SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Kesel.


__ADS_3

Berkacak pinggang." ALVARO PRADIPTA." Teriak Kiren menggelegar seperti manusia yg siap mencabut nyawa.


Varo menjengit kaget saat mendengar ada yg berterik memanggil namanya, mata nya tambah melotot begitu tau siapa orang yg meneriaki namanya. Kiren istrinya, sedang berkacang pinggang dengan wajah merah menahan amarah yg siap meledak kapan saja. Tapi bukan itu permasalahanya bagaimana istrinya bisa sampai disini. Apa Varo belum bangun pagi ini, jadi berhalusinasi atau masih di alam mimpi.


Sentuhan lembut ditanganya menyadarkan Varo dari keterkejutanya. "Siapa kak?"


Tatapan Kiren benar-benar dongkol luar biasa sekarang, seakan dia siap untuk memakan orang hidup-hidup termaksud dua sejoli yg malah asik pegang-pegangan tangan itu. Uhhh Kiren mual rasanya melihat drama sore ini. Jadi Kiren jauh-jauh dari jakarta langsung disuguhi dengan pemandangan yg meyakiti mata seperti ini.


"Kiren." Panggil Varo, Kiren mendengus kuat mendengar suara suaminya yg memanggil namanya.


Melipat kedua tangan didepan dada, Kiren memandang penuh marah pada pria yg berusaha berdiri dan melangkah padanya.


"Sedang apa kamu disini Kiren!!" Tanya Varo lembut. Sangking lembutnya terasa mengalahkan angin yg berhembus dipantai ini.


"Kenapa emang aku gak boleh susulin suami aku yg lupa jalan pulang?" Tanya Kiren galak, ketara sekali jika dia sedang dalam mood yg tidak baik.


Varo tersenyum lucu mendengar suara Kiren.


Nah kan suami Kiren benar-benar ngeselin udah jelas-jelas ketauan selingkuh, istrinya marah bukanya dibujuk malah dikasih senyuman begitu, kan hati Kiren jadi ambyar.


"Kenapa gak bilang kalau mau kesini?"


Kalau gue ngomong, gue gak mungkin nangkep loe yg lagi mesraan kayak gini ****.


Kalau biasanya Kiren akan senang luar biasa mendengar nada lembut Varo berbeda sekarang. Rasa-rasanya Kiren ingin membabat habis siapa saja yg memandang suaminya dengan tampang terpesona termaksud perempuan yg sudah berdiri dibelakang Varo.


"Kiren?" Panggil Varo menyentuh tangan Kiren.


"Kenapa emangnya? Kamu gak suka kalau aku ada disini?" Tanya Kiren ketus begitu melihat wanita yg bersama Varo sudah berdiri disamping suaminya.


Varo tertawa lepas mendengar nada ketus Kiren. Bahkan perempuan yg berdiri disampingnya memandang takjub suaminya yg tertawa.


Woy mbak. Biasa aja dong liatnya situ gak pernah liat cogan ketawa. Najis iler loe hampir netes liat laki gue ketawa.


"Kamu marah?" Tanya Varo disela-sela tawanya.


Kiren yg melihat tawa Varo untuk pertama kalinya, cuman melongo bodoh.

__ADS_1


Ihhh Varo jangan ketawa mulu dong, gak liat itu muka temenya udah megap-megap kayak ikan Kio.


"Kamu udah makan?" Tanya Varo setelah tawanya sudah reda.


"Dia siapa kak?"


Kiren menoleh. Menilai wanita yg berdiri didepanya, wajahnya sangat cantik, ralat lumayan cantik untuk jajaran wanita-wanita yg sering Kiren temui, bahkan wanita seperti ini bisa bikin cowok noleh dua kali. Tapi harus tetap ya, cantikan Kiren, buktinya Varo nikahnya sama Kiren gak mau sama yg lain. Kiren tersenyum sinis melihat wanita itu memandang penuh kagum pada suaminya.


Gue kasih pelajaran dulu ni cewek gak tau ya, kalau cowok yg loe taksir ini udah punya bini.


"Dia istri saya." Jawab Varo mantap.


Kiren langsung menoleh cepat kearah Varo. Sedikit lega karna Varo masih memandang lurus kearah Kiren.


"Seriously?" Pekik wanita yg berdiri disamping Varo. "Ops-Sory. I mean kapan nikahnya kok beritanya gak nyampe ke aku?" Sambungnya lirih, ketara sekali jika dia kecewa.


Woy mbak situ siapa sampai harus dikasih tau, presiden? Presiden aja gak gue undang apa lagi loe.


"Beberapa bulan yg lalu." Ucap Varo menoleh kesamping.


Varo menoleh. "Kenapa?"


"Aku haus." Ketus Kiren.


Kiren ini bukan cewek murahan ya. Walau Varo sudah memperjelas statusnya, tapi tetap aja gak bakal mempengaruhi rasa kesal dalam diri Kiren. Jadi perempuan itu gak boleh lemah.


Varo mengulurkan tangan kananya kearah Kiren. "Mau balik kehotel?" Tawar Varo.


Walau masih kesal Kiren tetap menerima uluran tangan suaminya. Gak boleh nyia-nyiain rezeki kan. Apa lagi ini yg pertama kalinya lo, suaminya mau gandeng Kiren. Jangan bilang karna Varo terpesona sama kecantika Kiren, jadi dia mau gandeng Kiren sekarang. Akhirnya Varo sadar akan pesona Kiren.


Duh senengnya. Besok dandan lagi deh biar bisa digandeng paksu lagi. Ckkkk


Sebelum pergi, Varo menoleh kesamping sebentar. "Jihan, maaf saya duluan." Ucap Varo formal.


Oh namanya Jihan to. Namanya gak secantik wajahnya- Eh sory wajahnya gak secantik namanya.


"Tapi mitting kita kak!!" Protes Jihan.

__ADS_1


"Kita lanjut besok, tapi kalau kamu keberatan nanti saya akan nyuruh sekertaris saya untuk menggantikan saya disini." Ucap Varo tegas.


Emmmm kalau Varo begini makin cinta deh gue...Jadi pengen peluk..


"Ok deh besok aja." Ucap Jihan lesu.


Varo diam tidak berkomentar atau menjawab. "Yuk." Ajak Varo pada Kiren.


"Sampai jumpa mitting besok kak." Seru Jihan sarat akan nada kecewa.


Kiren mengangguk patuh. Mengikuti langkah lebar Varo didepanya.


Tidak ada yg membuka suara sepanjang perjalanan menuju haotel, Kiren juga masih sedikit kesal pada suaminya jafi terlalu malas jika harus membuka obrolan. Kalau Varo janga tanya, sejak kapan suami tampan Kiren ini mau membuka suara kalau bukan karna mejawab atau bertanya hal-hal yg menurutnya penting. Varo kan gitu udah cuek, dingin lagi, suka bikin Kiren gemes-gemes cinta gimana...Gitu.


Kiren memandang tautan tangan dirinya dan Varo, suaminya itu terlihat begitu erat menggenggam tangan Kiren. Mau tidak mau sudut bibir Kiren terangkat keatas.


"Jadi kita beneran pulang ke hotel? Atau kamu gak mau jalan-jalan dulu?" Tawar Varo.


Mauuuu gue mau jalan-jalan paksu. Tapi malu ah tadi kan gue udah bilang haus, apa kata mbak Hanum kalau dia tau gue cuman bohong biar ngajak kamu pergi dari Jihan-Jihan itu. Bisa habis diketawain gue.


"Kita bisa nyuruh pak Jo buat ngantar minuman kamu kalau kamu haus?"


Tawaran yg menggiurkan. Bisik Keren.


"Mau jalan-jalan kemana?" Tanya Kiren pelan. Tapi sarat akan rasa bahagia yg tidak bisa ditutupi karna bibirnya mulai tertarik sedikit keatas.


Takut gue kalau ngomong kenceng-keceng. Takut jantung gue kaget terus tiarap karna efek terlalu bahagia...


"Di ujung sana ada dermaga buatan pemandanganya gak kalah bagus dari sini. Kamu mau liat?" Tawar Varo menunjuk kearah utara.


Kiren mengangguk patuh. "Boleh." Ucapnya semangat.


Mendengar nada semangat istrinya membuat Varo terkekeh pelan. Kiren yg mendengar Varo terkekeh, langsung mengtupkan bibirnya rapat.


Kalau kayak gini jadi pengen ngantongin Varo biar gak dinikmati banyak orang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2