
Gadis dengan pipi yang sedikit gebu itu akhir akhir ini benar benar tak tertarik untuk mengikuti mata kuliah. Sudah beberapa kali ia bolos dalam pelajaran, ia lebih suka menghabiskan waktunya untuk menyendiri di sebuah tempat yang tinggi. Kesal sekali rasanya dia terus menerus didera rindu yang menyerap seluruh semangat hidup.
Apa lelaki yang terikat janji dengannya beberapa belas tahun yang lalu itu sudah melupakan dirinya?, melupakan kenangan manis mereka?.
Ingin sekali rasanya gadis bermanik abu tua itu terjun bebas dari rofftop gedung kampus mereka yang berlantai 7.
"YAKKKKKK..... DASAR PENIPU...., AKU BENCI PADAMU, BENCI SEKALI" gadis itu terus terusan saja berteriak kencang membuang segala emosi yang sempat mengumpul didirinya.
"YAAAA... AKU LEBIH BENCI LAGI PADAMU" lelaki berkulit putih dengan gummy smile sebagai ciri khasnya keluar dari sebuah ruangan yang lebih mirip seperti sebuah gudang yang ada di rooftop, merasa tidur siangnya terganggu dengan cemprengnya teriakan seorang wanita. Laki laki itu menatap tajam kearah sang gadis. Matanya berkilat kilat penuh syarat amarah.
"Siapa kau?" tanya gadis itu dengan ketus setelah membalik tubuhnya menghadap lelaki yang sejak tadi berdiri dibelakangnya, melipat kedua tangan di depan dada dengan wajah yang kesal.
"Ck.., harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau berteriak tidak jelas di sini?, kau mengganggu waktu tenangku" lelaki pemilik gumny smile itu bertanya tak kalah ketus dengan nada pertanyaan si gadis dengan dress hitam itu.
"Huh, dasar. Memangnya kau pikir ini tempat pribadimu" gadis itu mencibir. Bibirnya mencong kesana kemari. Membuat lelaki dihadapannya itu gemas dan ingin sekali mengikat bibir itu.
Karena kesal luar biasa, lelaki itu berjalan mendekat kearah si gadis dengan perlahan. Tentulah gadis itu merasa takut, belum lagi melihat tatapan dari pria tersebut. Tanpa sadar gadis itupun perlahan mundur sampai punggunya membentur pagar pembatas. Bayangkan jika pagar itu tak ada. Pasti gadis itu benar benar telah terjatuh dengan begitu bebas dari rooftop, dan tubuhnya akan remuk berkeping keping dibawah sana.
Tidak sampai sejengkal jarak antara gadis berpipi gebu dengan dress hitam selutut dengan pria yang berkulit putih tampak kontaras dengan pakaiannya yang serba hitam.
"Eomma......, huwahhh....., tolong aku Eomma, ada pria jahat disini" entah angin apa yang lewat barusan?. Gadis itu tiba tiba berjongkok. Menundukkan kepalanya pada kedua lutut dan menangis dengan histeris.
"Ya, ada apa ini?. Kau kenapa, hei kenapa kau menagis?" pria itu panik. Dia tidak melakukan apapun tiba tiba saja gadis itu menangis. Jangan sampai ada orang lain yang datang ke rooftop bisa bisa ia dicurigai telah menyakiti gadis itu.
"Matilah aku. Ada yang datang" pria itu mengumpat ketika menyadari ada suara langkah kaki yang mendekat kearah mereka.
"Siapa disana?".
Suara lain. Itu suara perempuan. Lelaki itu pun tak mengerti harus bagaimana. Ia akhirnya tetap berdiri mematung dihadapan si gadis yang sedang menangis.
"Kim Ha Ra?, kenapa kau ada disini?, kenapa kau menangis?, apa ada yang menyakitimu?" wanita yang baru saja datang itu langsung berlari memeluk Ha Ra yang sedang menangis.
"Cashley Eonnie, pria ini jahat, dia membentakku" Ha Ra mendongak, menunjuk kearah si lelaki. Dan Cahley langsung mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ha Ra.
__ADS_1
"Benarkah itu Min Yoon Dae, kau apakan adikku?" selidik Cashley pada lelaki berbaju hitam itu.
Ternyata namanya Min Yoon Dae. Anak dari ketua yayasan kampus.
"Apanya?, Aku hanya bertanya kenapa ia berteriak disini. Dia sudah mengganggu waktu tidur siangku" Yoon Dae tak terima ia disalahkan oleh Cahsley.
"Kau seharusnya tidur di rumahmu. Jadi, kau selalu kabur saat jam pelajaran ternyata kau tidur disini?" tanya Cahley pada Yoon Dae. Namun Cashley masih tetap memeluk Ha Ra.
"Terserah aku ingin tidur dimanapun. Tak ada larangan untuk itu. Aku ingin tidur nyenyak, sebaiknya bawa adikmu untuk pergi dari tempat ini" ketus Yoon Dae dan kembali masuk ke ruangan yang terlihat seperti gudang itu.
***
"Eomma...., bisa tidak aku pindah sekolah di Seoul saja?, aku tidak ingin berpisah dengan Oppa" Ji Hye merengek pada ibunya.
"Sayang, nanti kau pasti akan sangat merepotkan Oppamu disana" ucap Ha Na.
"Tidak Eomma, Ji Hye janji"
"Eommaaaaa, Ji Hye sudah kelas 2 JHS Eomma, Ji Hye pandai bela diri, Ji Hye pandai menggunakan senjata seperti Eomma dan Oppa, Ji Hye sudah terbiasa mengurusi diri sendiri"
"Nanti, bicarakan nanti pada Appamu. Sekarang selesaikan tugasmu kemudian mandi" perintah Ha Na pada putrinya.
***
"Bagaimana sayang, kau sudah mengurus segalanya?" Ha Na terlihat mengelus wajah Jiseok yang baru saja pulang.
"Ayo makan malam, ibu sudah menyiapkan semuanya" Ha Na menarik Jiseok untuk duduk pada kursi di ruang makan.
"Ayah mana bu?", Jiseok memang terbiasa memanggil Ha Na dan Jung Kook dengan sebutan Ibu dan Ayah.
"Sedang mandi, sebentar lagi akan turun".
***
__ADS_1
Singkat cerita Jiseok dan adik perempuannya pindah ke Seoul. Jiseok melanjutkan kuliahnya disana sementara Ji Hye melanjutkan sekolahnya. Mereka tinggal di rumah keluarga Park, rumah yang dulunya menjadi markas Park Jimin, Rumah yang dulu ditinggali oleh Park Jimin dan Ha Na ketika bersama.
Semua itu adalah atas perintah Ha Na, ia percaya jika kedua anaknya tinggal disana bersama orang orang mereka yang masih bekerja di sana, salah satunya pria bernama Jae Hyuk. Lelaki yang dulu menjadi orang kepercayaan Park Jimin.
"Oppa, Oppa sedang apa?" tanya Ji Hye yang tiba tiba sudah berguling diatas ranjang milik Jiseok.
Sementara Jiseok terlihat fokus pada laptop yang ada diatas pahanya. Lelaki itu duduk bersender pada kepala ranjang dengan posisi kaki yang menyila. Ji Hye sedikit mendekatkan kepalanya untuk mengintip pada layar laptop milik Jiseok.
Jiseok yang barusan sangat fokus pada laptopnya harus buru buru menutup laptop tersebut tanpa dimatikan. Untung ia sedang menggunakan earphone. Bisa bahaya jika adiknya yang begitu manja itu melihat dan mendengar apa yang baru ia lihat.
"Sejak kapan kau ada disini ha?" tanya Jiseok sambil melepas earphone yang baru saja menyumpal kupingnya.
"Baru saja, aku mau tidur disini" Ji Hye mengabaikan Jiseok, gadis remaja itu menarik selimut untuk menutup tubuhnya dan tertidur.
"Dasar bocah" keluh Jiseok.
Pria tampan dengan mata yang sexy itu beranjak kearah meja belajar. Meletakkan laptopnya disana.
Kemudian ia terlihat mengirim sebuah pesan melewati sebuah aplikasi chat.
"Bantu aku untuk besok, kita bertemu di di depan kampusmu"
Setelah Jiseok berhasil mengirim pesannya pria itu terlihat menyunggingkan senyum. Rasanya tak sabar sekali harus bertemu dengan seseorang. Dan mengurisi hari pernikahannya. Ya, Jiseok memilih untuk menikah di usia muda sambil menyelesaikan kuliahnya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Yayyyy... Ini hanya part bonus ya. Kalau banyak yang merespon untuk part ini mungkin aku bakalan bikin kelanjutannya tetapi dengan judul yang lain.
Tapi jika tidak berati cukup sampai disini guys.
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz
__ADS_1