
Sementara itu, di ruangan Jeon Jung Sik yang berada di perusahaan Jeon Grup.
"Tuan, ada berita terbaru soal nona Lee" pria dengan tubuh tinggi tegap dan setelan jas yang rapih menyodorkan sebuah artikel yang ada diponselnya. Sebuah artikel tentang Lee Ha Na saat berada di New York telah terbit di berbagai media online.
Seketika raut wajah seorang Jeon Jung Sik berubah, wajah yang tadi terlihat tenang berubah menjadi menakutkan. Emosinya berhasil keluar begitu mengamati artikel yang disodorkan orang kepercayaannya.
"Princess Lee, Super model yang sedang naik daun tertangkap kamera pengawas telah membawa seorang lelaki kedalam kamar hotel tempat ia bermalam di New York setelah NYFW selesai dilaksanakan"
"Anak itu sudah berani bermain dibelakangku rupanya" batin Jeon Jung Sik.
"Apa diketahui siapa lelaki yang bersamanya?" tanya tuan Jeon.
"Belum tuan, karena posisi si lelaki sedikit membelakangi kamera sehingga wajahnya tak terlihat"
"Kirimkan orang untuk mengambil seluruh rekaman kamera pengawas di hotel tersebut pada malam itu" perintah tuan Jeon pada bawahannya itu. Dan langsung disambut dengan anggukan oleh bawahannya.
Tuan Jeon Jung Sik sungguh tak pernah mengira jika wanita yang ia pelihara bertahun tahun justru bermain dengan lelaki lain. Itu membuat hatinya seolah mendidih. Seharusnya wanita Lee itu menjadi miliknya. Sungguh ini tak bisa dibiarkan. Ia harus mencari tahu siapa lelaki yang telah berani mengambil wanita simpanannya.
Pada awalnya memang tuan Jeon tidak berniat sama sekali untuk benar benar menikmati yang seharusnya ia dapatkan. Terlebih saat itu putrinya belum diketemukan ia justru menganggap Lee Ha Na sebagai putrinya karena Ha Na seumuran dengan putrinya.
Tapi sekarang, bagaimana mungkin lelaki yang sudah cukup tua itu tidak tergoda untuk mendapatkan yang seharusnya. Terlebih lagi Lee Ha Na makin menjadi wanita yang memikat, bukan ia saja yang mulai tergila gila. Mungkin lelaki diluaran sana banyak yang mulai menggilai pesona seorang Lee Ha Na tak perduli seberapa tuanya mereka.
***
Kembali ke kafe tempat paman dan keponakan itu berada.
"Baiklah, paman akan berhenti memanggilmu dengan sebutan itu, tapi paman harap kau benar benar bisa membuang jauh jauh perasaanmu" ucap lelaki Jeon itu dengan suara yang dibuat tenang padahal hatinya gelisah.
"Iya" hanya itu yang mampu keluar dari bibir tipis wanita Jeon tersebut. Hatinya sakit bak teriris sembilu kala mendengar paman tampannya itu meminta ia untuk melupakan perasaannya. Meski kebenarannya memang harus seperti itu.
Bisakah seorang Jeon Hee Ra membuang jauh jauh perasaannya yang salah itu?
Lelaki Jeon kembali mengangkat pergelangan tangannya, melihat waktu pada jam tangan mewah berwarna silver yang menempel indah disana.
"Waktu istirahat kantor sudah hampir selesai, paman harus kembali ke perusahaan" Jeon Jung Kook berdiri dari duduknya. Sementara wanita Jeon itu masih terduduk ditempatnya seolah berpikir sesuatu. "Kau akan kembali kerumah kan?" lanjut lelaki Jeon itu lagi.
"Tidak, biarkan aku beberapa hari di rumah ayah Choi"
"Tapi bukankah ia tidak sedang cuti?"
"Bukan soal cuti atau tidaknya, aku ingin menenangkan pikiranku, dan belajar melupakanmu, setelah itu aku akan kembali kerumah"
__ADS_1
Mendengar itu membuat lelaki Jeon tak bisa berkata lagi. Memang seharusnya keponakannya itu melupakannya. Tidak benar jika Jeon Hee Ra terus terusan mencintainya sebagai lelaki lain.
"Terserah kau saja, paman akan kembali ke perusahaan"
"Ya"
Baru saja beberapa menit lelaki Jeon meninggalkannya. Jeon Hee Ra menangis ditempatnya, memegangi dadanya yang serasa sesak seperti dipenuhi sesuatu. Sakit, tentu saja sangat sakit. Tetapi, ia telah berhasil mengatakan sebuah kebenaran sebelum ia kian parah mencintai pamannya sendiri.
***
Seoul
Pukul 23.00 KST
Lee Ha Na sedang memandangi bayang dirinya pada cermin. Jaket kulit berwarna coklat dan juga topi baseball hitam yang ia gunakan cukup membuat penampilannya jauh terlihat berbeda dari dirinya yang feminim. Sebuah senyum jahat terukir diwajahnya.
Apa yang sebenarnya ia pikirkan dan ia rencanakan?.
"Aku penasaran bagaimana reaksinya begitu melihatku?, mungkinkah ia mengenaliku atau tidak?, satu yang pasti aku akan memberi pelajaran baginya" wanita Lee itu tersenyum disebelah sudut bibirnya.
Ia telah bersiap siap dengan apa yang telah direncanakan olehnya. Sebuah pistol tak lupa ia selipkan tepat dibalik jaket kulit yang dikenakannya.
Lee Ha Na baru saja akan pergi secara diam diam agar tak diketahui oleh ibunya. Namum, seorang pelayan rumah tangga dirumahnya berhasil menghentikan langkah Lee Ha Na.
"Shuttttt...." Lee Ha Na memberi isyarat pada si pelayan untuk tidak bicara terlalu kuat. Ia khawatir jika ibunya mendengar. "Bibi Seo, aku mau keluar sebentar, tolong jangan beritahu ibu soal ini" ucap wanita Lee itu dengan suara yang pelan lebih seperti sedang berbisik.
"Tapi nyonya mau kemana?, ini sudah malam nyonya. Dan pakaian ini?, ini bukan seperti nyonya Lee yang kukenal" ucap si pelayan yang dipanggil bibi Seo oleh Ha Na.
"Aku ada urusan diluar bi, sekarang kunci pintunya, mungkin aku tidak pulang malam ini" perintah Ha Na pada bibi Seo.
"Apa nyonya akan pergi sendiri?"
"Ya, aku akan pergi membawa mobil sendiri"
"Baiklah, nyonya Lee berhati hatilah membawa mobilnya, hari baru saja hujan mungkin jalanan akan lebih licin" bibi Seo itu orang baik, ia akan menuruti semua yang dikatakan oleh majikannya itu. Bibi Seo adalah pelayan rumah tangga yang dipilih sendiri oleh Lee Ha Na. Ha Na tak mau hidupnya serasa terus dimata matai jika ia masih membiarkan pelayan rumah tangga yang dikirim tuan Jeon Jung Sik untuknya. Tidak hanya itu saja, Lee Ha Na juga mengganti supir pribadinya.
Tak selang berapa lama Lee Ha Na meninggalkan kediamannya sebuah mobil sport hitam berhenti dan terparkir tepat di depan rumahnya. Bibi Seo yang baru saja hendak mengunci pintu kembali membuka pintunya dengan lebar. Mencoba mencari tahu siapa gerangan yang datang ditengah malam.
"Tuan Park, ada apa tuan datang kemari tuan?" tanya bibi Seo pada Park Jimin yang baru saja turun dari mobilnya dengan langkah yang tergesa gesa.
"Dimana Lee Ha Na?" Park Jimin langsung mencecar pertanyaan terhadap bibi Seo, tak menghiraukan bibi Seo yang lebih dulu bertanya padanya.
__ADS_1
"Nyonya muda...." bibi Seo menghentikan kalimatnya, ia bingung mau mengatakan apa pada lelaki Park. Tetapi bukankah Lee Ha Na hanya meminta bibi Seo tidak memberi tahu ibunya saja.
"Cepat katakan dimana Lee Ha Na sekarang" Park Jimin tak sabaran. Ia sedikit membentak.
"Tuan, pelankan sedikit suaramu, kau bisa membangunkan nyonya Min yang sedang tertidur"
"Baiklah, sekarang dimana Lee Ha Na?" tanyanya lagi.
"Nyonya Lee baru saja pergi tuan"
"Apa kau tahu kemana dia pergi?"
"Tidak tuan, nyonya muda tidak bilang ia pergi kemana"
"Ia menggunakan pakaian seperti apa?" cecar Park Jimin lagi.
"Nyonya muda memakai celana, jaket kulit dan topi hitam"
"Tidak salah lagi, dia benar benar keras kepala" Batin Park Jimin.
Kemudian Park Jimin pergi begitu saja, ia melajukan mobilnya dengan cepat. Seperti ada yang ingin dikejarnya.Ra
Lee Ha Na
Jeon Jung Sik (Sugar Daddy)
Park Jimin
Jeon Hee Ra
Yang penasaran Visual terbaru Jeon Jung Kook di next episode yah.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
__ADS_1
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz