
Kediaman Lee Ha Na
"Nyonya muda sudah pulang?" tanya si pelayan rumah tangga pada Ha Na yang baru saja menginjakkan kaki dikediamannya.
"Heem" jawab Ha Na tak berselera. Ia tampak terlihat begitu kacau dan lesu. "Apa ibu sudah bangun?" tanyanya.
"Nyonya Min sedang di halaman belakang"
"Apa ibu menanyakanku?"
"Tadi saat nyonya terbangun ia menanyakan keberadaan nyonya muda.
"Lalu apa yang bibi katakan pada ibu?"
"Aku hanya bilang kalau nyonya ada pemotretan malam"
"Baguslah, aku ingin kekamar dulu, tolong bibi bilang pada ibu setelah mandi aku akan menemuinya" Lee Ha Na hendak berlalu.
"Nyonya, apa nyonya muda baik baik saja?" tanya bibi asisten rumah tangga yang melihat Lee Ha Na begitu kacau.
"Heem" hanya deheman kecil yang keluar dari mulut seorang Lee Ha Na.
***
Kucuran air dari shower menetes membasahi sekujur tubuh Lee Ha Na. Isakan kecil juga keluar dari bibir mungilnya itu. Membasuh mengusap seluruh tubuhnya hampir berjam jam lamanya dibawah kucuran air yang begitu dingin. Membuat tubuhnya terlihat begitu memucat dengan mata yang begitu sembab.
Ia sebenarnya meruntuki kebodohannya. Kenapa ia bisa dengan mudahnya ia memberi tubuhnya pada Park Jimin.
"Lihatlah betapa kotornya dirimu Lee Ha Na" Ha Na membatin memandangi pantulan tubuhnya pada cermin tepat di tempat mandi. Bercak bercak bekas semalam membuat ia merasa begitu murahan hingga ia merasa ia tak kalah murah dengan jala** ayahnya dan jala** simpanan Park Jimin.
Disentuhnya bercak bercak itu dengan tangannya. Matanya memandang kosong dan lurus pada pantulan dirinya di cermin.
"Apa jalan yang kupilih ini adalah benar?" Ia bertanya tanya pada diri sendiri.
Lee Ha Na benar benar ingin menyerah mencintai Jeon Jung Kook. Namun, dengan menyerahkan tubuhnya pada Park Jimin apakah itu pilihan yang benar?. Terlebih lagi ia tak ingin menyerahkan dirinya pada sang Sugar Daddy yang belakangan ini sangat menginginkan dirinya.
Begitu tahu jika jala** peliharaan Jimin tidak mengandung buah dari Park Jimin ia berpikir ingin segera hamil anak dari Park Jimin. Ia ingin ia bisa lepas dari belenggu Jeon Jung Sik dengan segera begitu tuan besar Jeon mengetahui jika ia hamil. Ia tak ingin menyakiti hati nyonya Jeon yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri dan Jeon Hee Ra yang menganggapnya seperti saudara. Sekali lagi Lee Ha Na mengorbankan harga diri nya hingga ke level paling rendahan demi orang lain. Namun sedikit yang membantu meringankan beban pikirannya adalah Park Jimin sepertinya benar benar mencintainya dan ia juga telah mulai membuka hati untuk lelaki Park itu.
Saat Lee Ha Na sedang merasa jijik dan membodohi dirinya sendiri dikamar mandi ia bisa mendengar ada suara yang mengetuk pintu kamarnya. Hanya suara ketukan saja tanpa ada suara yang memanggil dan Lee Ha Na sangat yakin itu pasti ibunya.
"Sebentar Bu" teriaknya dari arah dalam kamar mandi. Dengan segera ia menghapus jejak air matanya yang bercampur air shower. Menggapai bathrobe yang ia gantung pada gantungan disalah satu sudut dinding kamar mandinya yang bernuansa putih. Dan menutup rapat tubuhnya yang berjejak.
***
"Kakak, sepertinya aku akan langsung mampir kerumah princess Lee saja" ucap Kim Eun Seo pada Kim Namjoon. Mereka berdua baru saja menapakkan kakiknya di bandara Incheon setelah perjalan jauh mereka dari New York.
__ADS_1
"Kau naik apa?, apa mau kuantar?"
"Tidak perlu kakak sayang. Aku bisa naik taxi"
"Ya, tapi hati hatilah"
"Okay" Eun Seo menautkan ujung jari telunjuknya pada ujung jempol membentuk isyarat. "Tapi tolong bawakan koperku ya?"
"Baiklah tuan putri" Jawab Kim Namjoon tanpa bisa menolak permintaan adik semata wayangnya yang manja itu.
***
"Princess Lee, Lee Ha Na..., kau ada didalam?" Eun Seo mengetuk ngetuk pintu kamar Lee Ha Na secara berulang ulang begitu ia dipersilahkan masuk oleh asisten rumah tangga Lee Ha Na juga nyonya Min Ri ibunya Lee Ha Na.
Merasa tak ada jawaban dari orang yang dipanggilnya membuat Kim Eun Seo masuk begitu saja kekamar Ha Na.
Eun Seo melihat Ha Na menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut putih tebal. Tanpa basa basi lagi ditariknya selimut yang menutupi tubuh Lee Ha Na.
"Princess Lee, Are you okay?" Kim Eun Seo panik ketika menemukan Lee Ha Na penuh dengan peluh. Ditempelnya telapak tangannya pada dahi Lee Ha Na. Benar saja, Lee Ha Na sedang demam. "Lee Ha Na kau baik baik saja kan"
"Aku baik baik saja Eun Seo" jawab Ha Na dengan suara yang begitu pelannya. Saking pelannya hampir tak didengar.
"Tubuhmu panas sekali, kau mau kuantar kerumah sakit?"
Kim Eun Seo juga bisa melihat beberapa bekas memerah di leher Lee Ha Na. Ia tahu betul bekas apa itu hanya saja ia tak berani banyak bertanya pada Lee Ha Na.
Kemudian Kim Eun Seo mengirim sebuah pesan pada Park Jimin.
~Kak Jimin, Lee Ha Na sepertinya sedang sakit, tubuhnya panas dan berpeluh~
Tak lama begitu pesannya terkirim Park Jimin langsung menghubungi balik nomor Kim Eun Seo melalui aplilasi Kakao.
"Sekarang dimana dia?" tanya Park Jimin tanpa basa basi begitu Kim Eun Seo mengangkat panggilannya.
"Dirumahnya, aku sedang disini"
tut....
Panggilan diakhiri begitu saja oleh Park Jimin.
"Siapa itu?" tanya Lee Ha Na dengan suara yang lebih seperti sedang mencicit.
"Kak Jimin. hehe...." Kim Eun Seo tersenyum lebar menyebut nama Park Jimin. Ia benar benar sangat mendukung Lee Ha Na dan Park Jimin untuk lebih dekat.
"Lalu dia bilang apa?"
__ADS_1
"Aku bilang kau sakit. Lalu kak Jimin memutuskan panggilan teleponnya begitu saja"
Deg...
Jantung Ha Na berdetak keras begitu mendengar Eun Seo mengatakan kalau Jimin memutuskan panggilannya begitu saja.
"Sepertinya Park Jimin pun tak begitu perduli tentangku, ia hanya cinta pada tubuhku saja" Lee Ha Na membatin. Dan hatinya terasa sakit.
"Apa tante Min tahu kau sakit?" tanya Eun Seo yang membuyarkan pikiran Ha Na.
"Tidak" Lee Ha Na menggeleng.
"Biar kupanggilkan tante"
"Jangan Eun Seo, aku mohon jangan. Aku tak ingin ibu khawatir, kau tahu kan kesehatannya begitu rentan"
"Tapi..."
"Aku akan baik baik saja"
"Kalau begitu biar ku ambilkan obat pereda panas. Apa kau ada menyimpan obatnya?"
"Ada didapur, di lemari atas tempat memasak"
"Akan kuambilkan untukmu"
"Terima kasih Eun Seo. kau benar benar teman yang baik"
"Itulah gunanya seorang teman Lee Ha Na"
Begitu Kim Eun Seo kembali dari dapur dengan kotak obat ditangannya ia memberi sebutir obat penurun panas pada Lee Ha Na.
"Panasnya tinggi sekali Ha Na" Eun Seo kembali mengecek suhu tubuh Lee Ha Na dengan punggung tangannya.
"Tapi aku merasa dingin" Lee Ha Na sedikit menggigil dan menarik kembali selimut tebalnya.
Brak...
Seseorang membuka pintu kamar Lee Ha Na dengan begitu keras. Sontak membuat dua orang sahabat itu kaget dan mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz
__ADS_1