
Lee Ha Na kembali menuju hotel dimana ia menginap, tentu saja bersama Park Jimin karena pria itu sudah membooking satu kamar tepat disebelah kamar yang ditempati Ha Na.
Ha Na berada satu mobil dengan Park Jimin, Kalau kalian penasaran bagaimana Jimin memiliki mobil di New York tentu saja ia menyewanya. Sementara Kim Eun Seo dijemput oleh kakak dan calon kakak iparnya, untuk manager Ha Na ia pulang menggunakan fasilitas yang sudah tersedia oleh pihak acara.
Ha Na hanya duduk diam, sesekali melihat kearah luar jendela menikmati betapa indahnya pemandangan kota New York dimalam hari.
"Pemandangan yang indah bukan?" tanya Jimin memecah keheningan suasana diantara keduanya.
"Sangat, ini sangat indah, aku harap suatu saat aku dapat mengunjungi kota ini dengan sumiku" jelas Ha Na.
"Tentu saja kita akan mengunjungi tempat ini lagi nyonya Park" Park Jimin tersenyum, ia sangat senang memanggil Lee Ha Na dengan sebutan seperti itu.
Lee Ha Na mendelik pada Jimin " urusi saja wanitamu itu" ketus Ha Na.
"Wanitaku?, wanitaku bukannya cuma kamu saja?" Jimin bertanya sambil memainkan alisnya.
"Gila, kau benar benar gila, untuk apa kau menungguku ha?, sementara dirumahmu sudah ada wanita yang berharap sekali untuk bisa kau nikahi"
"Kau cemburu dengannya?" goda Park Jimin ke Ha Na.
"Tidak sama sekali"
"Benarkah?"
"Tentu saja, karena aku sedikitpun tak pernah bermimpi atau berharap ingin menikah denganmu, membayangkannya saja aku tak mau"
"Kau kejam sekali Ha Na"
"Menurutmu lebih kejam aku atau kau yang menggantung hati seorang wanita, terlebih wanita itu telah berulang kali kau pakai sebagai pemuas hasrat gilamu itu"
"Itu risikonya, lagipula sejak awal aku sudah katakan pada jal*** itu aku sama sekali tak akan menikahinya, bahkan ia mengangguk mengiyakan semua, dan aku, aku selalu mencukupi kebutuhannya hanya saja untuk menikah dengannya itu tidak akan pernah terjadip. Ck... dasar jal***, seharusnya ia sadar diri, ia sengaja menghentikan penggunaan alat pencegah."
"Bahkan saat ia yang sebentar lagi akan melahirkan penerusmu kau tak akan menikahinya?"
__ADS_1
"Tidak, tapi aku tidak akan lepas tangan begitu saja aku akan menanggung semua kebutuhannya juga anaknya"
"Kau bilang anaknya?, dasar pria gila, bahkan kau tak menganggap itu anakmu?"
"Bukan begitu maksudku"
"Kau benar benar gila Park Jimin, bahkan kau tak punya hati, Kak Namjoon saja akan menikahi wanitanya karena ia telah hamil, dan kau?, kau bahkan tak menganggap anak itu anakmu setelah kau tahu betul itu darah dgingmu sendiri?"
"Berhenti membahas hal itu Lee Ha Na" bentak Park Jimin. "Aku tahu kau tak punya perasaan terhadapku, tapi untuk membahas kehidupanku itu semua bukan urusanmu jika kau bukan bagian dari hidupku"
"Aku tahu aku bukan bagian hidupmu" hanya itu yang mampu Lee Ha Na katakan terakhir kali, ia takut jika melihat Park Jimin telah marah seperti barusan. Kemudian suasana diantara keduanya kembali hening.
***
Lee Ha Na juga Park Jimin sudah tiba di parkiran bawah tanah tempat mereka menginap, ketika Lee Ha Na baru saja turun dari mobil yang dikemudikan oleh Park Jimin ia melihat sosok lelaki yang berdiri menyender pada mobilnya, lelaki yang mana Lee Ha Na sama sekali tak bisa melupakannya.
Lelaki itu tersenyum pada Lee Ha Na namun beberapa saat kemudian senyum itu memudar bersamaan dengan Park Jimin yang juga keluar dari mobil yang sama dengan Lee Ha Na.
"Ya, aku kebetulan sedang ada perjalanan bisnis bersama kakakku disini, jadi aku datang kemari untuk mengucapkan selamat pada Lee Ha Na atas kesuksesannya malam ini" jawab Jeon Jung Kook.
Jeon Jung Kook dengan setelan kemeja abu abunya berjalan menghampiri Lee Ha Na "Bunga mawar merah untuk Princess Lee" Jung Kook memberikan sebuah buket bunga mawar merah pada Lee Ha Na, sama seperti buket bunga yang Ha Na terima dari Park Jimin.
"Terima kasih banyak paman" Lee Ha Na tersenyum manis dan sedikit malu pada Jeon Jung Kook yang memberinya mawar merah itu, Ha Na memanggilnya dengan sebutan paman tentu saja itu semua karena permintaan dari Jeon Hee Ra. Kalian ingat kan Jeon Hee Ra adalah keponakan Jeon Jung Kook, ia bersahabat baik dengan Lee Ha Na sejak kejadian malam kecelakaan itu.
Park Jimin yang melihat perubahan ekspressi wajah dari Lee Ha Na membuat hatinya sakit.
"Kenapa ia berubah menjadi manis seperti itu?" Park Jimin bertanya tanya pada dirinya sendiri, sungguh melihat itu membuat Park Jimin terbakar api cemburu, "Apa mungkin pria yang disukai oleh Lee Ha Na adalah dia?" batin Jimin.
Jimin bukannya tidak tahu jika Jeon Jung Kook menyukai Lee Ha Na, bahkan sejak awal pun ia mengetahui segalanya, ia hanya saja tak ingin membuat hubungan atara ia dan Jeon Jung Kook menjadi keruh, lagipula bukannya Jeon Jung Kook sendiri yang pernah bilang kalau ia tak tertarik pada Ha Na. Sebaliknya, Jeon Jung Kook pun paham betul kalau Park Jimin sangat mencintai Lee Ha Na, bahkan hingga sekarang ia tak hentinya berusaha untuk mendapatkan cinta seorang Lee Ha Na.
"Ekhemm, Lee Ha Na kau masuklah ke kamarmu, aku ada yang ingin kubicarakan dulu pada Jeon Jung Kook" Jimin meminta Ha Na untuk masuk kekamarnya, ia ingin bicara empat mata pada Jeon Jung Kook soal Lee Ha Na.
Lee Ha Na yang tadinya sudah takut pada Park Jimin yang mulai tersulut emosinya hanya karena Lee Ha Na membahas soal jal*** simpanan, ia hanya bisa menurut apa yang Jimin Katakan, Ha Na langsung menuju ke koridor untuk masuk kedalam hotel.
__ADS_1
Setelah Lee Ha Na benar benar tak nampak dari pandangan mata kedua pria yang sedang merebut hati yang sama itu. Park Jimin mengajak Jeon Jung Kook pergi dari sana "ada yang ingin kukatakan padamu, bisa kita bicara ditempat lain?"
"Tentu"
***
Disebuah tempat hiburan malam yang cukup terkenal di kota New York.
Park Jimin juga Jeon Jung Kook duduk didekat barista, menikmati minuman yang mereka pesan. Anggur yang sudah didiamkan berpuluh puluh tahun menjadi pilihan mereka malam itu.
Suasana ditempat itu cukup ramai, banyak pasangan yang menari meliuk liukkan tubuh mereka dilantai dansa, diiringi alunan musik yang dimainkan oleh seorang DJ. Dentuman musiknya terdengar begitu menggema di tempat itu, hinga siapapun yang sedang berbicara harus sedikit berteriak agar sang lawan bicara bisa mendengar dengan baik.
Seorang wanita dengan dress merah dan berukuran mini yang begitu ketat hingga menampakkan belahan dada dan lekuk tubuhnya menghampiri kedua pria yang sepertinya sudah mulai mabuk akibat terlalu banyak menikmati anggur mereka.
"Apa kalian butuh teman malam ini? wanita itu sedikit berteriak karena suara musik disana begitu keras.
Jeon Jung Kook mengangkat tanganya meminta wanita itu untuk berhenti bertanya, kemudian wanita itu menghadap kepada Park Jimin.
" Bagaimana denganmu tuan?" tanya wanita dengan dress merah itu pada Park Jimin tepat ditelinganya, tangan yang nakal dari wanita itu sengaja menyentuh area sensitif seorang Park Jimin, berusaha untuk menggoda mencari mangsa. begitulah kehidupan dari seorang wanita penghibur.
"Aku sedang tidak butuh" Jimin menepis lengan wanita malam itu.
"Owh, okay" kemudian wanita dengan dress yang hampir memperlihatkan pahanya dengan sempurna itu pergi lalu kembali meliuk dilantai dansa, mencoba untuk mencari mangsa lain melalui gerakan vulgar yang ia lakukan.
Apa yang sekiranya dibicarakan oleh kedua sahabat yang tengah merebut hati yang sama itu?
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Jangan lupa Vote, Like, Favorit, dan Comment guys, kalian yang membaca adalah harapanku untuk terus melanjutkan tulisan ini.
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz
__ADS_1