaannya.


"Biar saya yang menyetir boss"


"Tidak, aku ingin menyetir sendiri" tak lupa senyuman terus terukir diwajahnya. Ia senang telah menuntaskan keinginannya.


"Baiklah, ini kuncinya" Ji Suk memberikan kunci mobil itu pada pemiliknya dengan senang hati pula. Ia tahu betul jika boss mereka hanya ingin berdua saja dengan wanita Lee tersebut.


Sepanjang perjalanan pulang Lee Ha Na terus dihantui oleh pertanyaan pertanyaan yang berasal dari pikirannya sendiri hingga ia tak menyadari jika mereka telah sampai pada tujuan.


Lee Ha Na turun dari mobil Sport hitam Park Jimin, Sengaja Jimin turun lebih dulu kemudian membukakan pintu untuk Lee Ha Na.


"Terima kasih banyak sudah mau repot repot mengantarku" ucap Ha Na.


Sementara itu seorang wanita dengan perawakan tinggi sedang mengamati kedua orang itu dari dalam mobilnya, niat hati ia ingin mampir kerumah Lee Ha Na untuk sekedar memberi ucapan selamat pada wanita Lee yang berhasil mewujudkan mimpinya untuk berjalan di karpet merah sekelas NYFW. Tetapi apa yang ia dapati justru membuatnya kecewa lantas mengurungkan niatnya untuk mampir kesana.


***


Disebuah tempat hiburan malam di kota Seoul.


Jeon Jung Kook duduk menunduk pada sebuah kursi bar menghadap tepat pada bartender yang tengah sibuk meracik minuman pesanan pelanggan.


"Satu lagi" Jeon Jung Kook mengangkat jari telunjuknya membentuk angka satu, meminta si bartender untuk mengeluarkan sebotol Anggur putih yang nikmat.


Dering handphone milik Jeon Jung Kook membuatnya teralihkan dari minuman haram yang sedang ia nikmati. Sebuah pesan masuk melalui email miliknya.


~Ini cuma rekaman suara, jika kau butuh bukti lebih jelas aku akan mengirimkannya dengan senang hati, semua kami lakukan atas dasar suka sama suka seperti yang kujanjikan padamu~


Gila, ini benar benar gila, bisa bisanya Park Jimin merekam suara dari kegiatan malamnya bersama Lee Ha Na, kemudian mengirimkannya pada Jeon Jung Kook tanpa rasa malu. Ia ingin Jeon Jung Kook menyerah dan berhenti mengejar Lee Ha Na setelah melihat dan mendengar semuanya.

__ADS_1


"BRENG***" Gerutu Jeon Jung Kook begitu melihat isi pesan yang ia terima, sebuah lampiran juga tersemat pada emailnya. Dengan sekali klik lampiran pesan itu terbuka.


"Audio apa yang coba ia kirimkan padaku?" Jung Kook mencoba memutar rekaman suara itu. Karena dentuman musik pada club malam itu begitu keras ia harus menambah volume ponselnya dan menempelkan ponsel itu pada telinganya.


"Ini benar benar menjijikkan" Jeon Jung Kook kesal lantas membanting ponselnya begitu saja pada meja bar.


Lelaki Jeon itu masih berkutat dengan minumannya, mencoba membuang jauh pikiran pikiran yang terus berputar memenuhi rongga kepalanya.


"Berikan aku sebotol Red Wine" Jung Kook mengangkat jari telunjuknya lagi memberi isyarat pada bartender yang sedang bekerja ditengah kebisingan pada club malam itu. Entah botol keberapa yang sedang ia coba tenggak habis isinya.


***


Jeon Jung Kook pulang dalam keadaan mabuk berat ketika waktu tepat menunjukkan pukul 01.30 KST, itu artinya sudah dinihari.


Berkali kali mencoba mengingat pass code rumah mereka dan akhirnya pintu terbuka.


Jeon Hee Ra yang merasa begitu haus akhirnya menyadari kepulangan sang paman. Ia lantas berlari menuruni anak tangga untuk menghampiri paman tampannya itu.


"Paman, kau baru pulang sekarang?" Jeon Hee Ra menyadari jika sesuatu yang tidak beres pada pamannya, cara berjalannya sempoyongan dan tubuhnya berbau Anggur. "Paman mabuk?, sini kubantu paman kekamar" Jeon Hee Ra mencoba memapah sang paman menuju kamar.


Sesuatu benar benar tidak beres pada Jeon Jung Kook, Anggur yang telah ia minum telah mengendalikan pikirannya. "Lee Ha Na" gumam Jeon Jung Kook dalam mabuknya. Entahlah, ia seolah melihat Lee Ha Na pada diri Jeon Hee Ra dan lantas menenggelamkan kepalanya pada Jeon Hee Ra.


"Paman, apa yang kau lakukan?" tanya Jeon Hee Ra takut dan pelan ketika Jung Kook mencoba menciumi dirinya. Ini benar benar tak masuk akal.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


LOVE LOVE


Author: Ameera Limz



Lihatlah betapa cantiknya seorang Lee Ha Na, ia tumbuh menjadi wanita yang sangat mempesona sehingga banyak lelaki menginginkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2