Still Loving You

Still Loving You
OBAT BIUS


__ADS_3

"Aku tidak akan pernah menjadi nyonya Park" jawab Ha Na santai.


Aww.....


Park Jimin memegang lengan bagian atas nya yang terluka, sepertinya luka itu bener benar menyakitinya.


Jae Hyuk yang kebetulan melihat Park Jim dengan gesitnya membawa Jimin kedalam rumah untuk bisa mengobati luka yang didapati Park Jimin.


"Boss, sepertinya luka ini harus segera dapat penanganan, ini harus segera dijahit" ucap Jae Hyuk ketika ia mendapati ternyata luka tersebut menganga cukup parah, bagaimana bisa Jimin menahan sakitnya begitu saja.


"Kalau begitu segera bawa dokter pribadi kemari" perintah Jimin, Lee Ha Na hanya bisa melihat dengan perasaan bersalah, andai saja ia tidak terlalu ceroboh menjatuhkan pistolnya maka Jimin tidak akan mendapatkan masalah seperti itu.


Tak butuh waktu lama dokter pribadi Park Jimin datang, sekarang mereka sedang berada di kamar Park Jimin, Jimin duduk ditepi ranjang buatan Italia miliknya itu.


Sang dokter mengamati luka Park Jimin "Sepertinya ini cukup parah, sepertinya aku harus menjahitnya".


"Jahit saja" perintah Jimin.


"Baiklah, aku siapkan dulu perlengkapannya" sang dokter mengeluarkan satu persatu alat medisnya juga juga perlengkapan perawatan untuk luka, sialnya dokter tersebut lupa untuk membawa satu hal yang sangat penting yaitu obat biusnya, ia berulang kali membongkar isi tas yang ia bawa tapi obat bius nya benar benar tidak ada.


"Ada apa dokter?" tanya Park Jimin bingung melihat dokter yang mengobrak abrik isi tas nya itu.


"Sepertinya aku lupa membawa obat bius" jawab sang dokter.


"Tidak perlu obat bius" kata Jimin yang sudah tak sabaran.


What?, Lee Ha Na melongo mendengar perkataan Jimin, sehebat itukah ia sampai sampai tak membutuhkan obat bius untuk mengobati lukanya.


"Tapi itu akan sakit kan jika dijahit tanpa menggunakan obat bius?" Lee Ha Na bertanya pada dokter yang mungkin berusia lebih tua dari Park Jimin namun masih terlihat muda.


"Tentu saja itu akan sakit" Jawab dokter yang menggunakan kemeja berwarna putih itu.


"Apa tidak ada cara lain untuk bisa mengurangi rasa sakitnya?" Lee Ha Na terlihat begitu khawatir.

__ADS_1


"Sudahlah Lee Ha Na, aku tidak masalah dengan itu aku masih bisa menahannya" Jimin mencoba mengurangi kekhawatiran Lee Ha Na terhadapnya. "Lakukan apa yang bisa kau lakukan dokter Jung" perintah Jimin kepada dokter bermarga Jung itu.


"Baiklah, jika kau merasa sakit maka katakan saja aku akan menjahit lukamu dengan hati hati" kemudian dokter Jung mulai membersihkan luka Park Jimin dan menjahitnya.


A....Aww....


Jimin sedikit merintih ketika ujung jarum jahit yang digunakan dokter Jung menyentuh tepian lukanya.


"Apa ini sakit?" dokter Jung menghentikan apa yang sedang ia lakukan.


"Lumayan"


"Maafkan aku, aku yang salah karena tidak membawa obat biusnya" dokter Jung merasa bersalah.


"Tidak masalah, lanjutkan saja tugasmu, sepertinya aku punya obat bius yang mujarab" ucap Jimin memandang kearah Lee Ha Na yang sedang berdiri memperhatikan mereka.


"Apa itu?" tanya dokter Jung tak mengerti dan Park Jimin hanya tersenyum.


"Lee Ha Na, kau bisa bantu aku?" Tanya Jimin pada Ha Na.


" Mendekatlah" Perintah Park Jimin pada Lee Ha Na, dan Ha Na pun menurut.


"Bantu aku mengurangi rasa sakitku, kau mengkhawatirkanku bukan?"


"Aku harus apa?" tanya Lee Ha Na dengan polosnya.


"Dengan cara ini" Park Jimin kemudian menarik lengan Lee Ha Na dengan tangan yang tidak terluka sehingga Lee Ha Na terduduk dipangkuannya.


"Apa yang kau...?" ucap Ha Na pelan dan tak mengerti. Lee Ha Na melihat kearah dokter yang sedang serius menjahit Luka Park Jimin, dan dokter Jung sama sekali tidak perduli, entah benar benar tak perduli atau ia membiarkan Park Jimin melakukan apa yang ingin ia lakukan.


"Dokter Jung sudah melakukan tugasnya, tugasmu untuk membantu mengurangi rasa sakitku"


Lee Ha Na membelalakkan matanya tak percaya, ia terkejut ketika tiba tiba Park Jimin menarik tengkuknya dan menempelkan bibirnya pada bibir cherry Lee Ha Na. Ingin sekali Lee Ha Na memberontak tapi ia ditahan oleh Park Jimin.

__ADS_1


Sialan Park Jimin, ia mengambil kesempatan untuk bisa mencium Lee Ha Na dengan memanfaatkan lukanya.


Cukup lama Park Jimin melakukan itu tapi tiada respon dari Lee Ha Na, meski Lee Ha Na tidak merespon tidak berarti Jimin menyerah, ia terlalu menikmati apa yang ia lakukan. Sementara Lee Ha Na hanya terdiam kaku tak tahu harus berbuat apa. Jimin telah merebut ciuman darinya.


"ehem..." dokter Jung berdehem, ia telah menyelesaikan tugasnya dengan cepat tapi Park Jimin masih saja terbuai dalam ulahnya sendiri. "Apa obat biusnya begitu mujarab?" lanjut dokter Jung yang berusaha menyadarkan kedua orang itu.


Mendengar dokter Jung berkata seperti itu Lee Ha Na dengan cepat melepaskan diri dari Park Jimin kemudian berlari ke arah kamar mandi.


Sementara Jimin tersenyum puas sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.


Dokter Jung menggeleng melihat tingkah kedua orang yang baru saja menikmati moment itu. "Kau pandai sekali memilih obat penahan sakit yang mujarab tuan Park" dokter Jung tergelak.


"Kau sudah tahu rasanya, aku pikir aku tak perlu menjelaskannya" jawab Jimin dengan senyum sumringahnya.


"Tentu saja tuan Park, aku juga sama sepertimu, semua laki laki yang sedang jatuh cinta akan seperti itu, tak perlu sungkan denganku" jawab dokter yang menggunakan kemeja putih itu sambil merapihkan kembali peralatan medisnya.


"Terima kasih dokter Jung?"


"Terima kasih untuk apa?, karena aku sudah menjahit lukamu atau karena aku membiarkan waktumu?" goda dokter Jung pada Jimin.


"Tentu saja kedua duanya" Jimin tersenyum.


"Gadis itu bukannya ia yang waktu itu terluka kan?" tanya dokter Jung yang penasaran, ia antara ingat dan tidak wajah Lee Ha Na. Dokter Jung adalah dokter yang mengobati dan juga menjahit luka sayatan Lee Ha Na waktu itu, hanya saja Lee Ha Na tidak tahu karena saat itu ia tak sadarkan diri.


"Kau benar dokter" jawab Jimin.


Sementara itu di dalam kamar mandi Lee Ha Na berulang kali membasuh wajahnya dengan air yang mengalir di wastafel, pkirannya kacau, bagaimana bisa Park Jimin berbuat hal itu padanya, sialan Park Jimin yang sudah merebut sesuatu darinya dua kali.


"Apa sebenarnya yang ia lakukan?, bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu padaku?" Lee Ha Na bertanya tanya pada bayangan dirinya sendiri di depan cermin.


Walau demikian Lee Ha Na sama sekali tidak merasakan sesuatu yang berbeda, ia hanya kesal karena Jimin melakukannya dengan tiba tiba, dan ia hanya sedikit malu pada dokter Jung.


**************************************

__ADS_1


LOVE LOVE


Author: Ameera Limz


__ADS_2