
"Paman apa bisa kami tinggal disini saja?" meski ragu untuk bicara akhirnya Ha Na memberanikan diri. Ia ingin tinggal dirumah yang satu itu. Alasannya ia bisa lebih tenang dan bisa mengunjungi Park Jimin kapanpun ia inginkan.
Jae Hyuk tersenyum, tentulah hal itu yang memang diinginkan Park Jimin. Dulu lelaki Park itu sengaja membeli rumah disana karena ada sesuatu yang memang direncanakan olehnya.
"Lalu bagaimana dengan bisnis kita?, dan kariermu?"
"Paman adalah orang kepercayaannya. Dan aku mempercayai paman juga. Tolong paman yang mengurusi semuanya. Untuk karier biarlah aku memulainya dari awal disini. Aku suka tempat ini paman, lagi pula di tempat lama akan tidak baik untuk kenyamanan Jiseok. Sewaktu waktu akan ada musuh musuh lama Park Jimin yang akan membuat keributan"
"Baiklah jika memang itu yang kau pilih nak. Lalu apakah nyonya Min akan tinggal bersamamu?"
"Iya, ibu akan tinggal disini bersamaku. Bukan begitu bu?" Ha Na menatap pada sosok nyonya Min Ri meminta persetujuan. Sebenarnya tanpa Ha Na meminta persetujuan pun nyonya Min akan tetap bersama dengannya.
***
"Sayang, kau sedang apa?" Park Jimin bergelayut manja memeluk tubuh Park Ha Na dari arah belakang. Tangan yang jari jemarinya berhias cincin cincin berukuran cukup lebar membuat Ha Na sedikit tersentak, pasalnya dingin material logam cincin tersebut ketika diruangan menggunakan Air Conditioner terasa begitu menyengat saat bersentuhan langsung pada kulit perut yang mulai membuncit.
"Jim, bisakah kau biarkan aku memasak dengan tenang?" rengek Park Ha Na kala suaminya mengganggu rutinitas paginya yaitu menyiapkan sarapan sendiri untuk mereka nikmati.
Bukan melepaskan justru Park Jimin semakin menjadi jadi, Jimin mengusapkan telapak tangannya pada perut yang tak lagi rata. Menempelkan dagunya dengan manja pada bahu istrinya.
"Istriku belum mandi tetapi dia tetap wangi" Park Jimin mengendus aroma Cherry Blosssom dari ceruk leher Ha Na. Wangi yang sangat disukainya. Ah, bukan hanya Cherry Blossom saja. Tetapi, hampir semua wewangian yang digunakan Ha Na dia sangat menyukainya.
Park Ha Na membalik tubuhnya hingga ia berakhir dalam pelukan Park Jimin. Ha Na tersenyum, jemarinya mencoba merapikan surai berantahkan Jimin yang baru saja bangun tidur. Wajah yang masih terlihat sembab dengan mata yang sedikit membengkak Park Jimin itu terlihat sangat lucu dimata Ha Na.
"Kau sudah merasa lebih baikan?" tanya Park Ha Na. Memainkan jemarinya untuk mengusap wajah Park Jimin.
"Lumayan"
"Lain kali jangan terlalu memforsir pekerjaanmu tubuhmu juga butuh istirahat"
"Tidak sayang, aku hanya merasa sedikit pusing dan entah kenapa berakhir dengan aku memuntahkan isi perutku" Park Jimin berbohong.
"Sekarang bersihkan dulu tubuhmu, aku akan menyelesaikan masakanku"
"Nanti saja" Jimin menggeleng.
"Ayolah sayang, kau tak sadar betapa kacau wajahmu ini" Ha Na mengangkat telunjuknya menunjuk pada wajah Jimin yang benar benar lucu.
"Bagaimana dengan mandi bersama?" jimin menawar.
"Aku sedang memasak"
"Kalau begitu beri aku satu buah morning kiss" Jimin mengankat telunjuknya membentuk angka satu, matanya yang sembab mengerling pada Ha Na penuh harapan.
"Baiklah aku menyerah" Park Ha Na mendaratkan sebuah kecupan kecil di ranum merah Park Jimin. "Sud...".
__ADS_1
Mana ada kata sudah bagi Park Jimin jika bukan ia sendiri yang menyudahinya. Tentu saja ia menarik kembali wajah Ha Na untuk mendapatkan sesuatu yang lebih dari ranum red cherry istrinya. Ia bahkan tidak membiarkan Ha Na menyelesaikan ucapannya.
Riung suara alrm otomatis yang bekerja untuk menyadari keberadaan penyusup berbunyi dirumah kediaman Park Jimin. Menghentikan aktifitas pagi menyenangkan pemilik rumah.
"Penyusup sialan" Park Jimin mengumpat kesal. Park Jimin dengan sigap mengambil pistol pada salah satu rak yang ada di dapur. Ia harus menyelamatkan Istri dan calon bayi mereka. Beruntungnya saat itu ibu mertuanya tak ada disana atau ia akan semakin kewalahan untuk menyelamatkan beberapa nyawa sekaligus.
Mereka berlari menuju halaman belakang untuk sampai pada bunker. Sialnya adalah hujan peluru yang mengarah pada mereka begitu banyak. Tanpa takut Park Jimin menghujani tembakannya kearah yang berlawanan. Sementara Park Ha Na bersembunyi dibalik tubuh kekar suaminya.
Mengesalkan pagai pagi sudah harus berlawanan dengan musuh.
Dor...
Peluru terakhir dari senjata api Jimin.
Kemudian tubuh kekar itu tersungkur bersamaan dengan suara tembakan, berlumuran darah berbau anyir menyeruak mengganggu indra penciuman.
PARK JIMIN.....
Ha Na berteriak
Ha Na mengatur nafasnya yang tersengal sengal. Nyatanya tertidur di sore hari masih membuatnya terus mendapatkan mimpi buruk yang sama. Mimpi dimana ia takut kehilangan sosok Park Jimin.
Dan kenyataan justru lebih pahit. Dimana ia bermimpi kehilangan sosok itu dan nyatanya sosok tersebut memang sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selama lamanya.
"Kau bermimpi lagi?" Setidaknya pertanyaan itulah yang ingin terucap dari mulut Min Ri ibunya Ha Na. Sedari tadi nyonya Min berada dikamar yang sama dengan Ha Na, bermain bersama cucunya yang lucu. Teriakan Ha Na barusan sungguh mengejutkannya juga Park Jiseok kecil.
Ha Na mengangguk dalam duduknya. Ia merasa seperti sesak nafas. Sebelum akhirnya ia menerima segelas air dari ibunya untuk menenangkan diri.
Ha Na berhambur dalam pelukan ibunya. Sungguh ia masih begitu rapuh menerima semua kenyataan.
"Aku harus bagaimana ibu?, kenapa ia begitu jahat meninggalkan kami?, apa segitu tak pantasnya aku menerima sebuah kebahagiaan untuk sekali saja?" Ha Na melirih dalam isakan.
Nyonya Min hanya mampu memberikan pelukan hangat untuk putrinya. Membiarkan Ha Na tenang dengan sendirinya.
***
Kediaman keluarga Jeon
Mereka sedang menikmati makan malam mereka. Sebuah kebahagiaan baru karena bertambahnya anggota keluarga mereka.
"Aku tidak menyangka jika akhirnya kau menjadi keponakanku Kim Taehyung" Jeon Jung Kook bercanda pada Kim Taehyung.
"Ya, sepertinya aku harus belajar membiasakan diri untuk memanggilmu paman" Kim Taehyung tergelak diikuti dengan Hee Ra dan semua yang ada disana.
"Aku berharap begitu" Jung Kook menyudahi makan nya. Ia menenggak segelas air putih dihadapannya. "Aku akan kembali ke Indonesia besok" lanjutnya.
__ADS_1
"Secepat itukah?" tabya lelaki Kim.
"Banyak hal yang harus aku urus" jawab pria bermanik hazel itu.
"Sepertinya kau lebih tertarik denga usaha barumu dibanding usaha yang lama" celetuk Jeon Jung Sik.
"Hanya mencoba keluar dari zona nyaman"
"Paman, sepertinya kau harus segera menemukan seorang istri agar bisa mengurusimu. Aku lihat kau lebih kurusan dibanding terakhir kali aku melihatmu" entah kenapa Jeon Hee Ra yang telah berubah marga menjadi Kim itu makin hari terlihat begitu akrab dengan pamannya sehingga ia kerap menggoda pamannya yang melajang.
"Sayang jangan menggoda paman seperti itu" ucap Taehyung seraya tergelak.
"Menjijikkan" Jung Kook begidik. "Jangan panggil aku dengan sebutan paman Kim Taehyung. Aku merasa aneh dengan sebutan itu dari mulutmu. Kau lebih tua setahun daripada aku"
"Aku hanya menghormati keluarga istriku"
"Sudahlah, terserah kau saja" Jung Kook akhirnya mengalah. "Ngomong ngomong kapan kalian akan kembali ke Indonesia"
"Mungkin sebulan lagi, untuk satu bulan ini kami akan menikmati bulan madu kami di sini. Bukankah seharusnya begitu ibu dan ayah mertua?" Kim Taehyung itu terlampau pemberani dan blak blakan. Ia bahkan tak canggung untuk bertanya hal demikian pada mertuanya.
Sementara itu Jeon Jung Sik beserta istri hanya menjawab dengan sebuah anggukan dan senyuman. Jangan ditanya lagi, Kim Hee Ra tentu saja sedang menunduk malu atas ucapan suaminya.
***
Eun Seo terlihat mengetikkan sesuatu pada ponselnya. Mengirim sebuah pesan pada Ha Na sahabatnya dengan kesal, yang mana beberapa hari ini Ha Na tak ada kabar. Padahal ia saat ini sedang berada di depan kediaman keluarga Park untuk melihat keponakannya. Dan ia hanya bertemu dengan seorang maid yang mengatakan jika Ha Na sedang tak ada disana dan mungkin tidak akan kembali kerumah itu.
~*Kau dimana nyonya Park? ~
~Aku didepan rumahmu tapi kalian tak ada disini~
~Kalian pindah kerumah yang mana eoh?, biar aku menghampiri kalian*~
Lama Eun Seo menunggu balasan pesan dari Ha Na dan sebuah pesan balasan yang ia terima akhirnya cukup membuat ia kecewa.
~Maafkan aku yang masih merahasiakan ini dari kalian. Aku akan bercerita jika aku sudah memiliki keyakinan. Yang pasti saat ini aku berada dekat dengan Park Jimin. Aku akan menghubungimu jika aku sudah siap bercerita~
Ha Na masih belum sanggup bercerita semuanya. Biarlah ia tenag dulu sampai ia mampu menceritakan semua kebenaran.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Aku kangen Jimin oyyyyyyyy ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz
__ADS_1