
Lee Ha Na masih dengan wajah sangarnya menempatkan pistol yang ia pegang di kepala Park Jimin.
Kringggggg.....
Kemudian handphone di saku jaket warna hitam berbahan kulit Park Jimin berbunyi, diambilnya handpone tersebut dan mengangkat panggilan dari Jae Hyuk anak buahnya.
"Boss, sebaiknya boss harus membawa Lee Ha Na pergi dengan segera, ada musuh yang mencoba menyerang markas" hanya itu yang dikatakan Jae Hyuk pada Jimin.
"Besar sekali nyali mereka ingin menyerang kita, baiklah aku akan menlindunginya" jawab Park Jimin, kemudian ia memnyimpan handphonennya dengan ekspresi sedikit kesal.
Jimin memegang ujung pistol yang Ha Na arahkan padanya "Masih belum mau membunuhku nona Lee?" tanya Jimin sambil sedikit tersenyum.
Lee Ha Na hanya diam, ia tidak betul betul ingin menembak kepala Park Jimin, jika Jimin mati siapa lagi yang akan membantunya balas dendam.
"Jika tidak berniat menembak kepalaku sekarang lebih baik kita pergi, ada musuh yang menyerang markas" terang Jimin masih dengan santainya.
Lee Ha Na terkejut, bagaimana bisa ia terjebak dalam pertempuran antara kedua geng penjahat, "Ap.., apa maksudmu?" tanya Ha Na takut.
"Sudah kubilang ada musuh yang menyerang markas" Jimin menurunkan tangan Lee Ha Na yang masih setia memegang pistol tersebut. "Kau tetap gunakan pistol itu, tapi ingat kau hanya perlu menggunakannya untuk melindungi diri bukan untuk membunuh" perintah Park Jimin dan Lee Ha Na mengangguk.
Terdengar suara kegaduhan dari arah halaman depan markas Park Jimin, dan suara itu semakin dekat, suara suara tembakan yang dilepaskan berulang ulang begitu memekakkan telinga Lee Ha Na dan membuat Ha Na sedikit menundukkan kepalanya dan menutup telinga karena takut.
"ayo, kita harus pergi" Park Jimin meraih lengan Ha Na dan membawanya berlari dengan cepat ke suatu tempat yang mirip seperti sebuah pintu rahasia, pasalnya pintu itu berada di tanah dan terhubung dengan ruang bawah tanah lebih seperti sebuah bunker.
__ADS_1
Jimin mencoba mengangkat pintu yang terbuat bari material baja itu, "Ayo kau lompat duluan Ha Na" perintah Jimin yang menoleh pada Ha Na.
"Sebentar, aku menjatuhkan pistolku" Lee Ha Na menjatuhkan pistolnya, ia sedang berusaha untuk mendapatkan kembali pistol tersebut.
Sebuah tembakan mengarah pada Lee Ha Na, dan Ha Na sama sekali tak menyadarinya, beruntung Park Jimin melihat itu dan dengan cepat menarik Lee Ha Na untuk melompat kedalam bunker jika tidak maka kepala Ha Na sudah pecah. Namun naasnya lengan berotot Park Jimin terkena goresan dari tembakan tadi sehingga terluka cukup lebar tapi pelurunya tak bersarang disana.
Ketika mereka berdua sudah melompat masuk kedalam bunker tersebut Park Jimin menutup kembali pintu yang terbuat dari baja itu dan dengan otomatis terkunci sendiri sehingga orang dari luar tak bisa membukanya, dan sebuah penerangan juga otomatis menyala begitu pintunya ditutup.
Setelah Lee Ha Na bisa melihat dengan jelas saat itu pula ia melihat kalau Lengan Jimin terluka dan mengalirkan darah hingga keujung jarinya dari balik lengan jaket dan menetes ke lantai.
"Lenganmu terluka?" tanya Ha Na dengan sedikit khawatir.
"Abaikan dulu masalah ini Lee Ha Na, ini cuma tergores saja bukan sarang peluru" bagaimana bisa Jimin begitu santai saat tangannya terluka seperti itu.
Jimin dan Ha Na berdiam diri untuk sementara di ruangan itu hingga mereka mendapat kabar bahwa kondisi diatas sudah cukup aman.
Lee Ha Na duduk disebelah Park Jimin, dikeluarkannya sapu tangan yang ia miliki di dalam saku celana lalu mengikatkannya pada luka Park Jimin "maafkan aku" ucap Ha Na pelan disela sela kesibukan mengikatkan sapu tangan tersebut.
"Kau begitu perduli denganku?" Park Jimin malah tersenyum menggoda pada Lee Ha Na.
"Kau terluka tuan Park, bagaimana bisa kau bercanda seperti ini?, tentu saja aku khawatir karena kau tetluka gara gara menyelamatkan kepalaku ini" Lee Ha Na sedikit marah.
"Sudah jangan marah marah, aku bercanda"
__ADS_1
"Apa akan lama kita diam disini?" tanya Ha Na khawatir, biarpun diruangan itu memiliki fasilitas lengkap dan mewah Lee Ha Na sedikit sesak mengingat dan membayangkan mereka sedang berada di ruang bawah tanah.
"Tunggulah sampai Jae Hyuk mengabari" jawab Jimin.
"Tapi sampai kapan?"
"Kau hanya perlu bersabar Lee Ha Na, atau kau mau keluar sekarang dan terjebak diantara hujan peluru yang bisa mengenai tubuh indahmu ini?" tanya Jimin sambil menatap Lee Ha Na dari ujung kepala hingga ujung kaki dan membuat Lee Ha Na bungkam.
Kemudian Park Jimin menerima sebuah pesan chat pada aplikasi Kakao miliknya, sebuah kabar dari Jae Hyuk yang mengatakan jika situasi dan kondisi sudah aman, mereka sudah bisa keluar dari sana.
Jimin membawa Ha Na keluar dari bunker, begitu mereka keluar Lee Ha Na dibuat ngeri melihat ada beberapa orang musuh yang terluka dan tak bernyawa lagi, Lee Ha Na menggenggam erat tangan Park Jimin yang masih ada bekas darah itu.
"Apa kau takut?" tanya Jimin yang menyadari kalau Lee Ha Na mengeratkan genggaman tangannya dan Lee Ha Na hanya bisa mengangguk tak mampu berkata kata.
"Beginilah kehidupanku Lee Ha Na, apa kau tertarik untuk menjadi nyonya Park?" Park Jimin menaik naikkan alisnya, ia bercanda sambil menggoda untuk menghilangkan rasa takut Lee Ha Na.
"Aku tidak akan pernah menjadi nyonya Park" jawab Ha Na santai.
*************************************
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz
__ADS_1