
Disiang hari
Jeon Jung Kook terlihat begitu tidak tenang, sedari tadi pagi, saat sedang bekerja yang ia kerjakan hanya membolak balikkan file file yang seharusnya ia pelajari. Entah kemana pikirannya saat ini yang sebenarnya, sebagian berpikir tentang Lee Ha Na dan bagaimana cara mendapatkannya, sebagian lagi berpikir tentang keponakannya Jeon Hee Ra, kejadian semalam membuatnya begitu merasa bersalah dan resah.
Ia terlihat sedang mengetik sesuatu pada ponselnya.
~Sayang, bisa kita bertemu sebentar?, ada yang perlu dibicarakan, kita bertemu di kafe tempat biasa saat jam makan siang nanti~
Setidaknya begitulah isi pesan yang dituliskan oleh Jeon Jung Kook pada seseorang yang entah siapa itu.
"Arghhhh...., apa yang harus aku lakukan?" erang Jung Kook frustrasi.
Sekretaris pribadi yang berada satu ruang dengannya pun merasa aneh melihat tingkah bos nya yang kacau balau.
"Apa ada yang bisa saya lakukan pak?" tanya sekretasis In dengan sopan pada atasannya tersebut.
"Tolong kau carikan arsip proyek di Gwangju tahun lalu" jawab Jeon Jung Kook sedikit acuh.
"Baiklah pak, akan segera saya bawa kemari" sekretaris In berjalan dengan anggunnya meninggalkan ruangan mereka. Suara dari hentakan hak sepatunya pada lantai malah semakin membuat Jung Kook emosi.
"Sekretaris In" ucap Jung Kook tiba tiba ketika sekretarisnya itu hendak meninggalkan ruangan.
"Ya, ada apa lagi pak?" dengan senyum ramahnya sekretaris In berbalik ke hadapan Jeon Jung Kook.
"Tidak ada, hanya saja aku mau bilang besok jangan menggunakan sepatu dengan hak, suara hentakannya sedikit berisik" Jung Kook berbicara sambil melihat kerah sepatu sekretarisnya.
"I.. iya pak, saya tidak akan memakai sepatu seperti ini lagi" sekretaris In menunduk mematuhi perintah atasannya. Ia membenci dirinya yang menggunakan sepatu tersebut disaat atasannya dalam mood yang buruk. Ia juga harus ekstra sabar menghadapi atasan yang sedikit dingin itu.
Lalu kemudian sekretaris In pergi dari ruangan mereka, berjalan dengan pelan agar hentakan sepatunya pada lantai tak begitu keras.
***
Menunggu memanglah hal yang sangat membosankan, siapapun pasti tidak suka jika harus menunggu lama.
Jeon Jung Kook duduk disalah satu kursi paling sudut di kafe, menyesap Late hangat yang ada dihadapannya.
"Kenapa dia sangat lama, seharusnya dia sudah tiba" berulang kali Jeon Jung Kook mengecek waktu pada jam tangannya. Ia begitu sibuk dengan urusan kantor tetapi urusannya kali ini juga tak kalah penting.
Sementara itu di luar kafe, Lee Ha Na turun dari mobil Park Jimin. Sepertinya mereka habis dari suatu tempat sehingga mereka pergi berdua.
"Tunggulah sebentar, aku tidak akan lama" kemudian Ha Na menutup pintu mobil hitam milik Park Jimin.
"Baiklah, aku tunggu disini saja"
__ADS_1
Ha Na melangkahkan kakinya masuk kedalam kafe.
Deg..
Jantung Ha Na tiba tiba saja berdetak lebih kecang dari biasanya begitu melihat seseorang yang telah mengisi hampir seluruh hatinya duduk disalah satu kursi.
Kedua mata Ha Na tiba tiba saling memandang pada lelaki Jeon yang baru saja mengangkat kepalanya menghadap pada pintu masuk.
Jeon Jung Kook terlihat kikuk. Entahlah, ia harus tersenyum atau harus bagaimana. Ia tidak mengerti harus berekspresi seperti apa ketika manik hazelnya bertemu dengan manik hitam milik Ha Na.
Ha Na mengulas senyum menghampiri lelaki Jeon. "Paman, kau disini?" tanya Ha Na dengan ramah kemudian duduk dikursi tepat dihadapan Jeon Jung Kook tanpa permisi.
***
Hampir setengah jam Park Jimin menunggu Lee Ha Na keluar dari sana tapi ia masih belum juga melihat Ha Na keluar. Ia berinisiatif untuk menghampiri wanita Lee itu.
Park Jimin menghembus nafas dengan sedikit kesal ketika ia berhasil menemukan Lee Ha Na sedang duduk berbincang dengan sahabatnya yang sekarang menjadi saingan cintanya.
"Sayang, kau lama sekali" Park Jimin mengampiri Lee Ha Na, "Kau disini juga tuan muda Jeon?" tanya Jimin yang melihat kearah Jeon Jung Kook yang juga duduk disana dengan nada yang sedikit sinis.
"Kau bilang apa?" Ha Na mencicit malu, menundukkan wajahnya. Ia tak menyangka jika Park Jimin berani memanggilnya dengan sebutan sayang dihadapan Jeon Jung Kook.
"Apa yang kau lakukan Park Jimin" Ha Na merasa kesal, ia membatin meruntuki Park Jimin.
"Maafkan aku sahabatku, aku tahu kalian sedang berbincang. Tetapi aku harus membawa Lee Ha Na pulang bersamaku, ada yang harus kami kerjakan" Jimin tersenyum sinis pada sahabatnya itu.
Jung Kook akhirnya hanya bisa melihat Park Jimin pergi membawa Lee Ha Na dari hadapannya.
"Sepertinya mereka memang memiliki hubungan" gumam Jung Kook yang memperhatikan punggung Ha Na dan Jimin yang kian menjauh kemudian menghilang dibalik pintu kafe.
***
Park Jimin melajukan mobilnya begitu kencang, memecah jalanan kota Seoul yang sedikit ramai disiang itu.
"Kenapa bisa kalian bertemu disana?" tanya Park Jimin tiba tiba dengan nada cemburu. Lee Ha Na yang sibuk dengan ponselnya pun langsung menatap lelaki Park.
"Hanya kebetulan, ada apa kau bertanya soal itu?" tanya Lee Ha Na balik.
"Cih, kebetulan, aku tidak yakin dengan yang kau sebut kebetulan" Park Jimin mencibir.
"Ada apa memangnya, kenapa kau harus bertanya soal itu?" Lee Ha Na bingung. wanita Lee itu tidak mengerti jikalau sebenarnya Park Jimin sedang cemburu.
Citttttt.....
__ADS_1
Park Jimin mengentikan laju mobilnya dengan tiba tiba tepat disisi pinggir jalan.
"Apa kau tak bisa menyetir dengan benar?, kenapa kau mengerem mendadak?" Lee Ha Na kesal karena ponselnya ikut terjatuh bersamaan dengan mobil Park Jimin yang berhenti tiba tiba.
"Apa ada hal serius yang kalian bicarakan?" Park Jimin bertanya lagi, mengabaikan Lee Ha Na yang sedang kesal.
"Apa perdulimu?" tanya Ha Na ketus.
"AKU TIDAK SUKA KAU DEKAT DENGANNYA LEE HA NA" Jimin bicara dengan meninggikan suaranya, membuat Ha Na yang sedang kesal juga makin tersulut emosinya.
"KENAPA AKU HARUS MENURUTI PERKATAANMU, MEMANGNYA KAU PIKIR KAU ITU SIAPA?" Ha Na pun membalasnya dengan suara yang tak kalah tinggi. Jemarinya mencoba menggapai ponsel miliknya yang terjatuh dibawah dasboard mobil.
"Memangnya kau menganggapku apa Lee Ha Na, bahkan semalam kau..., maksudku kita..."
"Berhenti membahas soal itu Park Jimin"
"Kau benar benar...., aishhh...., pokoknua aku tidak suka kau dekat dengannya"
"Yak, memangnya kau itu siapa ha?, ingat statusmu Park Jimin, kau akan menjadi seorang ayah, dan kita sama sekali tak ada hubungan selain teman"
"Teman, hanya teman?, apa kau sama sekali tak mengerti maksudku hah?"
"Tak mengerti apa lagi Park Jimin?"
"Aku mencintaimu Lee Ha Na, aku mencintaimu"
Deg...
"Berhenti bercanda Park Jimin, kau akan menikah, dan aku... aku sama sekali tak punya perasaan terhadapmu" entah mengapa setelah Lee Ha Na bicara seperti itu malah justru membuat hatinya sakit sendiri.
"Kau berbohong, jika kau tak punya perasaan padaku mana mungkin kau membiarkan aku semalam"
"Kau lupa tuan Park, aku ini wanita kotor, aku seorang simpanan, aku sudah hancur sejak dulu, aku wanita kotor Park Jimin, WANITA KOTOR yang bisa tidur dengan siapapun, termasuk memberikan tubuhku padamu semalam" Lee Ha Na menekankan ucapannya, menyebut dirinya sendiri sebagai wanita kotor. Namun ia menangis ketika menyebutkan dirinya seperti itu.
Mendengar Lee Ha Na bicara seperti itu Park Jimin ikut merasa sakit, sesuatu terasa seperti sedang menusuk hatinya. Direngkuhnya tubuh Ha Na masuk dalam pelukan.
"Aku mohon, berhenti menyebut dirimu sendiri seperti itu Lee Ha Na, kau membuatku sakit, aku tahu aku yang membuat luka itu, aku tahu kau menjadi seperti itu karenaku. Kau wanita yang berharga Lee Ha Na" wajah Park Jimin menjadi sendu ketika wanita Lee itu menangis dalam pelukannya.
Jimin tak kuasa mendengar suara isakan yang memilukan itu, ia lantas menarik wajah Ha Na, menempelkan bibirnya yang sexy itu tepat pada bibir merah Lee Ha Na, dan sedikit memberi penekanan ditengah penyatuan itu. Ia tak tahan jika harus mendengar wanita Lee tersebut menyebut dirinya sendiri sebagai wanita yang kotor.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Author angkat tangan menulis part ini, Emosi author ikut meluap luap rasanaya.
__ADS_1
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz