
"Tuan Park, ayo bangun ini sudah hampir sore, Park Jimin bangunlah" Ha Na menggoyang lengan lelaki Park yang sudah menjadi suaminya itu. Ia terbangun lebih dulu ketika ia merasa begitu lapar dan ingin sesuatu.
"Hmmm" Jimin hanya menggeliat ketika jemari Ha Na menyentuh lengan kekarnya. Rasanya ia masih ingin tidur. Namun, mana bisa ia mengabaikan Ha Na dia itu kan bucin, ia hanya berpura pura masih tertidur agar Ha Na merayunya.
"Jimin ayolah, aku sangat lapar" rengek Ha Na yang memang tak sabaran. Ha Na pun masih saja bingung dengan sikapnya yang suka berubah ubah. Ia lebih sering menjadi manja.
"Jim, Jimin ayolah...., aku lapar. Lagi pula kau bilang kita akan menemui orangtuamu bukan?" kali ini Ha Na justru melayangkan cubitannya pada perut Park Jimin dan mau tak mau lelaki itu terbangun.
"Hentikan, okay aku bangun" Jimin akhirnya menyerah. "Katakan kau ingin makan apa?"
"κΉμΉ μ°κ° (Kimchi Jigae)"
"Yakin kau hanya mau makanan itu?, yang lainnya?"
"Tidak ada" Ha Na menggeleng.
***
Setelah selesai dengan acara makan siang yang nyaris sudah sore akhirnya Jimin menepati janji untuk mempertemukan Ha Na pada orangtuanya.
Jimim membawa Ha Na menuju halaman belakang rumahnya yang sangat luas itu. Mereka berjalan kaki dari rumah hampir sekitar 30 menit membuat Ha Na merasa menyesal ingin bertemu segera dengan keluarga suaminya itu. Kakinya mulai terasa sedikit pegal pegal mengikuti langkah Park Jimin.
Selama perjalanan yang Ha Na temui hanyalah hamparan padang rumput, hamparan bunga bunga liar, pepohonan, dan sedikit perbukitan. Tidak ada yang lain.
"Tunggu aku, langkahmu cepat sekali. Kakiku mulai pegal" Ha Na mengeluh ketika ia harus terengah engah mengikuti langkah Jimin yang lebih dulu meninggalkannya. "Bisakah kita istirahat sejenak?, apa ini masih jauh?"
"Kita sudah hampir sampai, ayo" Jimin menunggu Ha Na menyusulnya. Mengulur tangan agar Ha Na berpegangan padanya.
"Di dekat mana tempat orangtuamu?"
"Disana" Jimin menunjuk pada sebuah bukit yang tidak begitu tinggi. Dengan jelas Ha Na bisa melihat ada sebatang pohon yang cukup besar pada puncaknya.
__ADS_1
"Mana orangtuamu?" Ha Na penasaran pasalnya ia tidak melihat sosok siapapun diatas bukit yang tak begitu tinggi itu.
"Kau akan tahu nanti" Jimin tersenyum kemudian melanjutkan jalan mereka sembari ia menggandeng lengan Ha Na takut takut jika istrinya itu terjatuh.
"Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku kalau mereka sudah tidak ada?" Ha Na berdiri bermacak pinggang sementara itu Jimin duduk berjongkok memegang batu nisan yang ada dihadapannya.
"Aku hanya tidak ingin mengingat sebuah kesedihan" Jimin masih fokus menatap pada kedua batu nisan yang ada dihadapannya.
Wanita Lee itu ikut duduk berjongkok disebelah Jimin. Ia menangkap raut sedih diwajah suaminya.
"Setidaknya sekarang aku sudah mempertemukan kalian meski tidak saling bertatap wajah aku yakin ibu dan ayah pasti sangat senang melihat siapa yang aku bawa kemari" Jimin tak bisa menyembunyikan kesedihannya, matanya sedikit memerah dan air matanya menggenang hendak tumpah.
Ha Na tersenyum kemudian ia dengan berani membawa Jimjn masuk dalam pelukannya. Ia tahu suaminya pasti sedang sedikit rapuh. Baru kali ini Ha Na melihat ekspresi sedih seorang Park Jimin yang dikenal kasar dan pemberani itu. Rupanya seorang bos mafia pun punya titik lemah dan kelemahannya adalah soal keluarga.
"Mulai sekarang apapun yang ingin kau ceritakan maka ceritakanlah padaku. Apapun yang ingin kau bagi berbagilah denganku" Ha Na menepuk halus punggung Park Jimin dari pelukannya.
Park Jimin menjauhkan wajahnya kemudian mereka kembali melihat pada batu nisan dihadapan mereka.
"Ayahku seorang bos mafia besar, semua yang aku miliki adalah milik ayahku. Ia menyerahkan segalanya padaku ketika aku genap berusia 18 tahun. Ia bialang ia dan ibu ingin menikmati masa tua mereka ditempat ini. Rumah yang tadi adalah rumah yang sengaja ayahku beli untuk menikmati masa tua bersama ibuku. Namun, belum setahun meraka tinggal disini ibuku meninggal karena mengidap tumor otak. Ibu merahasikan penyakitnya dari kami, ibu tak ingin ayah dan aku sedih. Dan nyatanya adalah ayahku justru menghabisi nyawanya sendiri tepat tiga bulan setelah kepergian ibu, itu semua terjadi karena ia merasa tak berguna, ayah merasa bersalah karena tak mengetahui segalanya tentang ibu. Andai ia tahu aku yakin ayah akan melakukan apapun demi kesembuhan ibuku" Jimin sedikit bercerita meskipun Ha Na tak bertanya soal itu.
"Setidaknya mereka telah bersama sekarang. Aku yakin sekali mereka pasti sudah bersama" Ha Na tersenyum pada Park Jimin membagi sedikit kebahagiaan pada Jimin dengan kalimatnya itu.
Park Jimin ikut tersenyum "tentunya mereka sedang berbahagia sekarang, mereka dikunjungi menantunya yang cantik dan calon cucu mereka" kemudian lelaki Park itu memeluk Ha Na. Menyadarkan dagunya yang lancip tepat pada pundak wanita Lee tersebut. Bukan, bukan wanita Lee lagi tetapi Park.
"Aku ingin kau mencintaiku sampai aku menutup mataku lebih dulu" Park Jimin berbisik.
Mendengar itu Ha Na hanya memberikan ekspresi bingung. Ia tak mengerti maksud ucapan suaminya.
Dan ketika Ha Na masih kebingungan Park Jimin justru mengajaknya untuk pulang karena matahari semakin turun menandakan hari semakin sore menuju malam.
***
__ADS_1
"Tuan dan nyonya sudah pulang?" tanya seoran Maid yang ada dirumah besar itu.
"Ia" jawab Jimin dengan begitu singkat dan Ha Na malah menjawabnya dengan sebuah senyum yang manis.
"Kami sudah menyipakan semuanya. Kami sudah menyiapkan air hangat untuk tuan dan nyonya mandi"
"Terima kasih paman" ucap Jimin kemudian tersenyum. Ia membawa Ha Na kembali ke kamar tempat mereka tadi tertidur.
"Kenapa semua jadi seperti ini?" Ha Na melotot melihat seisi kamar sudah dihias dengan banyak bunga. Bahkan diatas tempat tidur pun sudah ditaburi dengan kelopak mawar merah yang harum. Juga ada lilin lilin aromaterapi yang dinyalakan dalam gelas gelas kecil diatas nakas.
"Wah..., mereka benar benar bisa diandalkan" Jimin tersenyum senang.
Ha Na sangat tahu jika itu sengaja dibuat oleh orang orang yang bekerja pada Jimin. Seketika otaknya melayang memikirkan apakah ini akan menjadi malam pengantin mereka?. Mendadak Ha Na menjadi gerah membayangkan hal itu, ia tahu betul orang seperti apa Park Jimin. Pastilah suaminya itu tak akan membiarkannya tidur dengan tenang malam ini. Habis sudah ia malam ini.
"Mau kemana?" tanya Jimin yang melihat Ha Na berjalan kearah kamar mandi.
"Aku gerah, aku madi duluan" Ha Na bersiap membuka knop pintu kamar mandi.
"Tidak bisakah kita mandi bersama?" rayu Jimin sambil memegang dagunya dan menggigit sedikit bibir bawahnya sendiri. Sial ia mulai menggoda istrinya.
"Tidak" Ha Na kemudian dengan cepat masuk ke kamar mandi. Dan Jimin hanya merengut kesal karena tak bisa mandi bersama istrinya.
"Lama sekali dia mandi" Park Jimin semakin kesal karena Ha Na tak kunjung selesai dengan ritual mandinya. Ia bahkan sudah menunggu lebih dari setengah jam. Ia benar benar tak sabar.
πππππππππππππππ
Haduhhhhh.... Bau bau otak bulgos nih π haha....
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz
__ADS_1