Still Loving You

Still Loving You
PERGI DAN KEMBALI


__ADS_3

"Dia bilang dia mencintaiku. Dia bilang dia menyayangiku. Tapi kenapa dia pergi disaat aku melahirkan anak untuknya?"


Lee Ha Na


Delapan bulan berlalu begitu cepat. Namun, di tiga bulan terakhir adalah sebuah perjalanan hidup yang sulit nan menyesakkan bagi Park Ha Na. Ia melewati masa akhir hamilnya tanpa suami.


Park Jimin benar benar menyiksanya. Ketika ia mulai memperdalam seluruh rasa cinta untuk lelaki Park, justru lelaki mafia itu bulat dengan keputusannya untuk menghilang tak berjejak.


Menyimpan segala rahasia dengan begitu rapat. Tak ada niat untuk lelaki mafia itu untuk sedikit terbuka pada istrinya.


Tepat tiga bulan lalu bos mafia itu menghilang entah kemana. Seolah telah terencana dengan begitu baik, semua yang bekerja pada Jimin tak ada yang tahu keberadaan bos mereka.


Tok tok tok...


Suara pintu terketuk dengan pelan. Park Ha Na dengan segera menghapus jejak alir air mata diwajahnya.


"Masuklah" perintah Park Ha Na.


Lelaki yang Park Ha Na sebut dengan panggilan paman masuk kedalam begitu Ha Na mengizinkannya. Lelaki yang kerap dipanggil paman Jae Hyuk tersenyum manis melihat seorang bayi laki laki mungil menggemaskan sedang tertidur dengan begitu pulas dalam hangat gendongan Ha Na.


"Ada apa paman?" tanya Ha Na dengan suaranya yang serak karena terus menangis secara diam diam.


"Paman kemari untuk menyampaikan amanah" Jae Hyuk memberi sepucuk surat tanpa amplop pada Ha Na "bos Jimin meminta paman memberinya tepat setelah bayi kalian berusia seminggu"


"Apa ini?"


"Paman tidak tahu. Paman hanya bertugas menyampaikan"


"Terima kasih paman" Park Ha Na menerima sepucuk surat itu dengan ragu.


Setelah Park Ha Na menerima sepucuk surat tersebut kemudian Jae Hyuk meninggalkan Ha Na dan bayinya hanya berdua saja.


Ha Na sempat meragu untuk membaca surat itu. Hatinya menyesak kemudian geliat bayi kecilnya menghilangkan semua keraguan.


(*Dari sepucuk surat ini aku hanya ingin mengatakan kalau aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu sampai akhir hidupku. Aku bahagia dengan kenyataan itu. Dan bahagiaku bertambah ketika akan ada malaikat kecil diantara kita.


Aku menyayangimu dan malaikat kecilku. Sangat menyayangi kalian.


Kalau boleh aku jujur padamau, aku ingin jujur kalau aku benci takdirku, karena tuhan begitu tak adil padaku, karena aku tak bisa menunggu sampai anak kita lahir.


Kau ingat apa yang aku ceritakan tentang ibuku ketika kita mengunjungi mereka dihari pernikahan kita?. Penyakit itu menurun padaku Ha Na. Aku tahu aku salah karena tak mengungkapkan semuanya padamau karena aku tak ingin kau meninggalkan aku ketika tahu aku bukanlah lelaki yang sehat.

__ADS_1


Aku sengaja menutupnya begitu rapat darimu, dari teman temanku kecuali Jae Hyuk dan dokter Jung yang selalu menyemangatiku untuk terus bertahan. Namun, ini sudah sangat menyakitkan Ha Na, aku tak sekuat yang kau lihat. Betapa sulitnya aku yang menyembunyikan segala kenyataan ini dari kalian.


Aku tahu aku terlalu egois untuk memilikimu padahal aku sudah sekarat.


Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya bahagia karena dicintai. Dan cintaku padamu begitu tulus sayang.


Kau ingat bagaimana pertemuan kita pertama kali waktu kau bekerja di Coffe Shop?. Saat itulah aku punya keinginan untuk mendapatkanmu. Manik bulatmu yang bening berhias bulu mata lentik, pipimu yang sedikit chubby menurutku itu sangat manis. Hingga aku bertekad untuk mendapatkanmu.


Aku yakin pastilah malaikat kecil kita mewarisi indah wajahmu. Aku yakin itu*).


Baru setengah pesan yang Ha Na baca air matanya tumpah meronta. Ia menyeka air mata itu lagi, lalu menatap wajah bayi kecilnya yang ada dalam pelukan.


Sungguh. Jimin salah besar, bayi kecil yang Ha Na beri nama Park Jiseok itu terlihat sangat mirip dengan ayahnya. Tak sedikitpun mewarisi paras Ha Na. Bayi itu bak pinang dibelah dua dengan ayahnya.


(*Sekarang kau bebas. Aku mengembalikan marga Lee untukmu. Aku tahu kau masih terlalu muda, kau butuh pendamping yang akan kembali mengubah margamu Lee Ha Na.


Aku telah mengalihkan semua yang kumiliki atas namamu. Aku juga meninggalkan bekal untuk hidup anak kita.


Hiduplah dengan bahagia sayang, aku tahu dihatimu juga masih ada orang lain. Kejar kebahagiaanmu yang sempat tertunda karenaku.


Maafkan segala atas dosa dosaku dimasa lalu padamu. Aku tahu aku adalah pria yang gila yang dengan lancang menghancur masa depanmu.


Kalau boleh aku minta tolong maka tolong bisikkan ditelinga malaikat kecil kita, katakan padanya jika ayahnya ini sangat mencintai dan menyayanginya.


Nanti jika kau sudah merasa lebih sehat dan lebih tenang maka kunjungilah aku, aku akan menunggumu ditempatku, menunggumu datang dengan sosok malaikat kecil dalam pelukanmu. Aku akan menyambut kalian dengan tersenyum.


Jae Hyuk lah yang tahu dimana aku.


Jangan bersedih lagi karena akan ada malaikat kecil yang menghapus air matamu. Menggantikan posisiku.


Aku mencintaimu.


Aku menyayangimu.


Aku mencintai juga menyayangi malaikat kecil kita.


Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.


Sampaikan maafku pada anakku.


Sampaikan maafku pada ibumu.

__ADS_1


Sampaikan maafku pada teman temanku*).


Sungguh Ha Na tak bisa menahan laju air matanya.


Segalanya benar benar menyesakkan. Ia tak menyangka jika Jimin benar benar meninggalkannya. Bahkan lelaki Park itu dengan ikhlas mengembalikan marga Lee padanya.


"Kenapa sesulit itu untukmu bisa terbuka padaku Park Jimin?" suara lirih Ha Na membuat bayi mungil ditangannya tebangun kemudian menggeliat. "Kau bahkan tak bisa melihat anakmu sendiri, kau bahkan meninggalkan aku yang sedang mencintaimu".


Ingatan Ha Na melayang layang pada awal awal kehamilannya kemudian menikah. Ha Na masih ingat betul bagaimana manisnya Jimin mengelus perutnya kemudian berbisik disana seolah olah mahluk kecil didalam perutnya itu bisa mendengar segalanya.


Bagaimana sayang dan perhatiannya lelaki Park pada dirinya. Bagaimana lelaki Park kerap menggoda dirinya lalu kemudian menghilang tiga bulan terakhir.


Waktu itu Park Jimin pergi berpamitan pada Ha Na dengan alasan mengurusi bisnisnya di luar kota. Kemudian benar benar menghilang tanpa jejak. Segala kontak suaminya tak bisa untuk dihubungi, semua yang bekerja pada suaminya tak ada yang tahu kemana sebenarnya lelaki Park itu berada. Kecuali Jae Hyuk yang menutup rapat mulutnya karena ia telah berjanji pada Park Jimin.


***


Jeon Jung Kook baru saja menginjak kaki di bandara Incheon.


Lelaki Jeon itu akhirnya kembali menginjak tanah Korea setelah beberapa bulan berada di Indonesia.


Ia pulang bukan untuk menetap lagi di Korea. Tetapi, sengaja pulang karena dua minggu lagi keluarga Jeon akan mengadakan sebuah pesta pernikahan.


Jeon Jung Kook tak mengira jika dirinya telah disambut oleh keponakan yang sempat ada dihatinya.


"Paman, aku merindukanmu" Jeon Hee Ra berhambur memeluk paman tampannya itu. Tidak, dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pamannya. Kali ini murni rasa sayang seorang keponakan pada paman, begitupun sebaliknya.


"Kau sendirian sayang?" tanya Jung Kook seraya tangannya mengelus puncak kepala Hee Ra yang berada dalam pelukannya. "Lepaskan paman sayang, kau tidak malu dilihat banyak orang?" bisik Jung Kook.


"Untuk apa aku malu?, aku kan memeluk pamanku sendiri"


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 Tolonggggg.... Aku gak kuat ditinggal Jimin. Gak kuat banget aku tuh😭😭


Jimin kau tega sekali meninggalkan aku. Huwahhhhh..... 😭😭😭😭😭😭😭


Eh, apaan sih???, kok aku jadi gini ya??? 🤣🤣🤣


Gimana nih readers????, aku butuh tanggapan kalian di episode ini. Tinggalin tanggapan di comment ya.


LOVE LOVE

__ADS_1


Author: Ameera Limz


 


__ADS_2