
Kiren mengikuti Varo dari belakang, mereka menuju apartement Varo saat ini. Tadi, saat sepulangnya dari hotel, Varo sempat bertanya pada Kiren mau tinggal diapartement atau rumah. Jika Kiren menginginkan tinggal dirumah, Kiren bisa memilih rumah yang menurut Kiren bagus atau rumah impian Kiren.
Karna selama ini Varo tinggal diapartement dan Varo sama sekali belum menyiapkan rumah untuk istrinya kelak. Dia ingin istrinya yang memilih rumah yang akan mereka ditinggali kelak. Duh...Manisnya.
Tapi menurut Kiren, dia tidak mempermasalahkan akan tinggal dimana. Mau apartement atau rumah toh sama saja. Lagi pula mereka hanya tinggal berdua, akan lebih baik untuk saat ini mereka tinggal diapartement Varo saja. Agar lebih mengirit waktu untuk membersihkanya.
Sebelum pulang keapartement, tadinya Kiren ingin pulang kerumahnya lebih dulu. Untuk mengambil barang-barangnya dan keperluannya. Tapi saat diperjalanan pulang, sekertaris Varo menelpon dan menanyakan berkas penting padanya. Alhasil, sekarang mereka akan mampir keapartement Varo untuk mengambil berkas itu. Setelah itu baru pulang kerumah Kiren.
Dari lobi gedung apartemant sampai masuk kedalam apartement, Kiren tidak berhenti menggerutu kesal. Karna Varo selalu meninggalkannya dibelakangnya. Bagaimana tidak!! Varo yang tinggi jangkung membuat Kiren sulit menyamai langkahnya. Alhasil, Kiren selalu tertinggal dibelakang.
Sekarang Kiren menyesal kenapa dulu dia menjadi gadis yang pendek, atau setidaknya kenapa dulu dia tidak meminum vitamin peninggi badan agar tubuhnya tidak pendek-pendek banget seperti sekarang.
Sumpah ni orang jalannya cepet banget sih. Gue dari tadi ditinggalin mulu.
"Kiren. Ayo?" Panggil Varo yang sudah berjarak dua meter dari Kiren. Tanpa menunggu jawaban Kiren, Varo langsung berbalik dan meneruskan langkahnya.
Efek gak pernah olah raga kayaknya gue, masa jalan segini doang gue udah ngos-ngosan sih.
Kiren memangdang punggung Varo tajam, seakan pandangan tajam Kiren bisa mencabik-cabik punggung Varo hingha hancur lebur. Saat melihat Varo dengan santainya memasuki sebuah pintu, semakin menambah kekesalan Kiren. Dengan berjalan pelan sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal, akhirnya Kiren bisa menyusul Varo sampai didalam apartemant.
"WAH." Kata itu lah yang pertama kali keluar dari bibir Kiren saat memasuki apartemen Varo.
Apartement mewah yang berkali-kali membuat mata Kiren memandangnya takjub. Maklum, ini adalah pertama kalinya Kiren memasuki apartemen mewah. Melangkah lebih dalam, mata cantik Kiren semakin melotot takjub melihat indahnya interior apartement ini.
__ADS_1
Pertama masuk Kiren sudah di manjakan dengan enterior menggunakan furnitur besar dan mewah bergaya eropa. Cat dinding yang berwarna putih, krem dan coklat memberi kesan elegantdan simple disini.
Bahkan ornamen-ornamen yang digunakan juga terlihat pas dengan warna cat dinding. Disudut dinding terdapat tirai motif polos berwarna gray yang menggantung dari plafon hingga lantai. Apartement ini juga sangat bersih dan rapi, terlihat sekali Varo mewaratnya dengan baik.
Kalau apartementnya model begini mah, gue mau-mau aja tinggal disini, mana keren banget lagi. Sumpah gue betah kayaknya tinggal disini. Gak sia-sia gue nikah dadakan begini, kalau ujung-ujungnya hidup gue makmur. Ckkkkkk
Sampai didapur, Kiren hanya bisa geleng-geleng kepala karna tak habis fikir. Dapur diapartement Varo ini, bahkan dua kali lipat lebih besar dari dapur dirumah Kiren. Belum lagi barang-barang yang memenuhi dapur, semua nampak mahal dan berkelas. Bener-bener tajir laki gue kayaknya.
Dapur yang berwarna hitam gabungan putih membuat suasana terlihat misterius dan elegant. Belum lagi perabot yang berwarna putih, dan juga peralatan dan alat dapur yang terbuat dari staenless steel jadi terlihat sangat stunning. Benar-benar apartement mahal tentunya.
Membuka kulkas, lagi-lagi kata WAH yang keluar dari bibir Kiren. Isi kulkas aja selengkap ini, apa lagi isi dompet. Ckkkk
Mengambil air mineral, Kiren langsung menandaskan setengah isi dari botol mineral itu, untuk menghilangakan haus didahaganya. Kiren benar-benar haus sepertinya.
Terlalu larut memperhatikan apartement Varo, sepertinya membuat Kiren lupa dengan tenggorokanya yang sudah sangat kering ini. Menutup kulkas, Kiren pun langsung berbalik dan terlonjak kaget. Karna pria yang duduk santai dikursi depan mini bar.
Kapan nongolnya coba, kok suara langkahnya sama sekali gak kedengeran. Jangan-jangan pas gue bersikap kampungan, dia udah ada disini lagi.
"Ngagetin aja sih." Ketus Kiren.
Berjalan mendekat, Kiren melihat Varo yang sudah berganti baju dengan pakaian santai. Tadi pas pulang dari hotel, Varo memang memakai kemeja navy panjang yang digulung setengah siku dan celana bahan berwarna hitam. Laki gue pakai baju kaos celana pendek aja masih ganteng, gimana kalau dia gak pakek apa-apa.
Keren tertawa cekikikan membayangkan apa yang ada di fikiranya.
__ADS_1
Tuhannn gue mulai gila kayaknya. Efek punya suami ganteng ini. Ckkk
Varo memandang heran Istrinya ya tertawa-tawa sendiri. " Kenapa?" Tanya Varo heran.
Kiren mengangkat bahu cuek mengabaikan pertanyaan Varo. "Loe udah lama duduk disitu?" Balik tanya Kiren.
"Dari kamu membuka kulkas!" Ucap Varo santai.
Mata Kiren langsung melotot begitu mendengar jawaban Varo.
Jadi tadi dia denger pas gue berkali- kali bilang Wah. Najis, malu-maluin banget sih loe Ren, gimana kalau dia mikir loe katrok dan kampungan banget. Tapi kan, emang gue gak pernah liat apartement segede ini.
"Gak usah melotot." Ucap Varo. "Masih mau meliat-liat apartementnya lagi?" Sambung Varo sambil berdiri dari duduknya.
Kiren langsung menggeleng mendengar pertanyaan suaminya.
Udah cukup hari ini, gue mempermalukan diri gue sendiri didepan ini orang. Jangan sampe, gue tambah bikin diri gue sendiri berlipat-lipat tambah bikin malu. Mau ditaro dimana coba muka gue entar.
"Ya udah ayo!" Ajak Varo sambil berjalan lebih dulu.
Kiren memandang telapak tangannya dan punggung Varo bergantian.
Apes banget, nasib pengantin baru dadakan ini, tanganya gak pernah digandeng. Boro-boro digandeng, ditungguin aja kagak. Sabar ya Kiren, tangan loe puasa dulu.
__ADS_1
Kiren menyusul Varo ketika mendengar suaminya itu berterteriak memanggil namanya.
Bersambung...