Still Loving You

Still Loving You
ISTRI


__ADS_3

Annyeong Readers. Author kembali ingin menyampaikan keluh kesah ni. Kok belakangan ini pengunjung MSDB story banyak yang pasif ya?????. Apakah cerita author tak menarik?. Author sungguh minta maaf kalau memang ceritanya mengecewakan kalian. Meski begitu Author akan post sampai ending part.


Nanti setelah selesai bakalan author revisi ceritanya juga tulisannya. Dan terimakasih banyak buat kalian yang selalu setia baca MSDB story sampe sekarang.


PURPLE U Readers 💜


_____________________________________________


"Ha Na bangunlah. Le Ha Na kita sudah sampai" Park Jimin membelai wajah Ha Na dengan jemarinya penuh perasaan.


"Kita sudah sampai?" tanya Lee Ha Na yang baru saja membuka matanya. Ia bisa melihat dengan jelas wajah Park Jimin yang sedang tersenyum padanya. Wajah itu begitu dekat membuatnya merasa sedikit malu.


"Heem. Ayo turun" Jimin mengulurkan tanganya untuk membuka sabuk pengaman disisi tubuh Ha Na.


"Tunggu dulu" tiba tiba Lee Ha Na menyadari sesuatu. Mereka tidak berada didepan rumahnya melainkan di depan rumah Park Jimin. Ya, karena ia tertidur maka Jimin memilih untuk membawanya pulang ke markas.


"Ada apa?" Jimin menatap bingung.


"Kenapa kau tak mengantarku pulang kerumahku?"


"Siapa suruh kau tertidur" lelaki Park seolah tida bersalah. Ia turun begitu saja dari mobil meninggalkan Lee Ha Na yang kebingungan.


"Hei..., antarkan aku pulang" Ha Na berteriak mengikuti langkah Park Jimin.


"Pulang sendiri jika kau ingin pulang"


Tiba tiba saja Lee Ha Na diam sementara Park Jimin melenggang masuk kedalam rumah tanpa menoleh kebelakangnya mengabaikan Ha Na yang baru saja berteriak padanya.

__ADS_1


Park Jimin sudah sempat mengambil minuman kedapur. Ia pikir Ha Na mungkin sudah beristirahat di sofa atau di salah satu kamar. Ia kemudian mencari keberadaan Ha Na disudut rumahnya namun hasilnya nihil. Ia tak menemukan keberadaan Lee Ha Na.


Dengan langkah yang tergesah gesah Park Jimin kembali lagi keluar mungkin saja Ha Na masih didalam mobil pikirnya.


Lelaki Park masih tak menemukan keberadaan Ha Na dimobilnya. Ia sedikit mengedarkan pandangan pada setiap sudut halaman ia menemukan Ha Na sedang berjongkok menghadap pada salah satu pohon.


Wanita Lee itu terlihat begitu pucat ia seperti sedang memuntahkan sesuatu.


"Ha Na kau baik baik saja" Park Jimin terlihat panik. Ia berlari menghampiri Ha Na yang sepertinya mulai kehabisan tenaga.


Kedua tangan kekar Park Jimin memegang kedua pundak Lee Ha Na dan membawanya untuk berdiri. Belum Juga sempat wanita Lee itu berdiri kemudian ia merasa pengelihatannya mengabur. Kalau saja Park Jimin tidak segera memegangnya mungkin wanita cantik dengan manik mata yang bulat itu akan jatuh tersungkur.


Dengan tenaganya yang bukan main main Park Jimin segera membopong tubuh Lee Ha Na untuk dibawa kedalam rumahnya. Ia berteriak memanggil nama salah seorang pesuruhnya untuk segera menelpon dokter pribadi yang biasa menanganinya.


***


"Apa yang terjadi padanya?" cecar Park Jimin pada dokter dengan nama Jung.


Sementara itu Park Jimin malah menjadi semakin bingung tak jelas melihat ekspresi yang diberikan dokter Jung. Ia mengernyitkan dahi hingga dahinya berkerut bak orang tua berkulit keriput.


"Selamat tuan Park" dokter Jung mengulur tangannya ingin bersalaman pada Park Jimin. Dengan penasaran pula Park Jimin menyambutnya. Menautkan tangannya pada tangan dokter Jung. "Kau harus bisa menjaga ibu juga anaknya dengan baik" lanjut dokter Jung ketika tangan mereka masih saling bertaut.


"Ma.. maksud dokter?" Park Jimin kaget lantas menjadi gugup tak menentu. Perasaannya bercampur aduk seperti Kopi yang tercampur pada gula.


"Bukankah dia istrimu?" dokter itu malah bertanya balik mengabaikan Park Jimin yang berdiri mematung dengan banyak pertanyaan memenuhi kepalanya.


"Ah...Itu, Iya. Dia istriku" lelaki Park jadi bingung ingin menjawab apa dia lantas mengiyakan perkataan dokter Jung. Beruntung Lee Ha Na masih belum sadar atau wanita itu akan protes ketika Jimin menyebutnya istri.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi dulu. Di resep ini sudah ada vitamin dan obat lain yang bisa menguatkan kandungannya. Setelah ini ia akan segera sadar ia mungkin hanya kelelahan" dokter dengan setelan kemeja hitam itu memberi secarik kertas berisi resep obat pada Park Jimin kemudian ia pergi.


Sepeninggalan sang dokter Jung lelaki Park terlihat bingung. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia tahu betul itu adalah darah dagingnya. Ia senang namun ia juga khawatir jika Lee Ha Na tak bisa menerima semuanya. Secara Ha Na sedang berada diatas puncak karirnya terlebih lagi Ha Na mencintai lelaki lain.


Park Jimin menjadi gusar. Berkali kali ia mengusap wajahnya. Menjatuhkan tubuhnya pada sofa dengan kasar. Ia bingung dengan apa yang ingin dikatakannya pada wanita Lee setelah ia tersadar nanti.


Andai saja Park Jimin tahu kalau sebenarnya itulah yang diinginkan oleh Lee Ha Na mungkin ia tak akan gusar seperti itu. Yang ada dia akan jingkrak jingkrak kesenangan.


"Apa yang akan kau lakukan Park Jimin?" Jimin membatin. Ia benar benar kebingungan tak menentu.


***


"Ayah, apa aku boleh ikut liburan bersama Eun Seo juga pricess Lee?" Jeon Hee Ra memberanikan dirinya untuk meminta izin liburan. Ketiga sahabat itu sudah merencanakan sebuah liburan yang menyenangkan di suatu tempat yang indah tentunya. Bukan hanya mereka bertiga sebenarnya. tetapi ada orang lain yang akan ikut liburan.


Tapi entahlah mereka akan jadi berangkat atau tidak setelah ini. Karena Lee Ha Na sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Apa lagi jika Park Jimin tahu maka ia tidak akan pernah melepas Ha Na untuk pergi begitu saja. Park Jimin itu kalau sudah jatuh cinta ia akan sangat protektif.


"Kalian akan liburan kemana?" tanya tuan Jeon pada Hee Ra. Ia harus tahu betul kemana putrinya akan pergi. Karena ia tak ingin terjadi apa apa pada putrinya. Sudah cukup ia kebingungan bertahun tahun untuk menemukan putri semata wayangnya itu.


"Ayah tenang saja. Kami akan liburan ke beberapa pulau di Indonesia. Kami dengar disana tempatnya sangat indah. Kami tidak pergi bertiga saja tetapi bersama kak Namjoon dan istrinya. Ayah membolehkanku kan?" tanya Jeon Hee Ra penuh harap.


"Kalau ada Kim Namjoon ayah perbolehkan"


Betapa senangnya Jeon Hee Ra setelah ayahnya mengizinkan dirinya. Ia berharap saat liburan ia akan bisa melupakan pamannya yang pergi entah kemana.


"Terima kasih ayah" wajah gadis Jeon menjadi berseri seri. Ia membayangkan liburan mereka yang menyenangkan. Berjemur ditepi pantai, Hiking, Menyelam menikmati pemandangan bawah laut yang indah atau justru berendam pada air terjun yang menyegarkan. Tak hanya itu. Ia juga membayangkan akan bertemu dengan pria tampan yang akan dikenalkan Eun Seo padanya. Semoga saja dia akan bisa melupakan cinta pada pamannya sendiri.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜

__ADS_1


LOVE LOVE


Author: Ameera Limz


__ADS_2