
***Dia bukan berati bekas, dia adalah mutiara yang seharusnya kau jaga. Aku tahu kau tak akan pernah melupakannya. Bahkan sampai saat sekarang kau melihat rekaman ini.
Aku penasaran dengan perjuanganmu Jeon. Sungguh. Namun egoku terlalu tinggi. Aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang kita cintai. Sama sepertimu. Kau masih memiliki banyak waktu untuk cintamu, sementara aku harus bertarung waktu dengan kematian.
Aku tahu kau bahkan sering mengikutinya kemanapun. Aku tahu bagaimana kau secara diam diam memperhatikannya. Dan dari sanalah aku mengerti betapa tulus dan besarnya cintamu pada mutiaraku.
Ingat waktu di New York?, aku tak masalah dengan pukulan yang kau berikan padaku. Aku hanya bilang mari kita bersaing. Namun, kau terlalu pecundang kawan.
Bagaimana kau mengikutiku, bagaimana kau melihat aku yang sengaja mengetuk pintu kamar Ha Na. Bagaimana kau menganggap Ha Na wanita murahan. Aku tahu itu. Tapi semurahan apapun kau menganggapnya kau masih mencintainya, dan dia tetaplah mutiara.
Ha Na bukan batu kerikil yang bisa dibuang sembarangan, ia adalah berlian atau mutiara hitam yang sangat berharga. Jangan lagi pernah menganggapnya murah sekalipun ia pernah menjadi benalu di kehidupan kakakmu.
Aku tahu kau pernah mencoba mencari peralihan dengan memberi ruang pada keponakanmu, kau yang akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Korea untuk mencoba melupakan segalanya. Bagaimana?, apa kau berhasil membuang segalanya?, kurasa tidak Jeon. Kau telah terjebak dalam kubangan perasaanmu. Sama halnya dengan yang Ha Na rasakan.
Aku sadar betul bagaimana aku dijadikan peralihan untuk melupakanmu. Kalau kuingat aku begitu menyedihkan saat itu.
Tapi egoku kuat, aku membuatnya menjadi milikku, ya milikku yang akan kuikhlaskan pada orang lain, dan orang lain itu adalah dirimu.
Aku tahu bagaimana kau sempat menganggapku musuh. Aku tahu semuanya, kukerahkan banyak orang untuk mencari tahu. Tapi aku yakin persahabatan akan tetap ada. Ya, sampai akhir.
Aku banyak melakukan kebohongan pada kalian. Tapi untuk soal cinta aku tak pernah berbohong. Aku mencintainya. Sungguh, sampai akhir aku akan masih mencintainya.
Sedikit iri padamu yang masih bisa dan masih punya kesempatan banyak untuk berjuang demi cinta. Sementara aku sekarang harus memperjuangkanya dengan bertarung diujung kematian yang menanti***.
Jeon Jung Kook tak bisa menahan kesedihannya, melihat betapa Park Jimin mencoba memberinya ruang. Memang benar yang Jimin katakan. Ia tak berani mengambil risiko untuk memperjuangkan cintanya. Ia terlampau bodoh.
Beruntungnya ada Namjoon yang setia menguatkan Jung Kook yang merasa bersalah.
Jung Kook melanjutkan kembali rekaman yang sempat ia pause.
__ADS_1
***Datang dan temuilah dia.
Aku titipkan segala rindu dan sayangku padanya melalui dirimu, aku tipipkan rasa rindu dan sayangku pada malaikat kecil kami melalui dirimu.
Satu yang aku minta darimu.
Meski ruang untukku begitu kecil dan sempit dihatinya. Jangan mencoba serakah untuk menghapusku dari sana. Aku juga ingin bagaimana ia mencintaiku sampai akhir hidupnya. Sama sepertiku yang mencintainya sampai akhir hidupku.
Kupercayakan ia padamu. Aku yakin kau adalah pria yang mampu menjaganya untukku.
Maafkan aku yang sempat memaksa, maafkan semua atas dosa yang kulakukan pada kalian. Tak seharusnya aku menjadi tembok penghalang.
Kini ku buka gerbang tembok itu untukmu.
Aku bahkan rela ditempatkan dimana ini bukan tanah kelahiranku. Aku sengaja mencari tempat dimana kau berada. Mengatur segalanya agar kau bisa bertemu dengannya. Agar kau bisa menjaganya. Agar kau kembali ditempat semestinya kau ada. Kalian bahkan tidak bisa menebak semua ini kan?, aku membuatnya seperti sebuah teka teki.
Jangan mencoba menyakitinya. Ia sudah sangat terlatih menjadi istri seorang mafia. Pistol sudah seperti mainan baginya. Bersikaplah baik jikau kau tak ingin habis ditangannya.
Di akhir pesan lelaki Park masih saja sempat bercanda.
Park Jimin sungguh sosok sahabat yang begitu luar biasa. Meski ego, Jung Kook bisa memahami itu. Mungkin pabila Jung Kook berada di posisi yang sama ia juga akan melakukan seperti semua yang Jimin lakukan.
Pesan yang Namjoon terima dari Jae Hyuk, kemudian Jung Kook yang menerima pesan dari Namjoon yang sudah dititipkan oleh Jae Hyuk. Semua seperti berantai yang saling menyambung. Apakah cinta Jung Kook juga akan menyambung seperti sebuah rantai?.
Lelaki Jeon sungguh tak mengerti harus bereaksi seperi apa. Haruskah ia bersedih?, haruska ia senang?. Didirinya sedang berkecamuk kedua perasaan itu.
***
Benar benar tak mengira jika nyatanya selama bertahun tahun Ha Na berada ditempat yang sama dengannya. Berkeliaran disekitarnya dan juga otaknya.
__ADS_1
"Fokuslah menyetir Jeon, aku tak mau mati konyol karena rasa rindumu" ketus Namjoon ketika Jung Kook menyetir dengan sedikit melamun. Entah apalagi yang ia lamunkan?.
"Diam, atau aku benar benar kehilangan konsentrasi. Kenapa tidak kau saja yang menyetir?"
"Kalau aku yang menyetir kau tak akan bertemu cintamu. Aku yakin" Namjoon tergelak, sengaja membuang sedikit ketegangan yang mulai menyelimuti seorang Jeon Jung Kook.
***
Ha Na terlihat sedang menemani si kecil Jiseok yang sedang melukis. Mereka duduk dibawah sebatang pohon dengan daun yang merimbun. Memberi keteduhan bertemankan kesejukan dari angin sore yang berhembus. Mereka masih berada di halaman rumah mereka sendiri.
"Ibu, aku haus" keluh Jiseok ditengah kesibukannya yang sedang melukis. Membuat Ha Na yang sedang memikirkan sesuatu terperanjat begitu saja. "Akan ibu ambilkan minuman. Kau tunggu sebentar" tanpa menunggu lama Ha Na segera masuk kerumah untuk mengambil minuman.
Jiseok kembali sibuk melukis gambar gerbang rumah mereka. Ia sempat bingung ketika tiba tiba ada sebuah mobil yang masuk di area rumah mereka. Mungkin itu hanya tamu ibunya. Itulah yang dipikirkan oleh Jiseok yang tak mau ambil pusing.
Tunggu, kenapa orang yang turun dari mobil itu adalah orang yang Jiseok pernah lihat. Dan satu orang lagi bersamanya.
***
Jeon Jung Kook terlihat berpikir keras ketika matanya menemukan Jiseok yang sedang menatap kearahnya dan Namjoon. Anak itu kan teman sekelas cucunya. Tidak salah lagi, anak itu teman Kim Ha Ra.
Sekelebat pertanyaan kembali mendatangi Jeon Jung Kook.
Mungkinkah anak laki laki itu adalah anak Park Jimin?, yang artinya juga anak dari wanita yang ia cintai.
Pantas saja Jung Kook merasa tidak asing dengan wajah anak itu. Ternyata setelah diingat ingat memang wajah anak kecil itu mirip sekali dengan Park jimin.
Pantas saja kemarin kemarin Jung Kook sempat melihat bagaimana Jiseok menenagkan cucunya dengan cara mencium dan memeluk. Oh, rupanya anak itu menuruni sifat ayahnya. Benar benar unggul bibit Park Jimin yang satu ini.
LOVE LOVE
__ADS_1
Author: Ameera Limz