
Jeon Jung Kook melamun. Matanya memandang kearah luar jendela ruang kerja sekaligus ruang pribadinya dengan tatapan yang kosong.
Hingga akhirnya..... Ia memutuskan untuk mengakhiri perasaannya. Ia harus mengatakan semua agar itu tak menjadi beban diotaknya.
***
Hari bahagia yang ditunggu tunggu oleh Park Jimin telah tiba. Ia dan Ha Na benar benar telah mendaftarkan pernikahan mereka secara sah ke kantor pencatatan sipil. Benar benar tak menyangka jika akhirnya Ha Na lah yang menyerahkan diri untuk masuk dalam pelukan kepemilikan.
Keduanya tengah berada didalam sebuah mobil yang Jimin kemudikan. Mereka sedang menuju jalan pulang menuju rumah Ha Na.
Jimin benar benar tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, ia telah sah menjadi seorang suami bagi Ha Na dan menjadi calon ayah. Ha Na benar benar telah menjadi nyonya Park.
Sedari tadi satu tangannya tak berhenti untuk menggenggam tangan Ha Na yang ada di sebelahnya meski tangan yang satunya harus terus berada pada kemudi mobil. Ia harus tetap fokus pada jalanan kota Seoul meski sesekali ia melirik pada wanita disampingnya itu. Tak hanya melirik, ia juga sesekali mengecup punggung telapak tangan Ha Na yang berada digenggamannya. Ia benar benar mengekspresikan rasa cintanya.
Sementara Jimin yang dipenuhi kebahagiaan Ha Na justru tak mengerti kenapa ia tak bisa sepenuhnya bahagia seperti suaminya. Meski ia sesekali harus memasang senyum keterpaksaan ketika menatap Jimin. Ia telah merasa berdosa harus melakukan senyum palsu itu.
Ha Na sedang memikirkan sesuatu. Tanpa sepengetahuan Park Jimin semalam ia menerima telepon dari sebuah nomor asing dan nomor itu tidak menggunakan kode negara Korea.
Meski lelaki yang menelepon itu tak pernah menyebutkan siapa namanya Ha Na merasa yakin jika ia mengenali orang itu.
***
(FLASHBACK)
Park Jimin baru saja pulang dari rumah Ha Na, ketika ia telah selesai berdiskusi dengan wanita Lee itu untuk mendaftarkan pernikahan mereka secara sah besok hari.
Belum juga lama Park Jimin meninggalkan kediamannya Ha Na menerima sebuah panggilan masuk. Sebuah panggilan telepon dengan kode nomor negara lain.
Ha Na ragu untuk mengangkat panggilan itu ketika akhirnya nyonya Min ibunya memberi kode pada Ha Na untuk mengangkatnya. Siapa tahu itu sebuah panggilan yang sangat penting mengingat pekerjaan Ha Na adalah seorang model.
"Hallo. Selamat malam. Bisa saya tahu ini siapa?" Lee Ha Na akhirnya mengangkat panggilan itu dengan suara yang ramah.
"Selamat malam"
Deg....
Baru kalimat itu yang Ha Na dengar dari lawan bicaranya. Namun, ia merasa seperti jantungnya seolah berhenti setelah baru saja berdetak dengan keras.
__ADS_1
"Maaf mengganggumu malam malam begini. Aku tahu disana pasti telah dinihari" suara itu berhenti sebentar sekitar beberapa detik namun Ha Na masih menunggu untuk mendengar meski ia tak bicara.
"Aku dengar kau akan mendaftarkan pernikahan bersama temanku besok. Selamat ya aku turut bahagia untuk itu. Aku juga bahagia akan menjadi seorang paman" Ha Na masih saja diam. Ia hanya setia tuk mendengar. Dan ia ingin sekali menangis rasanya mendengar suara itu. Ia langsung berpikir pasti Namjoon lah yang telah memberi tahunya karena Jimin baru memberi tahu Namjoon.
"Aku tahu aku salah telah mengganggu calon istri orang lain ditengah malam begini. Tapi, ijinkan aku untuk mengatakan sebuah kebenaran agar aku tak menyesal" suara itu berhenti lagi sepersekian detik saja "aku mencintaimu, sejak dulu aku mencintaimu. Aku terlalu takut untuk mengungkapkan segalanya padamu. Tapi sekarang, aku sadar cinta tak harus memiliki. Aku tahu ini terlambat tapi hanya dengan cara ini mungkin aku akan merasa tenang setelahnya. Aku tak berharap kau akan membalas cintaku ini karena kau adalah milik orang lain. Hanya itu yang ingin aku katakan. Sekali lagi selamat dan semoga kalian bisa hidup bahagia setelah ini. Heuhhhhhh.... Aku legah setelah mengungkapkan semuanya" hanya itu yang Ha Na dengar. Ia bahkan tak bicara dan hanya mendengar sampai akhir.
Ha Na merasa dadanya sesak kemudian air matanya tumpah membanjiri wajah. Meski lelaki itu tak menyebut siapa namanya Ha Na yakin sekali lelaki itu adalah Jeon Jung kook.
Untunglah ketika Ha Na menerima telepon nyonya Min telah pergi dari kamarnya sehingga Ha Na bisa menangis sepuasnya tanpa dilihat.
Ia rindu pada sosok pemilik suara yang meneleponnya barusan. Akan tetapi, ia tak boleh egois, ia akan menjadi istri Park Jimin dalam hitungan jam. Ia juga harus bisa mengubur dengan rapat perasaannya meski ia tak tahu kapan ia akan selesai menguburnya.
(FLASHBACK END)
***
"Sayang kenapa kau diam saja?" pertanyaan Jimin membubarkan ingatan Ha Na soal kejadian semalam.
"Ahhhh... Itu. Aku hanya merasa lapar" Ha Na berbohong lagi. Sampai kapan ia akan berhenti membohongi Park Jimin.
"Kau ingin makan sesuatu. Kita bisa berhenti sebentar untuk makan" tawar Jimin.
"Baiklah" Jimin tersenyum lagi kemudian kembali fokus menyetir mobilnya.
Dirumah Ha Na dan Jimin telah disambut hangat oleh nyonya Min juga bibi Seo. Kedua wanita itu tersenyum bahagia melihat Ha Na dan Jimin pulang. Nyonya Min bahkan benar benar tak menyangka bahwa putrinya telah menjadi seorang istri.
Semua yang ada dirumah itu sedang menikmati makan siang bersama sebelum akhirnya Jimin lah yang memulai untuk bicara.
"Ibu. Aku mohon izin untuk membawa Ha Na ke suatu tempat selama dua hari. Aku janji sepulang dari sana aku akan membawa kalian semua kerumahku. Kita akan tinggal bersama. Aku juga sudah mengatakan pada Ha Na untuk mengembalikan semua fasilitas yang sudah tuan Jung Sik berikan" Ha Na juga tak bisa menolak keinginan Jimin. Ia sendiri sejak dulu bahkan sudah berpikir akan mengembalikan semua yang bukan haknya.
***
Kali ini entah kemana Jimin akan membawa istrinya. Mobil yang ia bawa melaju ke sebuah tempat yang tidak ramai bahkan semakin jauh mereka menempuh perjalanan makin sepi juga tempatnya. Bahkan di sisi kiri kanan jalan terlihat seperti hutan yang sepi namun indah.
"Kita akan kemana?" Ha Na akhirnya berani bertanya.
"Kita akan bertemu orangtuaku" ucap Jimin. Bahkan, selama ini Ha Na benar benar tak tahu soal orangtua Jimin apakah masih ada atau tidak. Ia juga tidak bertanya tentang itu.
__ADS_1
Sekitar tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai pada sebuah rumah berlantai tiga. Rumah yang begitu mewah dan besar tentunya, bahkan jauh lebih besar dari rumah Park Jimin sendiri.
Rumah itu bergaya Eropa dengan cat berwarna Cream Gading. Halamannya luas bahkan sangat luas dari gerbang utama menuju kerumah saja butuh waktu sekitar 5 menit dengan mobil. Gerbang yang baru mereka lewati bahkan memiliki sensor tersendiri, gerbang tersebut bahkan dengan sendirinya terbuka setelah terdengar suara dari sensornya. Benar benar luar biasa.
Mobil Park Jimin berhenti tepat di bawah atap rumah didepan teras. Seorang lelaki tua dengan segera membuka pintu untuk tuanya. Baru kali ini Ha Na melihat rumah semegah ini dengan pelayanan bak di hotel berbintang. Jimin membawa Ha Na keluar dari mobilnya lelaki Park itu sedikit tersenyum pada orang orang yang telah menunggu kedatangan mereka. Bahkan orang orang disana menundukkan kepala dan begitu segan hingga membuat Ha Na sedikit canggung.
"Ini benar rumah orangtuamu?" Ha Na berbisik takut. Kalau melihat kondisi rumah itu Ha Na yakin pemiliknya bukanlah orang yang biasa biasa saja. Ia mendadak khawatir apa ia akan bisa diterima dengan baik disana.
Jimin menangkap ketakutan Ha Na. Ia menggenggam tangan istrinya dengan lembut kemudian berucap "kau tenanglah, mereka semua akan baik padamu" kemudian menarik Ha Na masuk.
Jimin tak langsung membawa Ha Na untuk bertemu orangtuanya. Ia justru membawa Ha Na ke sebuah kamar yang begitu mewah dan luas tentunya.
"Kau bilang ingin membawaku bertemu orangtuamu Jim" Ha Na protes.
"Aku lelah, aku tahu kau juga lelah. Kita istirahat dulu" Jimin duduk ditepi ranjang King Size dikamar itu.
"Kemarilah sayang. Kau pasti lelah" Jimin menepuk nepuk tempat yang kosong disebelahnya. Meminta agar Ha Na duduk disamping dirinya. "Ayolah sayang. Kemarilah" Jimin bicara dengan suara yang begitu lembut dan menenangkan, membuat Ha Na tak bisa menolak. Dan akhirnya ikut duduk disebelah suaminya.
Jimin menggenggam kedua tangan Ha Na begitu Ha Na duduk disebelahnya. Membuat wanita itu mau tak mau sedikit menghadap pada Jimin.
"Ayo kita tidur sayang" Jimin mencoba menggoda Ha Na dengan wajah nakalnya. Membuat Ha Na melotot tak percaya.
"Oh.. Ayolah Jim ini masih siang" Ha Na begitu malu.
Jimin tersenyum "Kita hanya tidur sayang. Apa tidak boleh tidur disiang hari. Aku lelah aku tidak akan..."
"Baiklah. Ayo kita tidur" Ha Na langsung menyela menyadari ia telah salah mengira.
"Ayo anak ayah sayang. Kita tidur ya, ibumu terlihat sangat lelah" Jimin menyentuh perut Ha Na sedikit mendekatkan wajahnya kesana dan bicara seolah yang didalam sana bisa mendengarnya. Lalu kemudian jimin membawa Ha Na berbaring dalam pelukannya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Oke untuk part ini author masih bikin kisah kehidupan pernikahan Ha Na dan Jimin.
Jangan lupa ya tinggalin jejak sehabis baca. Apa gak capek jadi silent Readers mulu????
🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz