
Pukul 23.00 KST
Lee Ha Na baru saja hendak pulang dari markas Park Jimin, latihan hari ini membuat tubuhnya cukup lelah dan ia butuh istirahat dengan segera.
"Kau sudah mau pulang?" tanya Park Jimin begitu melihat Lee Ha Na sudah bersiap siap.
"Tentu saja aku sudah mau pulang, sekarang sudah malam, hari ini aku berlatih lebih lama dari biasanya" Lee Ha Na mengambil tas sekolahnya yang ia bawa tadi.
Tiba tiba saja Jae Hyuk berbisik pada Park Jimin dan membuat Lee Ha Na sedikit penasaran dengan apa yang dibisikkan Jae Hyuk pada Park Jimin. Tapi perduli apa dia dengan urusan orang lain, Ha Na mencoba mengabaikan rasa penasarannya sendiri dan hendak pergi begitu saja.
"Lee Ha Na, sebaiknya malam ini kau tidur disini saja" Jimin mencegat Ha Na yang baru sajau mau pergi.
"Kau gila tuan Park?, aku tidak akan mau menginap dirumahmu ini"
"Tapi ini demi kebaikanmu Ha Na"
"Kebaikan apa?, yang lebih baik itu aku pulang dengan segera sekarang"
"Tidak Ha Na, aku serius, aku mohon untuk kali ini kau dengarkan aku" pinta Jimin pada Ha Na.
"Ada apa sebenarnya?" Lee Ha Na mulai curiga, semua ini pasti ada kaitannya dengan apa yang dibisik Jae Hyuk barusan.
"Nona Lee, didepan sudah ada musuh yang mengepung markas, akan sangat bahaya jika nona keluar dari sini, nona akan tetap aman jika tetap disini, kami akan mencari cara untuk mengusir mereka semua" terang Jae Hyuk dengan seriusnya lalu ia pergi dengan langkah cepat meninggalkan ia dan Park Jimin saja.
"Kalian pasti berbohong kan?" Lee Ha Na masih belum percaya begitu saja.
"Kalau kau tak percaya kau boleh pergi sekarang" Park Jimin menggeram kesal karena Ha Na tak mempercayainya.
"Aku.... aku percaya, aku akan menginap disini malam ini" Ha Na takut ketika melihat Jimin menggeram padanya.
Park Jimin kemudian mengulas senyum ketika akhirnya Lee Ha Na menyerah.
"Tapi aku ada satu permintaan padamu tuan Park" Ha Na memberi syarat pada Park Jimin.
__ADS_1
"Apa itu?"
"Aku tidak mau tidur dikamar gelap itu"
"Kamar gelap?, maksudmu?"
"Maksudku........" Ha Na menggantung kata katanya.
"Oh..., apa maksudmu kamar yang itu?" Park Jimin mulai paham kamar mana yang dimaksud oleh Lee Ha Na, kamar itu adalah kamar dimana Park Jimin menyekap dan mencuri hal paling berharga di diri Ha Na, kamar yang seluruh interior didalamnya bernuansa hitam dan abu abu, benar benar gelap seperti yang dimaksud oleh Lee Ha Na. "Maafkan aku Ha Na, sepertinya aku menimbulkan trauma bagimu" Jimin sedikit menyesal.
"Tidak masalah, Lalu aku harus tidur dimana?" tanya Lee Ha Na.
Park Jimin tersenyum mendengar pertanyaan Lee Ha Na, "Kau bisa tidur dikamarku bersama denganku".
"Kau gila, lebih baik aku pulang dan ditangkap oleh musuh musuhmu dibanding aku harus tidur sekamar denganmu" Lee Ha Na kesal karena Park Jimin masih sempat sempatnya ia bicara seperti itu, entah ia bercanda atau sungguhan tapi Lee Ha Na tidak akan pernah mah tidur sekamar dengan pria gila dan mesum semacam Park Jimin.
"Haha... padahal aku sangat menginginkamu Lee Ha Na"
"Kau masih kecil memang, tapi hanya untuk ukuran usia, kau bahkan tumbuh layaknya wanita dewasa dan kau juga sudah merasakannya" Park Jimin menatap Lee Ha Na dengan seringai juga berjalan mendekati Lee Ha Na dan memainkan surai coklat muda Lee Ha Na. Ha Na menepis tangan Park Jimin yang menyentuh surai nya yang tergerai dan membuatnya ingin sekali meninju muka Park Jimin tersebut.
Ha Na menangkap pergelangan tangan Park Jimin kemudian memelintirnya dengan cukup kuat dan membuat Park Jimin sedikit meringis, rupanya ia sedikit berhasil mengajarkan Lee Ha Na bela diri.
"Lepaskan tanganku Ha Na" pinta Jimin, "baiklah, kau tidur dikamarku dan aku tidur dukamar tamu"
"Kau serius kan?"
"Aku serius nona Lee, sekarang lepaskan tanganku".
Dan Lee Ha Na melepaskan pergelangan tangan Park Jimin lalu menatap tajam padanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Heran Jimin.
"Tidak ada"
__ADS_1
"Aku akan tidur dikamar tamu, tapi kamar tamu tepat berada di sebelah kamarku, aku harap kau tidak akan terganggu jika nanti kau mendengarkan suara suara aneh dari kamar sebelah karena aku akan membawa wanita kesini.
" Wanita?"
"Ya, sepertinya aku membutuhkan wanita untuk menyelesaikan semua ini"
"Menyelesaikan apa maksudmu?" tanya Ha Na polos.
"Kau tak perlu tahu, lebih baik sekarang kau tidur saja, hari sudah sangat malam, aku akan mengantarkanmu kekamarku" Park Jimin membawa Lee Ha Na menuju lantai dua dimana kamarnya ada diatas sana.
Sementara itu Lee Ha Na masih terus berfikir maksud perkataan Park Jimin barusan, menurutnya kata kata itu terlalu ambigu untuk dimengerti olehnya yang masih 16 tahun itu.
***
Tuk..Tuk..Tuk..
Suara derap langkah dari sepatu pantofel hitam yang digunakan dokter Choi menggema dilorong rumah sakit yang mulai sunyi karena hari telah malam.
Dengan penuh wibawa dibalik jas putih kebanggaan dokter Choi menuju ruang dimana Jeon Mi Kyung dirawat, ia harus bisa mendapatkan sampel DNA milik Mi Kyung untuk kemudian dicocokkan dengan sampel milik tuan Jeon Jung Sik. Dokter Choi sudah menyiapkan alasan yang tepat untuk mengambil sampel darah dan helai rambut milik Mi Kyung.
Ceklekk....
Dokter Choi membuka pintu kamar tempat Mi Kyung dirawat.
"Ayah, darimana ayah tahu aku ada disini?" ucap Jeon Mi Kyung begitu melihat dokter Choi masuk kedalam ruangannya.
Siapakah sebenarnya dokter Choi? kenapa Mi Kyung menyebutnya ayah?.
***************************************
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz
__ADS_1