Still Loving You

Still Loving You
DIA ANAKKU


__ADS_3

Annyeong....


Author minta maaf pada kalian karena up nya berjedah agak lama karena author sibuk.


Semoga kalian tetap suka pada ceritanya.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Lee Ha Na bangun ditengah malam ketika tadi ia sempat hilang kesadaran. Ia merasa begitu lapar, haus dan sedikit pening. Ia berjalan menuruni anak tangga rumah lelaki Park menuju dapur.


Dan didapur Ha Na tersentak kaget melihat Park Jimin yang tengah menenggak sebotol Soju. Tidak, itu tidak hanya sebotol. Sudah ada 4 botol yang telah kosong diatas meja pembatas antara dapur dan ruang makan. Sepertinya lelaki itu sedang frustrasi membayangkan apa reaksi Ha Na jika nanti ia tahu bahwa dirinya sedang mengandung.


"Kau minum?" Ha Na mencoba melepas ucapannya. Mengejutkan Park Jimin yang sedang menenggak minuman langsung dari botolnya. Untunglah lelaki Park tidak sampai tersedak karena kaget.


Jimin meletak botol minumnya. "Kau sudah baikan?" giliran Park Jimin yang bertanya padahal ia belum menjawab Ha Na. Toh tak perlu ia jawab Ha Na juga melihat hal itu.


"Iya. Aku sedikit lapar" ucap Ha Na jujur. Park Jimin tiba tiba teringat dengan Tteokbokki yang tadi sudah dibelinya. "Tunggu disini sebentar" perintah Jimin kemudian pergi entah kemana. Hebat juga lelaki itu. Ia sama sekali tak mabuk padahal sudah begitu banyak minum.


Lee Ha Na hanya patuh. Ia duduk pada salah satu kursi tepat disisi meja bar pembatas dimana Jimin tadi terduduk.


Tak lama kemudian Jimin membawa kotak makanan yang berisi Tteokbokki. Tangannya lihai membuka kotak makanan itu dan menyodorkannya ke hadapan Ha Na.


"Apa ini?. Kau tahu kan aku tak suka makanan pedas?" Ha Na mendorong kotak Tteokbokki itu ke hadapan Park Jimin lagi. Sementara itu Park Jimin melongo tak percaya. Apa apaan itu semua?. Bukankah tadi Ha Na yang menginginkan itu?.


"Kau sendiri yang memintaku untuk mebelinya tadi"


"Benarkah?, tapi sepertinya aku tak akan memakan ini" Ha Na menggelengkan kepalanya. Melihat hal itu saja sudah cukup membuat Park Jimin gemas.


"Lalu kau ingin makan apa sekarang?"


"Entahlah. Sepertinya tumisan sayuran cukup enak"

__ADS_1


"Akan aku suruh bibi membuatkannya untukmu"


"Jangan. Kau masakkan untukku" pinta Ha Na dengan puppy eyes. Ha Na memohon sambil memegangi lengan lelaki Park. Hidungnya sedikit mengendus endus sesuatu. Oh, apa apaan ini?. Ha Na mencium bau tubuh Park Jimin dan ia sangat menyukai bau tubuh lelaki itu yang bercampur bau maskulin parfumenya.


"Hei, kenapa kau mengendus tubuhku?. Apa aku bau?" bodohnya Park Jimin malah ikut mengendus bau tubuhnya. Tidak, tubuhnya tak bau. Malahan ia masih sangat wangi meski sedikit bercampur dengan bau Soju yang tadi tertumpah pada bajunya.


"Boleh aku memelukmu?" Ha Na bertanya dengan begitu polosnya. Ia sama sekali tak menyadari perubahan aneh pada dirinya seminggu terakhir. Ia mungkin tak menyadari keberadaan janin pada dirinya. Ia bahkan tak punya pengalaman. Karena dulu saat ia sempat hamil pun ia tak tahu.


Park Jimin hanya mampu mengangguk. Bagaimana mungkin ia menolak sementara ia begitu menginginkan kesempatan semacam itu.


Wanita Lee menelusupkan kedua tangannya dibawah lengan lelaki Park. Dan kemudian melingkarkan tangannya kebalik tubuh kekar seorang Park Jimin. Hidungnya menghirup dalm menikmati aroma tubuh Park Jimin. Menempelkan kepalanya pada bahu yang lebar.


"Aku suka aromamu" ucap Ha Na yang masih membenamkan kepalanya pada bahu bidang Jimin.


Jimin diam. Ia mengangkat tangannya mengusap surai coklat Ha Na yang berada dalam dekapannya. "Kau sangat suka?"


"Sangat" Ha Na mengangguk.


"Sudah cukup?" Jimin bertanya. Ia ingin bebas. Tubuhnya selalu merasa seperti terkena sengatan listrik tekanan rendah ketika Ha Na menyentuhnya.


Ini tak boleh lama terjadi. Atau tubuhnya menginginkan sesuatu yang lebih hebat.


"Sial" Jimin mengumpat ketika Ha Na malah bernafas tepat pada area antara bahu dan leher Park Jimin. "Cukup. Ini sudah cukup. Bukankah kau lapar?" Park Jimin mencoba menahan diri. Ia sedikit menjauhkan tubuh Ha Na dari dirinya. Bisa ia lihat dengan jelas jika Ha Na nampak sedikit kecewa.


"Tapi tiba tiba aku sudah tak ingin makan lagi" apa apaan ini. Jimin merasa Ha Na seperti sedang main main. beberapa jam yang lalu ia ingin Tteokbokki kemudian ia bilang tak ingin. Lalu, ia meminta tumisan sayur kemudian ia tak ingin lagi. Bodohnya Jimin juga tak menyadari bahwa mungkin saja itu bawaan dari wanita yang sedang hamil muda. Hamil muda?. Oh tidak. Apa yang akan ia coba katakan pada Lee Ha Na.


"Setidaknya makanlah sesuatu. Akan kubuatkan Sandwich untukmu lalu minum obatmu. Tadi dokter bilang kau kekurangan tenaga jadi makanlah sesuatu" Jimin kembali mendudukkan Ha Na di kursi. Wanita itu hanya memanyunkan wajahnya. Ia masih ingin mencium aroma tubuh Jimin. tapi Jimin malah memintanya makan.


Dengan malas pandangan Ha Na mengikuti Park Jimin yang sedang membuatkan Sandwich untuknya.


"Makanlah" Jimin selesai membuatkan Sandwich untuk Ha Na makan. Kemudian Jimin mengambil obat yang sudah diresepkan sang dokter. Ketika tadi Ha Na masih tertidur ia meminta Jae Hyuk untuk menebus obat obat itu.

__ADS_1


"Minum obatmu setelah ini" Jimin menyodorkan sekantong obat pada Ha Na ketika wanita itu sedang berusaha menghabiskan Sandwichnya.


Ha Na melongo tak percaya melihat kantong obat obatan itu "Kenapa obat begitu banyak?, bukankah aku hanya pingsan karena kelelahan?"


"Siapa bilang?" Jimin ikut duduk disebelah Ha Na. Wajahnya tersenyum pada wanita itu. Tangannya menggenggam tangan Ha Na. Meski ia tak tahu apa reaksi Ha Na selanjutnya tetapi ia harus memberitahu Ha Na bahwa wanita itu sedang mengandung janinya. Jimin menarik nafas dalam sebelum bicara kemudian menghembusnya perlahan.


Lee Ha Na tampak tak mengerti. Ada apa pada Park Jimin. Kenapa ia seperti ingin bicara sesuatu tapi tertahan.


"Kau ingin bicara sesuatu?" tanya Ha Na yang balas menyentuh Jemari Park Jimin pada tangannya.


Jimin menarik Ha Na untuk masuk dalam pelukannya. Ha Na tak menolak karena ia masih ingin menghirup aroma lelaki itu.


Tersentak ketika Jimin mengarahkan satu telapak tangan pada perutnya. Ha Na coba menahan tangan itu.


Jimin kembali menarik nafas panjang kemudian berucap "Dia anakku".


Apa?


Apa maksudnya?


Lee Ha Na melongo antara percaya atau tidak. Atau ia sedang mencerna ucapan Jimin?.


"Aku yang membuatmu seperti ini" Jimin kembali menyentuh perut rata itu.


Wanita Lee masih diam tanpa reaksi. Bukankah ia seharusnya senang?. Bukankah itu yang ia inginkan?.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


LOVE LOVE


Author: Ameera Limz

__ADS_1


__ADS_2