
"Siapa yang mengizinkanmu menginjak kaki disini?" Ha Na berteriak pada orang itu.
"Ha Na tahan emosimu. Kau masih lemah" Park Jimin menahan Ha Na. Memintanya berhenti untuk berteriak.
Bahu Ha Na telihat naik turun kala nafasnya menderu karena emosi. Tangannya mengepal dan mencengkram tangan Jimin yang sejak tadi menggandengnya.
"Pergi dari sini sebelum aku melaporkanmu pada polisi" ancam Ha Na.
Sementara itu nyonya Min yang mendengar keributan keluar dari dalam rumah mereka.
Sungguh ibunya Ha Na terdiam memandang ketiga orang yang berdiri diteras rumah.
Sekarang Ha Na sungguh tak bisa menahan emosinya. Airmatanya tertumpah dengan begitu bebas membasahi wajah cantiknya.
Orang yang baru saja Ha Na bentak itu langsung bersimpuh di ujung kaki nyonya Min. Meminta wanita itu untuk memaafkannya.
Ha Na menggeleng pada ibunya yang sedang menatap padanya. "Jangan pernah memaafkannya bu" ucap Ha Na masih dengan emosi. "Dia itu orang jahat. Jangan pernah memaafkannya atau aku akan pergi" Lee Ha Na malah mengancam agar nyonya Min agar tak memaafkan lelaki yang tak bertanggung jawab itu.
"Maafkan aku. Aku berdosa telah meninggalkan keluargaku. Maafkan aku" sungguh Ha Na tak sedikitpun tersentuh dengan tangisan Lee Tae Kyung. Menurutnya tangisan itu tak ada artinya dibanding tangisan ibunya di masa sulit mereka.
Lee Tae Kyung beralih pada Ha Na yang masih berdiri disebelah Park Jimin.
"Maafkan ayah nak. Maafkan ayah"
"Berani kau sebut dirimu ayah?. Ck..., bahkan kau tak pantas disebut manusia"
Nyonya Min menghampiri Ha Na. Mencoba menenagkan putrinya yang tersulut emosi. Jujur ia tak ambil pusing soal Lee Tae Kyung tetapi malah Ha Na yang begitu membenci lelaki tua bangka itu.
"AKU BILANG PERGI" Lee Ha Na menunjuk kearah gerbang rumah mereka mengusir lelaki bernama Lee Tae Kyung dengan teriakannya.
"Arghhhhhh...." wanita Lee itu meringis kemudian sontak memegangi perutnya yang tiba tiba terasa nyeri dan keram luar biasa hingga ia terduduk.
"Ibu tolong bawa Ha Na masuk kedalam" Park Jimin meminta nyonya Min untuk membawa Ha Na masuk. Dan Park Jimin membantu memapah wanitanya.
Setelah membaringkan Ha Na diatas ranjangnya Park Jimin dengan tergesa menuju keluar lagi. Menghampiri lelaki tak tahu diri yang telah membuat Ha Na sakit.
"Pergi dari sini atau nanti hanya namamu yang akan pergi?" dengan wajah garang berbalut emosi Park Jimin mengusir Lee Tae Kyung.
"Siapa kau berani mencampuri urusan keluargaku?" tanya Lee Tae Kyung sinis.
__ADS_1
"Kau sungguh tak mengenalku tuan Lee?" tanya Jimin balik. "Orang orangku akan menghancurkan tubuhmu jika kau bersikeras. Dan kau tanya siapa aku?. Aku adalah orang yang akan menghapus marga Lee pada nama Ha Na. Aku calon suaminya. Sekarang pergi atau kau mati?"
Lee Tae Kyung terdiam. Ia tahu betul orang seperti apa Park Jimin. terlalu gegabah jika ia melawan lelaki Park dengan keadaannya sekarang yang tanpa orang orang suruhan lagi. Ia sekarang tak lebih dari sebongkah kerikil yang bisa dijadikan debu oleh Park Jimin dalam sekejap. Ia pergi tanpa mendapat maaf dari Ha Na dan juga ibunya.
"Awas saja kalau terjadi sesuatu pada Ha Na dan anakku. Aku jamin dia akan tinggal nama" Park Jimin berdecak kesal melihat punggung Lee Tae Kyung yang menjauh. Ia tak pernah main main dengan ucapannya. Kemudian ia berlari masuk kerumah Ha Na untuk memastikan Lee Ha Na baik baik saja.
***
Lee Ha Na masih menagis dalam pelukan ibunya. Emosinya sungguh tak bisa dikontrol dengan baik apalagi ia dalam keadaan hamil muda. Tentulah ia akan menjadi lebih sensitif.
"Ibu" Park Jimin mencoba untuk memberanikan diri menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Lee Ha Na istrinya.
Nyonya Min hanya bisa menatap pada Park Jimin memberi isyarat pada lelaki itu lewat anggukan agar Park Jimin melanjutkan ucapannya.
"Aku..., Aku ingin menikahi Ha Na bu. Apa ibu mengizinkan?" sedikit takut Park Jimin menunggu reaksi nyonya Min.
Ha Na ikut menatap pada ibunya memasang wajah memohon agar ibunya mengizinkan ia menikah dengan ayah dari Janin yang ada dalam tubuhnya.
Melihat Ha Na seperti memohon membuat nyonya Min tak bisa untuk menolak. Ia hanya bisa mendukung setiap keputusan yang dipilih anaknya. Kemudian ia hanya bisa mengangguk memberi lampu hijau bagi Ha Na dan Jimin. Tentulah ia tahu Park Jimin adalah lelaki yang bertanggung jawab. Lelaki yang telah banyak membantu setiap kali Ha Na membutuhkannya.
Sungguh seperti menerima lotre dengan jumlah miliyaran Won membuat Park Jimin tak bisa untuk tak tersenyum senang. Ia dengan refleks memeluk Lee Ha Na "Jadilah bagian hidupku. Aku akan menjadi ayah yang baik untuknya" kembali Park Jimin mengelus perut yang masih rata itu. Membuat Ha Na menunduk malu dan menyembunyikan wajah dibalik surai coklatnya.
Nyonya min mengangkat wajah Ha Na yang tertunduk malu. Menatap intens pada manik bulat Ha Na. Memberi isyarat pertanyaan "Apa maksudnya?"
"Maafkan aku bu. Tapi sekarang Ha Na sedang mengandung anakku" akhirnya Park Jimin yang harus mengungkapkannya.
***
Kim Eun Seo dan Jeon Hee Ra sedang menunggu keberangkatan pesawat mereka. Dan pada akhirnya mereka berlibur tanpa Ha Na setelah Park Jimin sendiri yang mengatakan kepada mereka jika Ha Na tak bisa ikut liburan karena ia sedang sakit.
Sebenarnya Park Jimin ingin sekali menjelaskan jikalau Ha Na sedang dalam fase hamil muda yang masih begitu rentan. Namun, karena Ha Na yang meminta untuk merahasikan soal itu dari temannya akhirnya Park Jimin hanya menurut. Baginya lebih penting Ha Na tak pergi kemanapun tanpa dirinya. Ia semakin menjadi protektif setelah tahu soal kehamilan Ha Na.
"Sepertinya Park Jimin mulai mengekang kebebasan princess Lee" Kim Eun Seo mengumpat kesal melihat tiket milik Ha Na yang sudah dipesan olehnya.
Akhirnya mereka hanya berangkat berdua saja. Kim Namjoon dan Istrinya sudah berangkat lebih dulu dengan penerbangan paling pagi sebelum mereka.
"Apa kau tak curiga?" tanya Jeon Hee Ra tiba tiba pada Eun Seo.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Belakangan Ha Na dan paman Jimin semakin dekat. Sepertinya mereka menjalin hubungan bukan?"
"Haha.. Yaampun Hee Ra. Mereka itu memang dekat" Kim Eun Seo benar benar tahu soal kedekatan Ha Na dan Park Jimin. Ia bahkan tahu jika dua orang itu pernah tidur bersama. "Sudahlah jangan pikirkan mereka. Yang penting kita nikmati liburan kali ini. Nanti aku akan membawamu ke galeri lukisan sepupuku. Aku akan mengenalkanmu padanya. Dan dia juga yang akan menjadi pemandu wisata kita disana"
***
Sore hari ini Jeon Jung Kook akan bertemu dengan seseorang yang akan menyewa aula resort mereka selama satu minggu untuk sebuah acara besar.
"Sudah lama menunggu tuan Kim?" tanya Jeon Jung Kook pada seseorang yang akan menyewa gedungnya.
"Tidak juga. Silahkan duduk" lelaki yang Jungkook sebut Kim itu mempersilahkannya untuk ikut duduk.
"Kau ingin minum apa?" tawar lelaki Kim itu.
"Apapun yang anda berikan. Ngomong ngomong aku tak menyangka ternyata disini aku bisa bicara dengan warga Korea" Jeon Jung Kook tersenyum ramah.
"Aku juga sama sepertimu"
"Lalu bagaimana tuan Jeon. Apa bisa aku menyewa gedungmu selama seminggu kedepan?" tanya lelaki itu langsung.
"Tentu saja bisa. Ini akan saling menguntungkan bagi kita. Aku akan mendukung kegiatanmu dan memberi potongan harga sewa dan melalui acaramu aku juga bisa mempromosikan resort kami"
"Wahhh... terima kasih banyak tuan Jeon. Tentu saja aku akan menyebutkan resortmu sebagai salah satu sponsor acara kami".
Kringgggggg...
Suara ponsel milik lelaki Kim. ia menerima sebuah panggilan masuk. Dan ia mengangkatnya.
"Hallo.. Kalian sudah dirumah?. Baiklah aku akan pulang. Dirumah ada kakak" kemudian lelaki Kim itu mematikan dan menyimpan kembali ponselnya kedalam saku.
"Mohon maaf tuan Jeon sepertinya kita tidak bisa bicara lama. Bagaimana kalau aku mengundangmu ketempat usahaku. Aku tunggu kau malam nanti" lelaki Kim itu memberi selembar kartu nama usahanya pada Jeon Jung Kook.
"Tidak masalah. Aku akan datang nanti malam" Jeon Jung Kook menerima kartu nama itu dan minyimpannya kedalam saku blezer yang ia kenakan.
"Aku benar benar minta maaf tapi kali ini aku benar benar harus pulang. Aku permisi" laki laki bermarga Kim tersebut pun pergi.
Sementara Jeon Jung Kook lebih memilih untuk tinggal disana sebentar lagi. Tempat itu nyaman, mungkin disana bisa membuatnya bisa menghapus bayang bayang Ha Na di dalam pikirannya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
__ADS_1
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz