
(FLASHBACK)
"Aku tahu jika kau juga mencintaianya Jeon, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja untukmu" sambil menenggak Anggurnya Jimin bicara.
"Begitupun aku, aku takkan menyerah" Jawab jeon Jung Kook dengan menekankan kata Tidak.
Kedua orang tampan menawan itu sejatinya sudah mabuk namun mereka masih bisa mengendalikan pikiran mereka. Berdebat soal cinta.
"Tsk... bukankah saat di Coffee Shoop kau bilang jika kau tak tertarik padanya?" tanya Jimin.
"Itu dulu, dan aku akan memulai persaingan denganmu" jawab tuan muda Jeon itu.
Park Jimin menarik nafasnya dengan begitu dalam, "Kau tahu kan jika aku sudah pernah tidur dengannya?" tanya Jimin, Jimin berharap jika mendengar itu Jung Kook akan berhenti.
"Itu hanya sebuah kecelakaan, bukan atas dasar suka sama suka" Jung Kook meremehkan.
"Tapi aku bisa mengulangnya atas dasar suka sama suka" Jimin tersenyum miring.
"Brengsek kau Park Jimin" Sebuah tinju melayang kewajah Park Jimin yang mabuk, kemudian berulang hingga wajahnya melebam.
Bukannya Park Jimin tak ingin membalasnya. Meskipun ia adalah kepala gangster dan mafia besar ia juga masih punya hati, ia tak kan bisa menyakiti orang orang yang dekat dengannya. Ia akan berusaha menahan sakit yang ia dapat dan menahan emosinya, jika saja Jung Kook bukan sahabatnya sejak kecil mungkin pria bermanik hazel itu akan habis ditangannya.
"Sudahlah, tak ada gunanya melakukan hal ini" Jeon Jung Kook melepaskan genggamannya pada kera baju Park Jimin membuat lelaki berwajah sexy itu tersungkur kelantai club yang dingin. Setelah Itu Jeon Jung Kook pergi meninggalkan Park Jimin yang masih terduduk dilantai memeganggi ujung bibirnya yang sakit.
Park Jimin pun keluar dari tempat hiburan malam itu, ia sedikit sempoyongan menuju mobil yang ia sewa.
Melihat Jimin keluar dari tempat kotor itu Jung Kook memutuskan untuk mengikutinya hingga ke hotel tempat Jimin menginap, mencoba mencari tahu apa yang akan Jimin lakukan setelahnya. Namun apa yang ia lihat?, ia melihat bagaimana Park Jimin berada dalam pelukan Lee Ha Na kemudian masuk bersama kedalam kamar yang sama. Melihat itu semua tiba tiba yang muncul dan terngiang ngiang dikepala Jung Kook adalah kalimat Park Jimin saat di club tadi.
Mungkinkah Park Jimin dan Lee Ha Na melakukan sesuatu atas dasar suka sama suka?.
(FLASHBACK END)
__ADS_1
***
Laju mobil yang dikendalikan oleh pria tampan bermarga Jeon itu masih melaju kencang diatas kecepatan 120, kemudian Jeon Jung Kook menepikan mobilnya untuk menerima sebuah panggilan yang masuk pada handphonennya.
"Paman, apa paman sudah bertemu dengan princess Lee?" tanya Jeon Hee Ra pada paman tampannya itu melalu panggilan telepon diantara mereka.
"Sudah" jawab Jeon Jung Kook tak bersemangat.
"Lalu?, apa paman bicara banyak dengannya?, atau paman sudah mengutarakan perasaan paman padanya?" Jeon Hee Ra kepo atas apa yang Jeon Jung Kook Lakukan, ia sangat setuju jika pamannya itu bisa jadian dengan Lee Ha Na. Namun semua itu tak semudah dibayangkan oleh Hee Ra, ia tak tahu betapa peliknya masalah yang harus dilewati demi mendapat kan cinta Ha Na.
"Tidak" begitu singkat jawaban yang keluar dari mulut seorang Jeon Jung Kook.
"Apa paman sedang lelah?, sepertinya paman sedang tak bersemangat?, yasudah kalau begitu kumatikan saja teleponnya" Jeon Hee Ra memutuskan sambungan telepon antara ia dan pamannya.
Jeon Jung Kook membanting ponselnya begitu saja keatas dasboard mobil, benda semacam hanphone pun bisa menjadi korban sasaran amarahnya, kemudian ia menundukkan kepalanya bersender pada kemudi mobil hingga akhirnya ia tertidur.
***
Lee Ha Na terbangun ketika ia merasakan ada tangan yang memeluknya, berusaha membuka matanya yang masih terasa mengantuk.
Ha Na mengalihkan pandangannya pada tangan yang masih melingkar diperut ramping miliknya, kemudian beralih pada wajah si pemilik tangan itu
Ha Na sedikit mengulas senyum ketika bisa melihat dengan jelas wajah seorang Park Jimin saat sedang tertidur, wajah sexy itu terlihat lebih tenang dan damai. Diperhatikannya bibir tebal yang semalam menciumnya itu, bibir yang disudut kirinya terdapat lebam dan sedikit luka gigitan darinya semalam.
Ha Na merasa tak tega melihat wajah yang tenang itu terdapat lebam dan luka pada pelipis, Ha Na mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Park Jimin yang tertidur, berusaha tak menimbulkan gerakan yang bisa membangunkan pria itu.
Begitu Ha Na berhasil lepas ia dengan segera bringsut dari atas tempat tidur.
Kringggg.....
"Halo, ada apa Hee Ra?" tanya Ha Na pada seseorang di sebrang sambungan telepon. dan seseorang itu adalah Jeon Hee Ra, keponakan dari laki laki yang ia sukai.
__ADS_1
"Apa semalam paman menemuimu?" tanya Hee Ra.
"Ya, dia membawa sebuket mawar, namun kemudian ia pergi bersama Park Jimin, aku yakin mereka Pergi minum bersama, soalnya aku menemukan Park Jimin pulang dalam keadaan mabuk dan bau anggur, cuma yang aku bingung adalah kenapa Park Jimin pulang sendiri dalam keadaan babak belur" terang Ha Na dengan suara sedikit pelan agar tidak membangunkan pria tampan maniak sex uang sedang tertidur dengan tenang diatas ranjangnya.
"Benarkah?, apa terjadi sesuatu diantara mereka, soalnya semalam paman hanya menjawab sekenannya pertanyaanku saat aku mencoba menghubunginya, hingga pagi ini pun paman tak mengangkat lagi teleponnya" Jeon Hee Ra khawatir jika pamannya dan Park Jimin terlibat masalah.
"Nanti biar kucoba tanyakan pada Park Jimin langsung" jelas Ha Na.
"Baiklah, kalau begitu kumatikan teleponnya, aku harus berangkat ke kampus, jangan lupa nanti kabari aku" kemudian Jeon Hee Ra benar benar memutuskan panggilannya.
Ha Na meletakkan handphone miliknya keatas meja disebelah lampu tidur. Kemudian ia ke kamar mandi dan mengganti pakainnya dengan yang lebih nyaman.
Ha Na keluar dengan membawa handuk kecil yang sudah ia basahkan dengan air hangat dari kran. Di usapnya handuk itu pada luka yang ada dipelipis Park Jimin, darah yang semalam menempel sudah mengering membuat Ha Na sedikit kesusahan untuk menghilangkan dan membersihkannya.
"Eughhh..." Park Jimin melengguh dan menggeliat kecil ketika merasa sedikit sakit pada pelipisnya, membuka matanya meski sejatinya ia masih sangat mengantuk.
"Kau sudah bangun?" tanya Lee Ha Na dengan sebuah senyum yang membingkai bibirnya, tangannya masih setia membersihkan luka diwajah pria yang dulu merusaknya. "Maafkan aku, aku hanya mencoba membersihkan lukamu, apa ini terasa sakit?" tanya Ha Na lagi.
"Tidak" Park Jimin menjawab Ha Na namun ia memejamkan matanya kembali, efek mabuk semalam masih terasa, Jimin merasa ia seperti sedang jetlag.
"Selesai" Ha Na bangkit dari posisi duduknya setelah ia selesai membersihkan luka luka diwajah Jimin.
"Kau mau kemana?" tanya Jimin sambil menahan lengan Ha Na.
"Aku harus pergi mandi"
"Kau tak mau mengajakku mandi bersama?" sempat sempatnya Jimin bercanda.
Tak Ha Na hiraukan lagi Park Jimin, semakin ia meladeni pria gila itu maka semakin menjadi jadi juga ia nantinya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
__ADS_1
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz