
"Terima kasih sudah meminjamkan Handphone milik paman?" Jiseok membungkukkan sedikit tubuhnya. Anak itu benar benar sopan.
"Sama sama" entah dorongan dari mana membuat Jung Kook mengusap puncak kepala Jiseok dengan begitu lembutnya. Kalau diperhatikan wajah anak itu seperti seseorang yang Jung Kook kenal. Hingga Jung Kook pun tanpa sadar terus memperhatikan wajah si kecil Jiseok dan membuat Ha Ra cucunya sendiri merasa cemburu dan diabaikan.
"Sudah cukup memperhatikannya?" tanya Ha Ra seraya menggembungkan pipinya yang Chubby, malah membuat anak perempuan itu semakin menggemaskan.
"Oh, yaampun cucu cantik Harabeoji cemburu ternyata" bukannya membujuk Ha Ra, Jung Kook malah semakin menggodanya.
"Awas saja, nanti Ha Ra bakalan lapor sama Big Papa" Ha Ra mengancam, orang yang ia panggil dengan sebutan Big Papa adalah Jeon Jung Sik, masih ingat kan dengan lelaki tua yang satu itu?. Ya, Jung Sik begitu menyayangi Ha Ra. Jung Sik tak segan memarahi siapapun yang membuat Ha Ra kesal, tak terkecuali orang tua Ha Ra sendiri.
"Sayang, kenapa kakek Jung Sik kau panggil Big Papa?" Jung Kook penasaran. Ia yang masih muda harus dipanggil kakek atau Harabeoji. Sementara kakaknya Jung Sik yang kakek sungguhan masih dipanggil dengan sebutan yang keren seperti itu.
"Karena Big Papa itu sayang padaku. Tidak seperti kakek yang sering menggoda Ha Ra. Wleeee..." Ha Ra menjulur lidahnya mengejek pada Jung Kook. "Kakek kenapa belum cari Halmeoni?" tanya Hara yang begitu tiba tiba. Kalau Jung Kook sedang makan ditanyai seperti itu oleh anak kecil pastilah ia akan tersedak.
Melihat kedekatan antara Jung Kook dan Ha Ra membuat Jiseok merasa sedikit sedih. Dalam hati dia terus bertanya tanya "kenapa aku tidak punya keluarga lain selain ibu dan nenek?".
"Paman dan Ha Ra kalau mau pulang duluan tidak apa apa. Aku berani kok menunggu ibu sendirian disini, sebentar lagi pasti ibu sudah sampai" Jiseok bersuara, memecah perseteruan antara kakek dan cucu yang membuatnya sedikit bersedih. Jiseok juga ingin merasakan punya banyak orang yang sayang padanya, bukan cuma ibu dan nenek saja.
"Tidak apa apa kok, Ha Ra bakalan menemani sampai ibumu jemput" sahut Ha Ra. Dan Jung Kook mengangguk.
"Serius Paman, ibuku tidak suka aku bersama orang asing, kalau ibu lihat aku bersama dengan Paman dan Ha Ra takutnya Ibu malah mengira Paman yang mengajakku kemari. Aku tidak mau Ibu marah lagi"
"Oh, begitu rupanya. Apa kau yakin akan menunggu sendirian?" Jung Kook sedikit ragu.
"Iya Paman. Aku tidak apa apa sendirian. Aku tidak akan kemanapun, aku akan menunggu sampai Ibu datang"
"Yasudah kalau seperti itu, Paman dan Ha Ra pulang duluan ya?"
"Iya, dah.. Paman, dah.. Ha Ra" Jiseok melambaikan tangannya pada pasangan kakek dan cucu itu. Sebelum akhirnya mereka berdua menghilang dari pandangan Jiseok.
***
__ADS_1
Di lain tempat Ha Na merasa begitu legah setelah menerima panggilan dari anaknya. Padahal sebentar lagi ia sudah hampir sampai ke Rumah Sakit.
Tentu saja Ha Na langsung memutar balik perjalanannya. Sebelum Jiseok pergi bersama orang lain lagi.
Beberapa menit kemudian Ha Na menepikan mobilnya pada jalanan di dekat taman. Sesegera mungkin menemui Jiseok.
"Heuh, untunglah dia benar benar disini" Ha Na bernafas legah menemukan putranya duduk di salah satu bangku yang ada.
"Sayang kenapa kau kemari?, seharusnya kau tunggu saja di depan sekolah, kau tidak apa apa kan?"
"Ibu, aku baik baik saja, aku bisa bela diri seperti ibu. Aku akan menghajar orang orang yang akan jahat padaku". Demi apa?, Jiseok benar benar bersifat narsis persis Park Jimin. Bahkan anak itu sudah sangat pandai bicara.
"Tetapi tetap saja anak ibu masih terlalu kecil" Ha Na menjatuhkan bantalan duduknya tepat di sebelah Jiseok. "Katakan pada ibu kenapa bisa sampai disini?, dan Handphone siapa yang kau pinjam tadi?"
"Tadi aku kesini bersama Ha Ra"
"Teman sekelasmu yang kau bilang sangat cantik itu kan?, lalu dimana dia sekarang?"
Sekali lagi Ha Na bernafas legah, rupanya hanya seorang kakek kakek dan itupun kakek dari teman anaknya. Untunglah Jiseok tidak bersama orang asing seperti waktu itu.
"Syukurlah, tapi ingat lain kali tidak boleh pergi kemanapun sebelum Ibu menjemputmu. Okay?"
"Okay" Jiseok dan Ha Na menautkan jari kelingking mereka. Seperti itulah kebiasaan antara anak dan ibu itu ketika berjanji. "Tapi ibu, tadi sepertinya Ha Ra dan kakeknya bisa berbahasa Korea, Ha Ra menyebutkan kata Harabeoji dan Halmeoni. Bukankah itu artinya kakek dan nenek?"
"Betul, memangnya siapa nama lengkap temanmu itu?"
"Kim Ha Ra, namanya Kim Ha Ra"
"Kalau dari nama sepertinya mereka juga orang yang sama seperti kita, lain kali ibu harus ketemu dengan temanmu itu"
***
__ADS_1
"Kakek, bisakah kita kembali lagi ke taman?, sebentar saja, Ha Ra mau berikan es krim ini pada teman Ha Ra" baru saja Ha Ra dan Jung Kook mampir ke salah satu toko untuk membeli es krim. Seperti biasa, dia akan membelikan es krim untuk Ha Ra setiap kali menjemput.
"Bagaimana kalau dia sudah dijemput?"
"Kita lihat saja dulu"
"Baiklah" Jung Kook akhirnya menyerah.
Ketika sudah kembali lagi di taman Jung Kook tidak ikut turun dari mobilnya, ia hanya menunggu Ha Ra untuk memberikan es krim itu sebentar.
"Jiseok masih disini?, ini Ha Ra belikan es krim untuk Jiseok" Ha Ra menyodorkan sebungkus es krim pada Jiseok. "Eh, ini pasti ibunya Jiseok ya?" Ha Ra melihat pada Ha Na yang duduk bersebelahan dengan Jiseok.
"Manis dan cantik sekali" batin Ha Na ketika melihat sosok gadis kecil bernama Ha Ra. Pantas saja Jiseok terus terusan bercerita dan memuji tentang Ha Ra. Anaknya masih kecil saja sudah pandai membedakan mana yang bibit unggul dan tidak. "Iya, bibi ini Ibunya Jiseok, terima kasih ya sudah repot memberikan es krim untuk Jiseok" Ha Na menyapa dan mengenalkan dirinya. "Ha Ra kembali lagi kesini sendiri?"
"Tidak, kakek menunggu di dalam mobil. Yasudah, sekarang Ha Ra pulang ya. Sumpai jumpa Bi, dah.. Jiseok"
"Dah.. Cantik" Ha Na ikut melambai.
"Dah.. Sayang" ucap Jiseok sambil melambai pula. Sontak saja membuat Ha Na terpelongo dengan ucapan anaknya. Ya tuhan, anak laki lakinya kenapa tumbuh seperti orang dewasa?.
"Sayang????" tanya Ha Na sambil melototkan mata pada Jiseok.
***
Jung Kook benar benar melewati sebuah momment, andai saja dia ikut turun bersama Ha Ra pasti ia sangat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Seharusnya ia bisa menghapus rindu.
Benar benar tuhan belum membiarkan mereka bertemu dengan cara itu. Lalu dengan cara apa tuhan akan mempertemukannya dengan Ha Na?.
LOVE LOVE
__ADS_1
Author: Ameera Limz