
"Lihat itu" Lee Ha Na mengarahkan wajah Park Jimin pada orang yang dimaksud. Kemudian ekspresi lelaki Park itu berubah seketika menjadi bak petir yang siap menggelegar. Ia emosi dan mengepalkan tinju.
Park Jimin baru saja akan turun dari mobilnya untuk menghampiri wanita yang sedang mereka perhatikan.
"Jangan kesana, kau mau tahu kejutan lainnya bukan?" Lee Ha Na mencekat tangan Park Jimin agar tidak turun dari mobilnya.
"Apa lagi hah?" Park Jimin masih emosi sehingga ia bicara dengan intonasi yang kasar terhadap Ha Na.
"Tahan emosimu itu. Lagipula kenapa kau jadi marah padaku?"
"Tapi aku harus menghampirinya Ha Na" Park Jimin mencoba untuk merendahkan nada bicaranya. Ia sadar ia tak seharusnya marah terhadap Lee Ha Na yang sama sekali tak salah.
"Kita biarkan saja dulu. Kau akan tahu kebenaran yang sangat tak terduga setelahnya"
"Jangan membuatku penasaran Lee Ha Na, aku harus turun sekarang" Jimin masih saja kekeuh untuk turun dari dalam mobilnya.
Sretttt....
Lee Ha Na menarik Park Jimin kembali dan memberi Park Jimin sebuah kecupan hingga lelaki dengan marga Park itu terdiam tak percaya.
Begitu Ha Na mencoba menarik wajahnya untuk menjauh malah ia yang kemudian ditarik oleh Park Jimin.
"Jangan coba coba menggodaku nona" bisik Park Jimin dengan suara yang berat dan dalam. Kemudian kembali membuai Lee Ha Na lagi.
Bughh...
Kepalan tinju Lee Ha Na mendarat indah pada perut roti sobek Park Jimin. Eh, maksudnya perut kotak kotak Park Jimin.
"Awhhhh... ini sakit, apa salahku eh?" keluh Park Jimin sambil mengusap perut berototnya yang terasa sedikit sakit.
"Kau berani bertanya apa salahmu eh?" Ha Na melototkan matanya pada Park Jimin.
"Heem, bukankah barusan kau yang memulai?" Park Jimin mengangguk kemudian bicara seolah tanpa kesalahan.
"Jangan terus mencari kesempatan tuan Park"
"Hehehe.." Jimin hanya menyengir. "Ha Na, bisakah aku bertanya sesuatu?" tanya Park Jimin dengan begitu tiba tiba.
"Tanyakanlah" balas Ha Na.
__ADS_1
"Apakah ada tempat untukku dihatimu sekarang ini?" tanya Park Jimin dengan suara yang makin pelan.
"Heiii, lihat itu" Lee Ha Na mengalihkan pembicaraan mereka ketika tiba tiba ia melihat wanita yang mereka perhatikan barusan dihampiri lagi oleh pria bangka tempat bermanjanya tadi. Lelaki yang wanita itu sebut paman. Lelaki yang wanita itu minta untuk bersabar menunggunya.
"Apa kau ingin tahu siapa lelaki itu?" tanya Lee Ha Na balik terhadap Park Jimin dan benar benar mengabaikan pertanyaan yang barusan dilontarkan Park Jimin padanya.
"Memangnya siapa dia?" sedikit kekecewaan tampak pada wajah Park Jimin karena Lee Ha Na telah mengabaikan pertanyaannya barusan. Namun, ia juga penasaran dengan lelaki yang telah sedikit tua bangka yang dimaksudkan Ha Na.
"Perhatikan saja dulu mereka berdua" Ha Na menangkap raut kekecewaan Park Jimin.
Kemudian raut kekecewaan Park Jimin berubah menjadi raut wajah yang penuh dengan emosi dan amarah tertahan. Bagaimana bisa ia melihat wanita itu mencium lelaki tua tersebut tanpa canggung sedikitpun sebelum akhirnya kedua orang itu masuk pada mobil yang sama.
"Kau sudah tahu kan kebenarannya?" tanya Ha Na lagi.
Cukup lama Lee Ha Na menunggu jawaban dari lelaki Park itu. "Katakan saja siapa memangnya lelaki tua bangka itu" perintah Park Jimin dengan suara yang dingin.
"Dia mungkin saja ayah biologis dari anak yang dikandung Min Young" jawab Ha Na santai.
"Apa?, apa maksudmu?" tanya Park Jimin dengan tak percaya.
"Ya, aku mendengar pembicaraan mereka, aku baru saja akan merekam percakapan mereka tadi, sayangnya kau merusak segalanya saat kau menelponku"
"Untuk apa aku bercanda padamu?, kusarankan agar kau jangan terlalu gegabah untuk menikahinya, karena mereka akan segera menikah begitu anak dalam perut Min Young lahir"
"Jadi dia mencoba menipuku dengan mengatakan kalau anak itu adalah anakku?" Park Jimin menahan emosinya. Dapat Ha Na lihat dengan begitu jelas saat Park Jimin mulai mengepaklan jari jemarinya.
"Begitulah, aku minta maaf karena kemarin aku sangat memaksamu untuk menikahinya dan bertanggung terhadapnya, hampir saja kau merawat anak orang lain karena aku yang memintamu"
"Dasar jala** tak tahu diuntung" umpat Jimin.
"Sabarlah, setidaknya kau telah mengetahui ini lebih awal kan?"
"Ya"
"Dan lelaki itu, lelaki adalah manusia yang sangat aku benci Park Jimin" Lee Ha Na bicara sambil menerawang mengingat sesuatu.
"Maksudmu?" Park Jimin makin bingung.
"Dia itu LEE TAE KYUNG" ucap Ha Na dengan menekankan nama pria yang sedang mereka bicarakan itu.
__ADS_1
Park Jimin malah semakin membelalakkan matanya tak percaya.
"Aku datang kemari sebenarnya hanya ingin mengusik kedamaiannya. Dan ternyata aku justru mendapatkan sebuah senjata ampuh untuk lebih mudah menghancurkannya. Dengan begitu aku bisa merusak rumah tangganya yang sekarang. Merusaknya seperti ketika ia merusak rumah tangganya sendiri bersama ibuku" sedikit air mata tertahan dibalik pelupuk mata Ha Na saat ia bicara tentang ibunya. "Aku yakin begitu istrinya yang sekarang mengetahui prilaku buruknya ia akan menjadi gelandangan. Karena semua kekayaan dan kemewahan yang ia rasakan pada awalnya difasilitasi oleh istrinya itu"
"Jadi maksudmu yang semulanya mucikari adalah istrinya?"
"Begitulah Park Jimin" Lee Ha Na benar benar sudah tak bisa untuk menahan emoisi dan air matanya tumpah.
Melihat hal itu membuat Park Jimin bergerak untuk menarik tubuh Lee Ha Na mendekat padanya. Memiringkan sedikit wajahnya sebelum akhirnya mempertemukan kembali bibir mereka.
Lee Ha Na hanya diam. Entah kenapa ia sedikit merasa tenang saat Park Jimin bersikap seperti itu padanya.
Mungkinkah itu hanya sebuah kebetulan yang terjadi karena selama ini Park Jimin banyak berada disisinya dan banyak membantunya?. Atau memang Lee Ha Na sungguh telah menempatkan lelaki Park itu pada sedikit hatinya?.
Jimin mengusap sudut bibir wanita Lee yang basah karena ulahnya. "Lakukan apa yang ingin kau lakukan Lee Ha Na, aku akan terus disampingnu untuk mendukungmu. Kita akan hancurkan mereka bersama sama" ucap Jimin tepat dihadapan wajah Lee Ha Na dengan jarak yang begitu tipis.
"Terima kasih telah banyak membantuku Park Jimin, aku tidak akan pernah tahu bagaimana nasibku tanpa kau, mungkin aku selamanya akan menyerahkan hidupku terhadap Jeon Jung Sik itu. Ya walaupun pertemuan kita harus diawali dengan...." Lee Ha Na menggantungkan kalimatnya.
"Maafkan aku" Park Jimin menjadi merasa bersalah.
"Tidak, ini juga kesalahanku. Bukankah waktu itu kau hanya berniat mencari sebuah kebenaran tentang diriku" Lee Ha Na mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipinya. Dan Park Jimin menahannya, Diusaplah oleh Jimin air mata itu dengan kedua ibu jarinya.
"Jangan pernah mengingat hal itu lagi Lee Ha Na, aku juga sakit karena merasa bersalah tak bisa menjagamu dari diriku sendiri" Park Jimin menangkup wajah Ha Na dengan kedua telapak tangannya. "Sekarang aku ingin mendengarkan langsung darimu apakah ada tempat untukku dihatimu?, Menikahlah denganku Lee Ha Na, Kita akan melewati semuanya bersama sama, aku akan membantu membebaskanmu dari belenggu tuan Jeon dan membantumu membalaskan dendammu itu" Park Jimin dengan berani meminta Ha Na untuk menikah dengannya.
"Aku......."
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Rasa rasanya aku udah agak malas buat Up nih story. Selain akunya yang sibuk, terus kek nya nih story sepi pengunjung deh. Ntah storynya gak menarik atau memang readersnya banyak yang pasif.
Sebenernya aku butuh semangat dari pembaca buat lanjutin next part. Karena cuma dari kalian aku bisa semangat lagi buat Up. Kalo dibilang aku dapat penghasilan tentu saja jawabannya tidak. ni Novel Fanfiction jadi gak bisa masuk kontrak.
Aku bakal lihat sikon, kalo banyak yang baca dan ninggalin jejak aku bakalan bikin next part nya. tapi kalo gak ada apa mau dikata. aku mungkin bakal hijrah ke aplikasi tetangga. 🙏🙏🙏
maafkan aku yang bilang gini. Yang aku bilang ini jujur kok.
Segini dulu yes, author juga sedikit gak enak body.
LOVE LOVE
__ADS_1
Author: Ameera Limz