Still Loving You

Still Loving You
PENGARUH OBAT


__ADS_3

"Paman, apa yang kau lakukan?" tanya Jeon Hee Ra takut dan pelan ketika Jung Kook mencoba menciumi dirinya. Ini benar benar tak masuk akal.


Jeon Hee Ra menjauhkan tubuh sang paman dari dirinya. Ingin berteriak tetapi tak mungkin, ia tidak mungkin membangunkan ayah dan ibunya, tidak mungkin juga ia membiarkan kedua orangtuanya tahu kalau pamannya sedang mencoba mencumbui dirinya.


"Paman aku mohon sadarlah, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Jeoh Hee Ra memohon pada sang paman untuk berhenti melakukan hal gila itu.


Jeon Jung Kook masih saja membenamkan kepalanya pada ceruk leher keponakan sendiri, sesekali bibirnya menyentuh bibir tipis Jeon Hee Ra, dikukungnya tubuh indah keponakannya sendiri dibawah tubuhnya. Tenaga lelakinya tak mampu untuk Hee Ra lawan.


Jung Kook sebenarnya juga merasakan sesuatu yang tidak beres terjadi padanya, meski ia berada dibawah pengaruh Wine tetapi ia merasa jika mabuk Wine dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini sangatlah berbeda.


Jika ia dalam pengaruh Wine ia hanya akan merasa kepalanya pusing berat, tapi kali ini sepertinya ia merasa begitu panas. Sampai sampai panas itu membakar gairahnya.


Dan gilanya lagi ia seolah berhalusinasi melihat Lee Ha Na, padahal yang dihadapannya adalah keponakan kandung sendiri.


Tidak hanya disitu saja, Jeon Jung Kook semakin aktif memainkan jemarinya, menyentuh menjajal tubuh indah Jeon Hee Ra. Mempertipis jarak diantara keduanya.


Gadis Jeon itu masih terus berusaha menyadarkan paman tampannya itu, kepalanya terus berusaha mengelak menjauhi wajah Jung Kook yang terus mencoba menggapai wajahnya.


Hiks... Hiks...


Jeon Hee Ra mulai terisak ketika pamannya semakin menggila. "Paman aku mohon hentikan, aku keponakanmu, aku putrimu paman, aku mohon sadarlah, hikss.. hikss" pinta Jeon Hee Ra.


Mendengar tangis pilu yang keluar dari bibir Jeon Hee Ra membuat Jung Kook sedikit mengerjap, menggelengkan kepalanya, berusaha membawa dirinya sendiri menuju alam sadar.


"Tidak, ini tidak benar Jeon Jung Kook" Jung Kook turun dari atas tubuh Jeon Hee Ra, dengan cepat pula gadis Jeon itu menjauhi pamannya.


"Sayang, maafkan paman, paman... paman... dalam pengaruh. Aihhhhhh...." Jeon Jung Kook mengusap wajahnya gusar, wajahnya seolah menahan sesuatu. Entahlah sesuatu semacam apa itu. Yang pasti sesuatu itu tak bisa ia ungkapkan pada keponakannya.


"Apa yang terjadi padamu paman?, apa kau sakit?" dalam ketakutannya pun Jeon Hee Ra masih bisa memperdulikan pamannya. Ia begitu tidak tega melihat pamannya seperti sedang menahan sesuatu yang membuatnya seperti tersiksa.


Jeon Jung Kook yang duduk ditepi ranjang mencoba terus menggiring diri untuk kembali kealam sadarnya, ia mencoba mengingat kejadian di club malam yang ia kunjungi tadi. Ia baru ingat jika tadi ia menerima segelas Wine dari wanita malam yang ada disana. Biasanya wanita wanita itu akan membubuhi minuman dengan obat perangsang lalu memberikan minuman itu pada mangsanya agar mereka bisa menghasilkan uang yang banyak dari mangsa berdompet tebal sekelas Jeon Jung Kook. Dan setelah menerima juga menenggak habis minuman tersebut Jeon Jung Kook buru buru pulang dan akhirnya ia baru merasakan pengaruhnya begitu sampai dirumah.

__ADS_1


"Sayang, cepat keluar dari dalam kamar paman" perintah Jung Kook pada Hee Ra tanpa melihat wajahnya. Ia tidak ingin kehilangan kendali jika gadis Jeon itu masih disana.


"Tapi paman..., kau terlihat sedang tidak baik baik saja" bodohnya Jeon Hee Ra yang sama sekali tidak mengerti situasi dan maksud pamannya tersebut.


"Cepat keluar" Jeon Jung Kook menunjuk kearah pintu kamarnya mengusir keponakannya dari sana.


"Apa paman butuh sesuatu?" dengan polosnya Jeon Hee Ra bertanya seperti itu.


"Aku membutuhkan tubuhmu sayang, tapi aku tidak bisa karena kau keponakanku" batin Jeon Jung Kook.


"Paman bilang cepat keluar" perintah lelaki Jeon itu lagi.


"Apa paman butuh air putih hangat?"


"Tidak, tidak, cepatlah pergi dari sini atau kita dalam masalah" ucap Jeon Jung Kook masih mengusir Jeon Hee Ra.


"Dalam masalah seperti apa paman?" Jeon Jung Kook mengutuk kepolosan keponakannya. Ia benar benar membeci situasi tersebut. Kenapa gadis Jeon itu sama sekali tidak mengerti.


Masih dengan air mata ketakutan Jeon Hee Ra kembali ke kamarnya. Otaknya mencoba terus berpikir ada apa sebenarnya yang terjadi pada pamannya tersebut, pengaruh obat apa yang dimaksud pamannya.


didalam kamarnya Jeon Hee Ra meringkuk menutup dirinya dengan selimut. Ia takut dengan apa yang telah pamannya lakukan barusan. Tetapi, ia juga bingung apa yang sebenarnya terjadi dengan paman tampannya itu.


Sementara itu dikamarnya Jeon Jung Kook begitu gusar, ia tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Sungguh kesialan baginya, ia dikirmkan oleh Jimin sesuatu yang membuat jantungnya seolah mendidih, kemudian ia dikerjai oleh wanita malam dan hampir saja menikmati tubuh keponakan sendiri.


***


Pagi hari


Keluarga Jeon sedang sibuk menikmati sarapan pagi mereka, diselingi dengan perbincangan mengenai perusahaan property milik mereka, hanya satu yang belum berkumpul disana yaitu putri satu satunya keluarga Jeon.


Kemudian Jeon Hee Ra turun dari kamarnya, ia sudah terlihat sangat rapi sepertinya ia akan pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


"Selamat pagi sayang, apa tidurmu nyenyak semalam?" nyonya Jeon menyapa putri cantiknya itu dengan senyum ketulusan.


"Aku tidur dengan baik bu" Jeon Hee Ra berbohong, padahal yang terjadi sebenarnya adalah ia terjaga hingga akhirnya hanya tertidur satu jam dipagi hari. Ia tidak bisa tertidur karena kejadian itu. Ia takut dan terus penasaran pada pamannya.


Sementara itu Jeon Jung Kook hanya menunduk menikmati roti panggang miliknya tanpa berani menatap keponakannya, ia masih begitu merasa bersalah. Namun, masih untung ia bisa sadar dengan cepat atau ia akan benar benar menghancurkan keponakannya sendiri.


Tahu jika pamannya sedang dalam keadaan canggung, Jeon Hee Ra pun tak menyapa pamannya. ia hanya menciumi pipi ayah dan ibunya saja.


"Kau mau kemana nak?, sepertinya kau sudah sangat rapih?" tanya tuan Jeon Jung Sik pada putrinya yang sudah cantik dan rapih, menggunakan dress putih selutut berlengan panjang berbahan brukat, rambutnya sudah dikuncir satu sedikit tinggi, memperlihatkan kehernya yang jenjang, tas sandang kecil berwarna silver juga telah bergelayut dibahunya.


"Ayah, sepertinya dalam beberapa hari ini aku akan menginap di rumah ayah Choi" ucap Jeon Hee Ra pada ayahnya.


"Kenapa begitu tiba tiba nak?"


"Ayah Choi baru mengabariku jika ia sedang cuti beberapa hari, jadi inilah waktunya aku bisa bermalam disana, sekaligus mengunjungi rumah panti" Jeon Hee Ra berbohong, sebenarnya itu hanyalah sebuah pelarian. Ia ingin menenangkan dirinya untuk sementara waktu. Sepertinya ia butuh waktu untuk bisa biasa biasa saja pada pamannya setelah apa yang ia dapati semalam.


Kalian ingat kan dengan doktet Choi ayah angkat dari Jeon Hee Ra/ Jeon Mi Kyung sebelum ia akhirnya dipertemukan dengan keluarga sesungguhnya.


Jeon Jung Kook tahu jikalau sebenarnya itu sebuah alsan yang keponakannya cari. Ia tahu betul kalau keponakannya itu sedang takut dan tak ingin melihat dirinya. Lagi lagi Jung Kook mengutuk kejadian semalam.


"Baiklah nak, kalau begitu biarkan pamanmu yang antar setelah selesai sarapan tentunya" ucap tuan Jeon.


Ukhuk.. ukhuk..


Jeon Jung Kook tersedak lantas buru buru meminum air putih yang sudah ada dihadapannya.


"Tidak..., tidak ayah, aku akan berangkat sendiri, izinkan aku membawa mobil sendiri, aku berjanji akan hati hati" tolak Jeon Hee Ra dengan cepat. Bagaimana mungkin ayahnya meminta sang paman yang mengantar sedangkan ia ingin pergi karena berniat menghindari pamannya itu.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Author: Ameera Limz

__ADS_1


__ADS_2