
Didepan pintu kamar milik Park Jimin.
"Malam ini kau akan tidur dikamarku ini, dan aku akan tidur disebelah" Park Jimin menunjuk arah pintu kamar yang satunya lagi. "Masuklah lalu istirahat"
"Baiklah" Lee Ha Na masuk kedalam kamarnya kemudian menutup pintunya begitu saja.
Ha Na memperhatikan seluruh interior yang ada dikamar itu, nuansanya tak berbeda jauh dengan kamar gelap itu namun setidaknya kamar yang ia tempati malam ini tidak menimbulkan trauma baginya. Ha Na heran kenapa Park Jimin begitu menyukai sesuatu dengan warna yang gelap?.
Lee Ha Na meletakkan tas branded miliknya keatas sofa yang menyambung diujung ranjang kemudian ia merebahkan tubuhnya diatas sofa itu pula.
Rasa lelah habis berlatih tadi mulai mengerayangi seluruh tubuh Lee Ha Na mulai dari ujung kepala hingga keujung kakinya dan membuainya untuk memejamkan mata kemudian terlelap.
Beberapa jam kemudian tepatnya ditengah malam Lee Ha Na terbangun karena ia merasa sangat gerah, sekujur tubuhnya berkeringat, ia lupa sebelum tidur tadi ia tidak membersihkan badannya terlebih dahulu.
Dengan mata yang masih sedikit terpejam Lee Ha Na berjalan menuju ke kamar mandi yang ada dikamar tersebut untuk mandi sebentar sekedar membersihkan tubuhnya yang berkeringat, siapa tau setelah selesai mandi ia bisa melanjutkan tidurnya dengan nyenyak.
Kucuran air dingin dari Shower yang lebih tinggi dari puncak kepala Ha Na, setelah merasa cukup Lee Ha Na mematikan kran airnya kemudian berjalan menuju loker loker kecil yang berisi handuk bersih milik Park Jimin, ia memilih handuk bergaya kimono untuk ia pakai menutupi tubuhnya dan satu helai handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Begitu selesai menggunakan handuk Lee Ha Na keluar dari kamar mandi, beruntung dikamar milik Park Jimin ada hair dryer sehingga ia bisa menggunakannya untuk mengeringkan rambut. Sebenarnya baru kali ini Lee Ha Na menggunakan barang barang milik orang lain tanpa izin seperti ini, tapi apa mau dikata ia membutuhkannya, toh Park Jimin tidak akan marah jika ia menggunakan barang barangnya.
Selesai mengeringkan rambutnya kemudian Lee Ha Na hendak membaringkan tubuhnya yang masih menggunakan handuk.
***
(Lee Ha Na Part)
Kubaringkan tubuhku yang lelah dan masih mengginakan handuk mandi ini keatas ranjang King Size milik Park Jimin yang berbalut badcover abu abu polos.
Belum juga mataku terpejam tiba tiba aku tidak sengaja mendengar suara suara aneh dari kamar sebelah, suara itu terdengar seperti suara erangan seseorang. Ya, aku tidak mungkin salah dengar, suara itu adalah suara Park Jimin dan satu lagi suaranya terdengar seperti suara wanita.
Apa benar Park Jimin membawa wanita kekamarnya?, tapi apa yang mereka lakukan?, apa yang dimaksud oleh Park Jimin tadi adalah....
__ADS_1
Tak kusangka ternyata ia benar benar membawa wanita kekamarnya, tadi kupikir itu hanya main main. Sial, seharusnya Park Jimin membuat kamarnya menjadi ruang yang kedap suara, bukankah dia banyak uang, bagaimana bisa ia merasa begitu santai seperti itu, apa ia tidak malu jika orang lain mendengarkan mereka?.
Persetan dengan apa yang kudengar, aku kembali mencoba memejamkan kembali mataku tapi sialnya aku tidak bisa tertidur lagi gara gara itu. Sudah dini hari mereka masih saja berisik, dasar pria mesum.
***
(Author Part)
AKHHHH... TOLONGGGG.....
Lee Ha Na menjerit histeris ketika tiba tiba listrik di rumah itu padam. Entah kenapa sejak kecil Lee Ha Na begitu takut saat listrik padam dan ia tidak bisa melihat apapun, ia akan menangis dan ia akan merasa begitu sesak, mungkin ia mengalami hal yang namanya Nyctophobia yaitu ketakutan pada kegelapan.
Begitu listrik padam dan mendengar teriakan histeris dari Lee Ha Na itu membuat Park Jimin yang sibuk dengan kegiatan malamnya bersama jal*** simpanannya terhenti, dengan segera ia menggunakan piama tidur miliknya kemudian meraih handphone miliknya untuk dijadikan sebuah penerangan. Diabaikannya wanita yang baru saja bersenang senang dengannya itu.
"Lee Ha Na, kau baik baik saja?" tanya Park Jimin begitu ia berhasil membuka pintu kamar tempat Ha Na berada.
Ia menemukan Lee Ha Na duduk meringkuk dibalik selimut, wajahnya ia sembunyikan diantara kedua lengannya, Lee Ha Na terisak dan mengalami kesusahan bernafas.
Ditarik oleh Park Jimin selimut yang menutupi tubuh Ha Na lalu ia mendekap tubuh Ha Na yang gemetar itu dan Ha Na meronta tanpa membuka kedua matanya yang masih terpejam karena takut.
"Nyalakan lampunya, aku takut... hiks..." Lee Ha Na masih terisak tanpa berani membuka kedua matanya.
"Apa yang kau takuti Ha Na?, aku ada disini" Jimin mencoba menenangkan.
"Aku.. aku takut kegelapan, aku mengidap Nictophobia" ucap Ha Na pelan dan lirih.
"Tenanglah, ini sudah cukup terang Ha Na, bukalah dulu matamu" perintah Park Jimin.
Dengan takut takut Lee Ha Na mencoba membuka matanya perlahan, ia sedikit lebih tenang ketika ia mendapati seberkas cahaya flashlight dari handphone Park Jimin.
Deru nafas Lee Ha Na yang berada dalam dekapan Park Jimin tidak teratur, ia merasa begitu sesak, dan Park Jimin melihat juga merasakan hal itu.
__ADS_1
"Tenanglah Ha Na, aku akan menemanimu, aku sudah meminta Jae Hyuk membawakan lampu emergency kemari" melihat nafas Ha Na yang tidak teratur Park Jimin meraih sebotol air mineral yang ada diatas nakas miliknya lalu memberinya pada Ha Na untuk Ha Na minum.
Ha Na membenarkan posisi duduknya sedikit menjauh dari Park Jimin dan mencoba menenangkan dirinya.
"Aku mohon jangan pergi sebelum Lampunya menyala"
"Tidak akan, aku akan tetap disini"
Kemudian Jae Hyuk datang dengan membawa lampu emergency kekamar Park Jimin, cahaya lampu iti bahkan lebih terang dibandingkan lampu kristal mewah yang menggantung dilangit langit kamar Park Jimin tadi.
"Boss ini lampunya"
"Letakkan diatas nakas" perintah Jimin, "Kenapa Listriknya bisa padam?"
"Sepertinya ada aliran listrik yang bermasalah digudang, sekarang sedang dicek dan diperbaiki"
"Kau bisa pergi sekarang, jangan lupa bawakan juga lampu ke kamar sebelah, wanita itu masih disana" perintah Jimin pada Jae Hyuk. tanpa menyebut nama wanita itu pun Jae Hyuk sudah tau siapa yang Jimin maksud, wanita itu adalah jal*** simpanan Park Jimin, Jal*** itu biasanya tinggal di Paviliun milik Jimin yang berada di sebelah rumah utama, selama ini Lee Ha Na memang tak pernah melihatnya karena wanita itu memang tidak pernah keluar jika tidak ada keperluan mendesak atau Jimin memintanya datang kerumah utama untuk menemaninya.
"Baiklah boss" kemudian Jae Hyuk keluar dari kamar itu.
"Kenapa kau belum tidur?, tadi kupikir kau sudah tertidur" ucap Jimin ketika melihat Lee Ha Na sudah tenang.
"Aku tadi sudah tertidur kemudian aku bangun karena merasa gerah, jadi aku memutuskan untuk mandi, maafkan aku sudah menggunakan kamar mandimu" jawab Ha Na. Tidak Ha Na jelaskan apa yang baru saja membuatnya untuk susah tertidur meskipun ia sudah mandi.
"Tidak masalah" ucap Jimin. "Sekarang kau tidurlah, ini sudah dinihari, kau tidak perlu takut karena sekarang sudah ada penerangan" Jimin baru saja hendak bangkit dari duduknya kemudian Ha Na mencegatnya.
"Terimah kasih Park Jimin" ucap Ha Na dan Jimin hanya tersenyum kemudian pergi meninggalkan Ha Na sendiri lagi, ia masih harus menuntaskan masalahnya.
*****************************************
Jangan lupa tinggalin jejak dan Vote ya readers, jangan jadi silent readers terus dong.
__ADS_1
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz