
πWARNINGπ
Author mohon dengan sangat bagi yang belum genap 18th jangan membaca part ini.
πππππππππππππππ
"Aku......." Ha Na menggantung ucapannya membuat lelaki Park itu semakin penasaran dan tak sabaran saja. "Maafkan aku, aku tak bisa" dengan suara yang begitu pelan dan wajah yang tertunduk seolah merasa bersalah jawaban itu akhirnya terucap juga oleh Ha Na.
Tangan yang semula Park Jimin tangkupkan dikedua pipi Lee Ha Na kemudian terjatuh begitu saja. Kecewa?, tentu saja ia kecewa dengan jawaban yang Ha Na berikan.
Jimin mengira Lee Ha Na bisa menerimanya setelah akhirnya mereka tahu bahwa anak yang ada dalam kandungan jala** bernama Min Young itu bukanlah buah dari Park Jimin. Ditambah lagi Ha Na telah membiarkan Park Jimin melakukan apa yang diinginkannya beberapa hari yang lalu.
"Kau masih berharap bisa bersamanya?" tanya Park Jimin dengan nada yang begitu dingin mengalahkan dinginnya salju. Jimin mengalihkan pandangannya kearah luar kaca mobil. Melihat jala**nya pergi dengan lelaki bangka yang tak lain adalah ayah biologis Lee Ha Na sendiri.
Lee Ha Na juga mengikuti arah pandangan Park Jimin. "Maafkan aku" hanya kalimat itu yang kemudian terucap lagi dari bibir Lee Ha Na.
Park Jimin sedikit tersenyum getir. Ia begitu sadar diri jika sebenarnya sejak dulu Lee Ha Na memang tak memiliki rasa terhadapnya. Hanya saja ia yang terlalu percaya diri bisa mendapatkan cinta seorang Lee Ha Na. Meski akhirnya ia benar benar harus kecewa seperti sekarang.
"Maafkan aku" Lee Ha Na kembali mengucap kata maaf karena Park Jimin tak menghiraunya.
"Sudahlah, ini tak penting lagi"
"Jujur kau telah memiliki tempat dihatiku Park Jimin" Ha Na memberanikan dirinya untuk berkata jujur.
"Tidak perlu berbohong. Jika memang tak ada tempat untukku tidak perlu memaksakannya"
"Tidak, aku tak pernah berbohong. Semua yang kukatakan adalah kebenarannya Park Jimin. Hanya saja..." lagi dan lagi Ha Na menggantung kalimatnya.
"Diamlah, kau akan membuatku semakin sulit saja dengan berkata seperti itu"
"Bantu aku melupakannya"
"Maksudmu?" Park Jimin sungguh tak mengerti dengan apa yang diucapakan Ha Na barusan.
"Bantu aku melupakannya Park Jimin, bantu aku melupakan Paman Jeon Jung Kook. Aku sadar diri aku siapa. Jika ia tahu tentang diriku yang sebenarnya ia juga tidak akan menyukaiku. Sekarang pun saat ia belum mengetahui apapun ia juga tak punya rasa terhadapku"
"Kau salah Lee Ha Na. Kau salah. Dia juga mencintaimu. Hanya saja kau yang belum menyadarinya" Park Jimin membatin.
"Apa kau serius dengan ucapanmu?"
__ADS_1
"Aku serius Park Jimin. Bantu aku menghapus jejaknya dihatiku. Bukankah dengan begitu aku bisa dengan leluasa membuka hatiku sepenuhnya untukmu?"
Lelaki Park benar benar tak percaya dengan yang dikatakan Lee Ha Na. Disatu sisi ia merasa begitu senang dan dilain sisi ia merasa bersalah terhadap Lee Ha Na. Ia terlalu memaksakan keinginannya hingga Lee Ha Na harus mengalah dan membuang jauh perasaannya terhadap Jeon Jung Kook"
Seolah tak kuasa menahan emosi didirinya Park Jimin kembali membawa wanita Lee itu dalam pelukannya. Menempelkan kembali bibir mereka. Kali ini berbeda. Sungguh berbeda. Park Jimin begitu tergesah gesah sampai berpindah tempat duduk agar lebih dekat lagi pada Ha Na.
Jimin mengangkat tubuh Lee Ha Na untuk duduk diatas pangkuannya. Dan jemarinya mulai menjadi nakal, mengerayangi punggung Lee Ha Na dibalik kaos yang digunakannya.
Lagi dan lagi Lee Ha Na tak bisa untuk berkata kata. Ia selalu merasa hilang akal begitu Park Jimin memperlakukannya seperti demikian. Apakah karena ia semakin dewasa sampai sampai ia juga menginginkan hal sedemikian?.
Dan bukan Park Jimin namanya jika ia tidak bisa mendapatkan keinginannya dan menuntaskan hasrat lelakinya. Dan berakhir dengan sebuah kegiatan gila didalam mobil yang sempit. Beruntung bagi Park Jimin kaca mobilnya tak tembus pandang dari arah luar.
Keduanya benar benar menggila malam itu hingga akhirnya mereka berdua tertidur didalam mobil.
***
Eugh...
Lee Ha Na melengguh dari tidurnya. Mencoba membuka matanya dengan perlahan.
Begitu Lee Ha Na dengan sempurna membuka matanya ia bisa melihat dengan begitu jelas jika Park Jimin sedang tersenyum manis padanya. Semalaman Lee Ha Na tertidur dalam pelukan seorang Park Jimin dengan berbantalkan lengan kekar Park Jimin.
"Kenapa kau tersenyum eoh?" Ha Na bicara dengan suara yang serak khas bangun tidurnya.
"Jangan memulai lagi Park Jimin" ucap Ha Na yang masih dalam pelukan Park Jimin.
"Kenapa tidak boleh?, semalam kau bahkan begitu menyukai sentuhanku" Jimin tersenyum menyeringai. Jemarinya benar benar semakin nakal hingga membuat Ha Na bergerak merasa tak nyaman lagi.
"Jangan bergerak sayang" Park Jimin membisik dengan menggoda tepat dengan indra pendengaran Lee Ha Na.
"Kenapa?. Kita harus bangun. Aku mau pulang"
"Kau membangunkannya"
"Apa?" tanya Ha Na dengan begitu polosnya. Usianya yang 19 tahun tak lantas membuatnya mengerti ucapan Seorang Park Jimin.
Lelaki Park itu melihat kearah bawah dirinya. dan Ha Na juga ikut melihat kearah sana. dengan polosnya. Kemudian Lee Ha Na refleks membangunkan dirinya menjauh dari pelukan Park Jimin.
Park Jimin tersenyum melihat tingkah Lee Ha Na yang terkadang menunjukkan kepolosannya.
__ADS_1
"Pakai ini" Park Jimin melemparkan jaket yang semalam dipakai oleh Lee Ha Na.
"Kaosku?"
"Kau berniat memakai ini?" Jimin mengangkat kaos Lee Ha Na yang dirobek olehnya semalam.
"Yaampun. Apa salah pakaianku padamu?, sampai kau merobeknya" Lee Ha Na mengeluh sambil memakai kembali jaketnya.
"Salahnya telah menutupi dirimu. hahaha..." Park Jimin tak kuasa untuk menahan gelak tawanya.
"Dasar maniak" Lee Ha Na mengumpat.
"Kau bilang apa?" Park Jimin pura pura tak mendengar.
"Sudahlah, aku mau pulang" Lee Ha Na beranjak hendak turun dari Sport hitam milik Jimin.
"Kau bawa mobil sendiri?" tanya Jimin.
"Itu" Lee Ha Na menunjuk kearah mobil miliknya.
"Oh.. , baiklah. Berhati hatilah mengemudi sayangku"
"Kau bilang apa?" malah kali ini Lee Ha Na yang pura pura tak mendengar.
"Tidak, bukan apa apa" jawab Jimin. "Pistolmu" Jimin memberikan pistol Ha Na yang semalam dikeluarkannya dan diletakkan diatas dasboard mobil.
Tanpa banyak bicara lagi Lee Ha Na langsung mengambilnya dan hendak menyelipkannya kembali dibalik jaketnya. Baru saja Ha Na ingin membuka jaketnya itu.
"Jangan dibuka" Park Jimin menahan tangan Lee Ha Na yang hendak menarik resleting jaketnya.
"Kenapa?" tanya Ha Na yang bingung. Ia lupa kalau ia tidak lagi menggunakan kaos dibalik jaket kulitnya.
"Ini" Park Jimin melempar kaos Lee Ha Na yang telah robek karena ulahnya.
"Dasar bringas" keluh Ha Na dengan wajah yang memerah karena malu.
"Bringas tapi kau suka kan???" Park Jimin memainkan alisnya.
πππππππππππππππ
__ADS_1
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz