
Senja yang begitu indah, cahaya jingga menyelimuti langit, hangat dan romantis, begitulah suasananya. Pasangan pasangan muda hilir mudik berpegangan tangan dengan mesranya.
Lee Ha Na menyempatkan dirinya untuk menikmati senja yang indah itu ditepian pantai, duduk pada batuan yang sengaja disusun sebagai pemecah arus ombak dan penahan abrasi.
Semilir angin di senja itu menyapu wajah cantiknya, surai coklat tua yang tergerai indah itu sedikit melambai laksana sutra, mengikuti arah angin, hangatnya mentari senja membelai kulitnya sebelum akhirnya berganti sip sipan dengan rembulan malam.
Tenang, itulah yang Lee Ha Na rasakan kala itu, beban pikiran yang selama ini membuncah memenuhi otaknya seolah berkurang.
Sedikit perasaan bahagia juga mengisi relung hatinya mengingat kejadian hari ini yang telah menjadi sebuah mukjizat bagi keluarga Jeon.
Krukkkkkk....
Suara dari perut Lee Ha Na terdengar jelas ditelinganya sendiri, sedikit tersenyum mengingat jika ia sama sekali belum menyentuh makanan sejak pagi.
Sejak pulang dari rumah Park Jimin ia hanya mampir sebentar kerumahnya untuk sekedar mandi dan berganti pakaian, setelahnya seperti biasa ia habiskan waktu untuk berburu buku bacaan bersama Kim Eun Seo sahabat sekaligus teman sekelasnya itu dan setelahnya ia langsung menuju rumah sakit untuk menepati janjinya pada nyonya Jeon.
"Ya tuhan, aku lupa aku belum makan sejak pagi, ada baiknya aku mencari makanan baru kemudian mampir ke rumah pria maniak sex itu", yang ia maksud pria maniak sex adalah Park Jimin.
Lee Ha Na beranjak dari duduknya, berjalan meninggalkan tepi pantai mencari tempat makan. Ia harus mengisi perutnya sebelum asam lambungnya meningkat.
***
20.45 KST
" Tuan Park, kau ada didalam?" Lee Ha Na mengetuk pintu kediaman Park Jimin yang disebut markas.
"Oh, nona Lee" Jae Hyuk membukakan pintu untuk Lee Ha Na, "silahkan masuk nona, boss Jimin sedang diatas, dikamarnya".
" Sedang apa dia?, ada yang ingin kubahas dengannya"
"Em..., itu, Tuan Jimin sedang......."
"Ohhh..., aku tahu" Ha Na mengerti arah perkataan Jae Hyuk yang terhenti itu. Jae Hyuk pasti ingin mengatakan jika Park Jimin sedang bersama wanita. Gila memang yang dilakukan Park Jimin, setelah semalam ia bersenang senang sepertinya ia masih belum puas hingga malam ini pun ia masih melakukannya, wajar saja jika Lee Ha Na menyebutnya pria maniak sex.
Jae hyuk hanya tersenyum, "aku ada keperluan diluar, nona Lee tidak apa kan jika aku tinggal sendiri?"
__ADS_1
"Tidak apa paman Jae, paman bisa pergi"
"Jika nona Lee haus atau lapar nona Lee bisa minta pelayan di dapur untuk menyiapkan apapun yang nona inginkan"
"Aku baru saja makan diluar paman"
"baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, nona Lee berhati hatilah" Jae Hyuk sedikit tertawa ketika mengucapkan kata berhati hatilah. Ia hanya sedikit bercanda kepada Lee Ha Na.
"Paman Jae tenang saja, aku sudah ahli menggunakan pistol dan sedikit menguasai bela diri, jika ada yang macam macam maka kutembak saja kepalanya, atau kupatahkan tulang belulangnya" Lee Ha Na memuji dirinya sendiri.
Begitu Jae Hyuk pergi Lee Ha Na duduk pada kursi sofa diruang tamu, menunggu sang pemilik markas keluar dari tempat bersenag senangnya itu.
Sekitar sepuluh menit berikutnya Lee Ha Na bisa melihat seorang wanita turun dari lantai atas.
"Cantik" batin Ha Na, memang benar wanita simpanan Park Jimin itu memang sangat cantik, wajah yang tirus dengan kulit bak porslen, bulu mata lentik dengan maniknya yang kecoklatan, rambut hitam lurus sebahu, tinggi yang semampai dengan lekuk yang indah, sungguh tubuh itu begitu diidamkan setiap wanita. Pantas saja Jimin menjadikannya simpanan.
Ha Na menyunggingkan senyumnya padanya ketika wanita tersebut melihatnya. begitupun sebaliknya, ternyata wanita itu ramah juga, hanya saja begitu disayangkan kenapa ia lebih memilih menjadi wanita simpanan pemuas nafsu Park Jimin, padahal jika saja ia ingin menjadi model maka ia akan menjadi model yang begitu cantik.
begitu wanita tersebut benar benar keluar dari rumah itupun kemudian Park Jimin turun juga.
"Tidak juga"
"Apa gerangan kau datang kemari?, bukankah kesepakatan kita tak ada latihan di akhir pekan?"
"Ada yang ingin kutanyakan padamu"
"Apa?" Jimin berjalan menuju sebuah lemari pendingin mini yang ada disudut ruangan, mengambil dua botol soft drink dari dalamnya.
"Kapan rencana kita bisa berjalan?" tanya Ha Na.
"Rencana?, rencana apa?, rencana pernikahan?" Jimin melemparkan sebotol minuman yang ia keluarkannya kepada Ha Na disertai dengan tawa, dengan sangat baik Ha Na menangkapnya.
"Aku tidak bergurau" Ha Na membuka tutup botol minuman itu dan meminumnya hingga isinya tandas. "Rencana balas dendamku" lanjut Ha Na.
"Astagaaaa...., dengar ya bocah sekolahan, aku tidak akan mau melakukannya jika kau masih belum selesai sekolah, aku tidak mau melibatkan anak sekolahan"
__ADS_1
"Tapi kau tak bilang itu sejak awal, lagipula aku yang memintanya, aku tak perduli jika aku masih sekolah" kekeuh Ha Na, ia mendelik tajam pada Park Jimin.
"Baiklah, kita bisa balas dendam besok tapi tidak melibatkanmu atau nanti setelah kau tamat sekolah baru kau bisa ikut terlibat langsung?" Jimin memberikan pilihan bagi Ha Na.
"Kau...?"
"Silahkan pilih diantara dua itu nona Lee" potong Jimin.
"Aishhhhh... Baiklah kalau begitu aku akan balas dendam sendiri saja"
"haha...., kau begitu gegabah Lee Ha Na, kalau kau sendiri yang melakukannya maka kau sama sekali tak memiliki perlindungan, kau pikir seorang Mucikari besar seperti ayahmu itu tak punya bawahan?, kau bisa mati konyol jika kau melakukannya sendiri, kemudian bagaimana nasib ibumu?, bukankah kau balas dendam untuk ibumu?", Sebenarnya Park Jimin sengaja memperlambat misi mereka agar ia bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Ha Na.
Lee Ha Na terlihat berfikir keras, benar juga apa yang dikatakan oleh Park Jimin. Terlalu gegabah memang jika ia memutuskan untuk melakukannya sendiri. Jika membiarkan Jimin dan anak buahnya saja yang melakukan ia akan sangat menyesal, pokoknya ia harus terlibat secara langsung, ia harus bisa menghancurkan sendiri ayahnya yang jahat itu.
"Tapi, apa tidak terlalu lama jika menungguku tamat sekolah?, sementara aku masih di kelas 10 sekarang?"
"Tidak ada tapi tapian lagi Lee Ha Na" Jimin mendudukkan tubuhnya tepat di samping Lee Ha Na.
"Kalau begitu baiklah, aku setuju denganmu, dengan begitu aku akan lebih memperdalam lagi keahlian bela diriku"
"Tetapi jangan sampai obsesimu untuk berlatih mengganggu waktu sekolahmu Lee Ha Na, bukankah kau ingin menjadi seorang Model?"
"Kau tenang saja, aku sudah handal dalam membagi waktuku"
Jimin mendekatkan tubuhnya pada Ha Na, mencoba lebih menempel seolah tubuh Ha Na adalah mahnet dan ia adalah besi yang akan terus tertarik kepada mahnet.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pulang sekarang, ibuku pasti sudah menungguku" melihat Park Jimin yang mulai mendekatinya Lee Ha Na beranjak dari duduk dan berpamitan sekaligus menghindari Park Jimin yang mulai menampakkan perangai buruknya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Vote, Like, Comment nya dongggggg 😊😊
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz
__ADS_1