Still Loving You

Still Loving You
MINUM OBAT


__ADS_3

Sebelum masuk pada cerita Author bilang kalian jangan pada baper dan jangan bucinin Jimin setelah ini ya. Karena Jimin milik author.


hahaha....


Ternyata author suka mengadi adi dipagi hari


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


"Kalian tahu kan bagaimana senangnya seorang lelaki ketika wanita yang dicintai sedang mengandung anak sendiri?"


Park Jimin


Lee Ha Na terdiam. Tubuhnya menjadi kaku. Pikirannya entah menjurus kemana. Ia merasa seperti ada benda yang berat menimpa dirinya.


Jelas Park Jimin memperhatikan itu. Bersalah, ia merasa begitu bersalah. Ia menangkup kedua sisi wajah Ha Na dengan telapak tangannya memaksa wanita itu untuk mengalih pandang hanya padanya.


"Maafkan aku" Jimin meminta maaf seolah semua itu terjadi karena kesalahannya.


Lee Ha Na mencoba menggiring pikirannya. Ia tak bisa menyalahkan lelaki Park. Bukankah semua itu adalah kehendaknya. Ia memaksa sebuah senyum tuk terbit pada wajahnya. Tangannya ia angkat untuk menyentuh tangan kekar pada wajahnya.


"Aku ingin kau melahirkan anakku" kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Park Jimin. Ia tak ingin kehilangan bayinya lagi.


Sebuah anggukan dari Ha Na mampu mengubah perasaan Park Jimin yang tadinya was was menunggu jawaban. Tentu saja ia tak tahan untuk kembali memeluk tubuh ramping wanita dihadapannya.


Sementara itu Ha Na menarik nafas panjang didalam dekapan. Menenangkan pikirannya sendiri. Benar saja, aroma tubuh Park Jimin seolah menjadi obat penenang baginya. Ia menjadi candu pada aroma Musk ditubuh kekar itu.


Jimin melepas pelukannya. Membuat Ha Na yang sedang menghirup aroma tubuhnya seketika bingung.


Sebuah smirk tercungging pada wajah seksi seorang bos mafia. "Kau begitu suka aroma tubuhku, atau kau suka tubuhku?" ia menyadari jika Ha Na diam diam memang menghirup aroma tubuhnya.


Mata hitam bulat itu menatap kearah mata sipit yang sexy dihadapannya. Ha Na menggeleng "tidak. Aku tidak tahu kenapa aku menyukai wangimu".


Begitu polos. Sikap wanita Lee mampu membuat pria yang maniak itu benar benar gemas. "atau mungkin ini keinginan anakku?" ia bertanya lagi. Benar benar dirinya seketika berubah menjadi seperti sosok seorang ayah meski janin yang berada dalam perut rata Lee Ha Na mungkin masih berbentuk segumpal darah kecil. Ia betul betul menyukai moment itu.


Park Jimin memang tahu betul jika anak itu benar anaknya. Karena memang hanya padanya wanita Lee itu pernah tidur. Dari mana ia tahu jika Ha Na hanya tidur padanya?. Tentulah Park Jimin tak bodoh. Rasa cinta membuatnya terus memata matai setiap gerak gerik wanitanya.


"Sekarang minum obatmu. Aku tak ingin sesuatu terjadi pada anakku" Jimin mengeluarkan beberapa butir obat dari botolnya. Ia membaca setiap aturan pakai dan fungsi dari masing masing obat agar tak salah dosis. "Minum ini" menyodorkan 3 butir obat dengan segelas air.


"Tidak. aku tidak mau. Obat obatan ini pasti sangat pahit. Aku tak ingin anakku ikut merasakan pahitnya" Ha Na menggeleng sementara Jimin dibuat melongo dengan kalimat Ha Na.


"Tapi ini obat yang memang sudah diresepkan dokter" Park Jimin mencoba sabar dalam membujuk.

__ADS_1


"Tidak" gadis itu masih saja menggeleng dengan wajah memohonnya.


"Baiklah kalau ini pilihanmu". Senyum yang tak bisa diartikan muncul diwajahnya. Lee Ha Na memperhatikan lelaki itu memasukkan obat obat itu pada mulutnya sendiri.


"Apa yang dia lakukan?" Ha Na membatin.


Dan


Tanpa aba aba bibir keduanya bertemu. Jimin sedikit memaksa agar Ha Na membuka mulutnya. Yap, ketika wanita itu membuka sedikit mulutnya tanpa membuang waktu Jimin mengalihkan obat yang ada dalam mulutnya. Cara minum obat semacam apa itu?.


"Telan"


Perintah Jimin ketika ia memberi jedah untuk wanita itu menelan obatnya. Kemudian ia kembali menempelkan bibir mereka sampai Ha Na benar benar menelan habis obat obatan itu.


"Minum"


Jimin menyodorkan segelas air minum kehadapan wajah Ha Na yang tentunya memerah.


"Tidak Jimin, tidak. Kau tak boleh gemas seperti ini" Jimin membatin ketika dirinya merasa benar benar gemas pada Ha Na. Wanita itu benar benar mampu memanggil sisi lelakinya dengan bersikap seperti itu.


Tentu saja Ha Na menelan habis obat obat itu. Mana berani ia melihat Jimin yang sedang menatapnya dengan wajah yang dibuat segarang mungkin.


Tentu Jimin tidak akan keberatan jika ia melakukan hal semacam itu jika setiap kali Ha Na susah untuk meminum obatnya.


"Ingat Ha Na. Setiap kali waktunya kau minum obat aku akan melihatmu"


"Bagaimana kau akan melihatku jika aku berada dirumahku?"


"Aku akan pastikan setiap jadwal kau meminum obat aku akan melakukan panggilan vidio untuk melihatmu meminumnya. Sekarang dinihari mari kita tidur, aku tak ingin terjadi sesuatu pada anakku" Jimin melompat turun dari kursinya kemudian mengangkat tubuh Ha Na untuk ikut turun dari kursi yang cukup tinggi.


Dikamar Park Jimin.


"Aku akan tidur disini" Jimin ikut mendudukkan tubuhnya pada ranjang yang sama.


"Tidak. Kalau begitu biar aku tidur dikamar sebelah" Lee Ha Na kembali berdiri.


Lelaki bermarga Park itu bergerak dengan cepat menahan tubuh Ha Na. Melingkarkan kedua tangan berototnya pada area perut wanita Lee kemudian membawa wanita itu duduk pada pangkuannya dalam posisi memunggungi.


Jimin menempelkan kepalanya pada bahu Ha Na.


"Sayang...., kenapa ibumu keras kepala sekali eoh?" lelaki Park menelusupkan telapak tangannya dibalik baju yang Ha Na kenakan. Menempelkan telapak tangannya pada perut yang rata dan terasa halus. Tak lebih hanya menyentuh seolah menyapa sesuatu yang ada didalamnya.

__ADS_1


Hangat, tersengat, entahlah apa yang Ha Na rasakan. Sedikit gelenyar hangat menjalar keseluru tubuhnya. Ia tak bisa menolak. Ia merasa sedikit senang ketika tangan itu menempel diperutnya meski terasa sedikit dingin kala cincin cincin yang bermaterial besi pada jari jemari Jimin menyentuh kulit perutnya.


"Aku mengantuk Jimin" keluh Ha Na.


"Sebentar saja. Aku ingin seperti ini"


"Tadi kau memintaku untuk tidur. Bagaimana mungkin aku tertidur seperti ini?" protes Ha Na.


"Bagaimana kalau tertidur dipelukanku?" Apa apaan?. Jimin kembali menggodanya?.


"Ayo tidur" Jimin menarik Ha Na untuk ikut berbaring. Menarik selimut yang terlipat rapi pada ujung ranjang. Menutupi tubuh mereka berdua. Tentulah ia memeluk tubuh wanitanya. Ia benar benar menikmti kesenangannya menjadi ayah.


Ha Na yang tadinya jual mahal tak ingin tidur disana malah mengeratkan tangannya melingkari area pinggang Jimin. Menenggelamkan kepalanya pada dada yang bidang. Lagi lagi menghirup aroma Musk ditubuh Jimin yang sedikit tercampur keringat dan sedikit bau Soju yang tadi tertumpah.


Tangan yang kekar tak bisa untuk diam. Mengelus mengusap pada helaian surai coklat Ha Na yang halus. Sedikit kecupan pada puncak kepala wanita yang menenggelamkan wajah pada dadanya yang bidang.


"Selamat tidur sayang. Selamat tidur anak ayah" satu telapak tangan Jimin kembali tertempel pada perut rata Ha Na.


Tak ingin memikirkan hal hal yang mungkin terjadi setelahnya kedua manusia berlawanan jenis itu tertidur dalam posisi yang begitu nyaman.


***


Pagi ini Jimin sendiri yang akan mengantarkan Ha Na pulang. Selain ingin memastikan wanitanya pulang dengan selamat ia juga akan meminta izin pada nyonya Min untuk bisa menikahi putrinya yang masih 19 tahun.


Mobil sport hitam itu terparkir dengan baik di depan rumah Ha Na. Sang pemilik mobil turun lebih dulu untuk membukakan pintu dimana Ha Na akan turun. Mengulurkan tangannya menggenggam jemari Ha Na.


Ketika mereka mengarah pada pandangan yang sama tepat pada teras rumah.


"Ada apa datang kemari?"


Ha Na bertanya dengan suara tak suka dan sedikit emosi pada seseorang yang berdiri didepan pintu rumahnya. Seseorang itu menatap Ha Na dan Jimin bergantian kemudian beralih pada tangan yang saling tertaut.


Siapakah orang itu?.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Hayo ditebak ditebak... Kira kira siapa tuh yang berdiri di depan pintu rumah Lee Ha Na?????


LOVE LOVE


Author: Ameera Limz

__ADS_1


__ADS_2