
Annyeong yeorobun....
Ini part agak gerah ya. Ini bisa dikategorikan Mature content . Jadi yang dibawah 18 dimohon dengan sangat untuk tidak membaca meskipun author dan guru author sudah mencoba memperhalus scene agar tak terlalu frontal ketika yang dibawah 18 tahun ngeyel buat baca.
Author sampe minta bantuan senior untuk menulis part SWEET NIGHT ini. Karena jujur ini author gak mampu berpikir 🌚🌚🌚
Di otak author udah penuh sama 지민. Wkwkwk.....
Jadilah pembaca yang bijak ya readers. Ini cuma pemanis aja.
Kalo kata seniornya author sih ini scene BANG**T MOMENT 🙏🙏🙏
🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞🔞
"Lama sekali dia mandi" Park Jimin semakin kesal karena Ha Na tak kunjung selesai dengan ritual mandinya. Ia bahkan sudah menunggu lebih dari setengah jam. Ia benar benar tak sabar untuk malam indahnya.
Yang benar saja, setelah menunggu ritual mandi Ha Na yang begitu lama ia masih harus dibuat kesal menunggu istrinya yang sedang duduk menyisir surai panjang bergelombang di depan meja rias. Untuk apa lagi Ha Na menyisir rapih surainya?, toh ia akan membuatnya berantahkan dan bercampur peluh kembali.
"Kau itu sudah cantik, tidak perlu berdandan dan menyisir pun kau akan sangat cantik" celetuk Jimin yang tengah kesal. Dalam otaknya sudah dipenuhi kalimat umpatan yang tertahan karena Ha Na terlalu mengulur waktu.
"Kau lupa aku bekerja sebagai apa?" Ha Na menjawab dengan memutar bola matanya malas. Ia begitu sadar maksud setiap kalimat Jimin. Ia benar benar akan habis malam ini.
"Persetan dengan pekerjaanmu" tanpa diduga, tanpa aba aba lelaki Park sudah berdiri tepat dibelakang punggung istrinya. Merengkuh tubuh Ha Na kemudian menggodanya untuk jatuh pada ranjang yang hangat.
Ha Na bahkan sempat memekik tertahan ketika dengan agresif Park Jimin menarik dirinya.
"Kau sengaja kan?" bisik Jimin pada indra rungu Ha Na dengan sangat seduktif. Membuat wanita itu meremang.
"Aku hanya mandi dan menyisir rambutku Jim" Ha Na mencoba mempersempit kesepatan Jimin untuk menempel pada ceruk lehernya. Itu sangat menyiksanya.
"Aku suka wangi lavender ditubuhmu sayang" tak ada yang lebih kurang ajar lagi selain birai bibir Jimin yang pandai berkata kata dan menggoda setiap inci tubuh Ha Na.
Dalam sekali gerakan Jimin berhasil mengukung tubuh istrinya tepat dibawah tubuhnya yang bidang juga kekar. Kedua telapak tangannya ia jadikan sebagai penumpu di sisi kepala Ha Na.
Birai tebal dan basah itu tanpa permisi menghabisi birai merah cherry Ha Na. Sesekali hidung mereka saling bergesek ketika lelaki Park yang maniak mencoba mencari ruang yang pas.
Jika saja Ha Na tak mendorong tubuh suaminya bisa bisa ia mati konyol karena kekurangan oksigen. Jimin benar benar membuatnya sesak kekurangan oksigen.
Jimin yang menyadari hal demikian menarik kepalanya sedikit menjauh memutus untaian benang saliva yang terhubung pada kedua birai.
Sialan, seringai diwajah Jimin benar benar mengintimidasi. "Bolehkah aku mengunjungi anakku?" bisiknya lagi pada indra rungu Ha Na, meminta izin namun terdengar seperti sebuah permohonan tak tertahan.
__ADS_1
Ha Na meremang, nyalinya menciut, otaknya limbung ketika pemikiran dan tubuhnya menjadi tak selaras. Ia akhirnya hanya bisa mengangguk.
Akhirnya Ha Na hanya bisa diam tanpa suara. Megutuk diri sendiri yang dengan pasrah menuruti kehendak suaminya yang gila.
"Aku akan berhati hati. Tak mungkin aku menyakiti yang ada disini" jemari Jimin yang berhiaskan ring perak dan besi mulai menyusup menyentuh area kulit perut Ha Na. Ia menagkap sedikit kekhawatiran pada atensi wajah Ha Na yang terlihat menegang.
Sungguh itu adalah sebuah dusta terbesar. Ha Na tak yakin dengan kalimat dusta itu. Ia telah mengerti betapa beringas sumainya. Kalau bisa ia kabur ingin rasanya ia kabur. Kalau bisa ia meminjam pedang G**oblin untuk menghunus suaminya pasti ia akan melakukannya.
Demi tiket konser Map Of The Seoul 7 BTS rasanya Ha Na ingin sekali mengumpat kasar suaminya yang pandai merayu. Atau mengutuk suaminya menjadi batu sekalian. Agar tak mendengar banyak kalimat rayuan yang membuatnya gila dan gerah.
Jari jemari kekar itu benar benar nakal dan begitu lihai. Tak bisa Ha Na bayangkan sudah berapa banyak wanita yang suaminya perlakukan seperti itu?, mengingat suaminya begitu berpengalaman dalam hal seperti ini. Nyatanya ia adalah wanita yang kesekian bergumul dengan bos mafia itu dengan status sah seorang istri.
Ha Na sedikit memicing pandangan pada jam dinding, sekarang masih jam 8 malam. Entah sampai pada jam berapa suaminya akan menghukum dirinya. Ia benar benar gila hanya dengan membayangkannya saja. Dan nyatanya kali ini bukan sekedar bayangan lagi tetapi nyata.
Pada akhirnya kisah ranjang tetaplah sama dimana wanita akhirnya hanya bisa menerima dan laki laki adalah pemimpin dalam permainan hangat itu.
Suara detak jam dinding menyatu melebur dengan suara deru nafas dalam gilanya kegiatan malam Park Jimin.
Ketika keduanya sedang berada pada ujung puncak ingin sekali rasanya Jimin mengumpat kalimat kasar merasakan sesutu yang gila merematnya dengan begitu kuat dibawah sana. Meretas mengambil alih program otaknya yang dipenuhi dengan kenikmatan dan kegilaan.
Kelopak kelopak mawar yang tadi bertabur rapih diatas ranjang telah berjatuhan dengan sembarang kelantai. Wangi aromaterapi diatas nakas menjadikan suasana begitu hangat.
Hingga akhirnya penyatuan itu berada di puncak teratas kemudian melebur meleleh pada kawah yang sama. Jimin menghujam dalam kemudian mengosongkan dirinya pada Ha Na untuk beberapa saat. Kepalanya terangkat terpejam meraih surganya.
Entahlah itu kali keberapa yang mereka rasakan malam itu yang pasti lelaki Park benar benar tak bisa untuk sekedar menahan. Ia tidak ingin bermain dengan jala** lagi kalau ia sudah memiliki istri yang mampu membuatnya gila setiap waktu.
Jimin menjatuhkan tubuhnya pada Ha Na hingga torso keduanya menyatu dalam lengketnya peluh. Menenggelamkan wajahnya tepat di sebelah ceruk leher Ha Na.
"Berjanjilah untuk tetap bersamaku sampai aku pergi lebih dulu" Jimin berkata lirih.
Bak disambar petir ditengah hari rasanya. Ha Na merasa hatinya sakit ketika mendengar ucapan Jimin seperti itu. Apakah Jimin akan meninggalkannya?.
Nyatanya air mata Ha Na tak bisa tertahan lagi. Ia sedikit terisak ditengah pelukan hangat mereka.
"Apa aku menyakitimu?" Jimin panik menyadari hal demikian. Atensinya menatap dalam pada atensi Ha Na. Jemarinya ia pakai untuk memeta wajah istri cantiknya, dan meyibak untaian halus surai Ha Na kebalik telinga.
"Apa maksudmu berkata demikian?" Ha Na berbisik lirih dan suaranya seperti tercekat tertahan pada rongga kerongkongan.
Jimin mengecup dengan lembut dan hangat puncak kening istrinya. Kemudian menyatukan kedua dahi mereka yang masih berpeluh dan tersenyum manis ditemani titik peluhnya yang terjatuh diatas wajah Ha Na, mencoba melunturkan pemikiran Ha Na yang mungkin menyadari kalimatnya barusan. "Aku hanya mengatakan aku ingin mencintaimu sampai akhir sayang" kembali sebuah kecupan hangat mendarat pada kelopak mata Ha Na, Jimin tak ingin melihat air mata Ha Na lagi. "Tidurlah kau pasti lelah" pada akhirnya Jimin hanya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
***
__ADS_1
"Malam malam begini siapa yang mencoba menghubungiku?" Eun Seo menggerutu. Tetap saja ia mengangkat panggilan pada ponselnya.
Tak ada kalimat yang terucap dari birai Eun Seo. Ia hanya diam menunggu yang di seberang sana untuk bersuara lebih dulu.
"Masih di Bali?" tanya sebuah suara yang menghangatkan hati Eun Seo secara tiba tiba. Apa ada yang tiba tiba merasa hangat hanya dengan mendengar sebuah suara saja seperti dirinya?.
"Ma Masih" jawab gadis jangkung itu dengan suara terbata. "ini siapa?"
"Hoseok, aku ingin bertemu denganmu di galeri Kim Taehyung besok, apa boleh?".
Eun Seo langsung ingat dengan Jung Hoseok lelaki kecil pada photo yang sepupunya Seokjin ceritakan. Darimana laki laki itu tahu jika Eun Seo sedang di Bali?. Ini pasti ulah sepupunya itu.
"Besok pagi di galeri. Aku akan datang" seolah mendapat keberanian dari mana Eun Seo bisa mengucap kalimat itu. Satu yang pasti adalah ia penasaran dengan lelaki bermarga Jung tersebut. Sebesar rasa penasarannya menatikan konser Map Of The Soul 7.
***
"Aku akan coba tanyakan pada Eun Seo dulu" Jeon Hee Ra juga sedang bercakap dengan seseorang melalui ponsel.
"Aku yakin dia pasti mau"
"Lihat saja besok. Aku mengantuk maaf ya sepertinya malam ini kita cukupkan saja mengobrolnya. Aku akan mematikan panggilannya. Chaljayo" gadis Jeon itu tak henti tersenyum ketika mengakhiri panggilan telepon antara dirinya dan seseorang.
Bingkai senyum dibibirnya benar benar cerah malam itu. Sepertinya ia akan tertidur dengan begitu nyenyak. Senyenyak ketika memimpikan peronel tertampan di BTS.
***
"Aku tahu kau sudah menjadi milik seseorang sekarang. Entah sampai kapan aku baru bisa melupakanmu, melupakan senyummu, menghapus namamu dari pikiran dan hatiku. Aku masih mencintaimu Lee Ha Na. Sampai saat ini masih".
Jeon Jung Kook berdiri diteras balkon ruang pribadinya. Ia menatap pada rembulan malam yang bersinar cerah seolah rembulan malam itu bisa melihat dan mendengar isi hatinya.
Surai hitam lelaki Jeon itu sedikit tersibak tertiup angin malam yang berhembus dengan mesra dari arah pantai yang berjarak sangat dekat dengan resortnya.
Ia ingin tersenyum namun yang keluar hanya senyum getir. Ingin tertawa teyapi itu seperti menertawai dirinya sendiri yang begitu penakut dan terlihat seperti pecundang karena tak berani untuk mendapatkan cintanya. Ego yang begitu besar pada diri Jeon Jung Kook sungguh sangat berpengaruh buruk pada nasib cintanya.
Menyesalal dengan sifat yang ia miliki. Menyesal karena terlalu banyak mementingkan urusan bisnis dibanding kehidupan pribadi benar benar membuatnya serasa gila.
Jauh jauh lari ketempat ia berpijak sekarang berharap dirinya bisa melupakan nyatanya justru membuat ia semakin sakit dan semakin memberi kesempatan Jimin untuk lebih leluasa mencintai Ha Na hingga wanita itu sah mengubah marga menjadi Park.
🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚🌚
Ampunnnnn🙏🙏🙏🙏 Bulgos bertebaran di part ini.
__ADS_1
LOVE LOVE
Author: Ameera Limz