
Biarkan mentari pagi menghangatkan pagimu yg dingin.
Biarkan cahaya bulan menemani malammu yg gelap.
Dan biarkan aku ada disampingmu ketika kau kesepian.
Dan tak kan kubiarkan dirimu jauh dari pandangan ku.
Karna dirimu adalah tulang rusuk ku.
"Ssssssttt. Kenapa menangis? Aku tidak marah, aku hanya ingin kita bisa bersikap lebih wajar seperti suami istri lainya."
Kiren mendongak masih dengan air mata dipipinya bahkan hidungnya sudah merah sekarang. Varo sampai terkekeh pelan melihatnya. Istrinya benar-benar lucu jika seperti ini. Kiren yang melihat suaminya terkekeh untuk pertama kalinya sampai dibuat tidak berkedip karna takjub.
Ganteng banget sih laki gue kalau ketawa gitu. Gak papa deh gue nangis tiap malam asal bisa liat senyum ma ketawanya. Teriak hati kecil Kiren.
"Kiren. Aku bisa minta hak ku sebagai suami sekarang?" Tanya Varo.
HAH
Hanya kata itu yg keluar dari bibir Kiren dengan pikiran blank. Gimana enggak orang habis nangis langsung dimintai jatah sama suami. Siapa yang gak syok coba.
Melihat Kiren hanya diam membuat Varo berfikir jika istrinya tidak mungkin keberatan. Karna perasaanya sekarang benar-benar menginginkan istrinya. Varo mendekatkan wajahnya pada Kiren, bersiap mencium istrinya. Bahkan matanya sudah tertutup rapat. Tapi, belum lama menutup mata tangan kecil terasa menutup bibirnya dan menahanya. Matanya terbelalak begitu tau tangan kecil Kiren yang menutup bibirnya.
Kiren melihat Varo yang menutup mata bersiap menciumnya terlihat panik, dan bingung. Tangannya langsung menutup bibir Varo yang berusaha terus mendekat.
"Kenapa?" Tanya Varo heran setelah menurunkan tangan Kiren dari bibirnya.
"Kamu keberatan?"Sambungya.
"Ah itu.... Sebenarnya aku.!!" Ucap Kiren tersedat karna bingung bagaimana menyusun kata-kata yang pas, biar tidak melukai harga diri suaminya. Kiren berusaha menghidari tatapan mata Varo yang menuntut jawaban dengan mencoba memperhatikan apa pun asal jangan mata suaminya. Bingung sumpah.
Varo gemas mendengar istrinya berbelit-belit. Apa istrinya menolaknya, atau belum siap. Asumsi-asumsi buruk mulai berkeliaran difikiran Varo. "Apa Kiren?" Tanya Varo. "Kamu belum siap?"
Kiren menggeleng pelan.
"Terus?" Desak Varo.
Kiren kenapa sih, gak tau apa Varo udah kebelet. Semua rasa udah jadi satu karna hasrat yang menggebu-gebu pada diri Varo, sedang istrinya malah menolak tidak jelas alasanya. Kan buat kesel.
__ADS_1
"Lagi ada tamu." Cicit Kiren.
Mengernyit bingung. "Tamu? Tamu apa?" Tanya Varo yang belum mengerti. Tamu apa lagi ini, apa hubunganya coba tamu sama haknya. Istrinya ini benar-benar pintar memainkan emosi Varo.
Dengan pipi yang semakin terlihat seperti kepiting rebus, Kiren menggigit ujung bibir bingung bagaimana menyampaikannya pada Varo. Suaminya ini masa gitu aja gak ngerti sih. "Tamu bulanan." Cicit Kiren pelan.
Melongo, Varo benar-benar melongo dibuat istrinya.
Ok. Fix Varo yang sekarang syok. Dengan mata yang menatap Kiren tak percaya. Kenapa harus berbelit-belit coba, Varo sampai gemas sendiri dibuat.
"Sudah berapa lama?" Tanya Varo pelan setelah menguasai keterkejutanya.
"Baru tadi." Cicit Kiren tak kalah pelan.
Bukan cuman syok, bahkan sekarang Varo mengumpat kesal. Kiren yang mendengar Varo mengumpat bibirnya berkedut menahan senyum, hidungnya pun sampai ikut berkerut gemas. Suaminya ini, benar-benar penuh dengan kejutan.
"Kamu senang?" Tanya Varo datar, Kiren menggeleng cepat tak urung bibir nya ikut tersenyum karna sudah tidak kuat menahan senyum.
Ihhhhhh suami gue gemesin sih.
"Kamu ngetawain saya?"
"Siapa yang ketawa. Orang aku cuman senyum." Ucap Kiren dengan nada jail.
Varo mendengus pelan mendengar ucapan Kiren. Istrinya ini benar-benar.
"Sampai kapan?"
"Tujuh hari."
Bukan Cuman mengumpat, Varo bahkan sekarang sudah memerah telinganya. Entah malu atau menahan amarah, tapi yang jelas dia butuh mandi sekarang.
"Kenapa lama sekali?" Kesal Varo tak terima.
Kiren tertawa mendengar nada kesal Varo. Suaminya ini sudah seperti laki-laki mesum yang butuh belaian. Varo yang menyadari ucapan bodohnya hanya mendengus dan mengalihkan pandanganya tak urung bibirnya ikut berkedut menahan senyum, melihat istrinya tertawa lepas karna dirinya terasa ada sesuatu yang menggelitik perutnya.
Kiren menangkup kedua pipi Varo dengan kedua tanganya, masih disela-sela tawanya. Kiren menggesek-gesekan hidung mancungnya dengan hidung mancung Varo. Mengabikan tatapn kesal suaminya.
Varo tidak menolak dia bahkan sudah menarik bibirnya seperti bulan sabit merasakan lembutnya hidung mancung istrinya. Apa mereka sudah berbaikan, tapi bukankah tadi mereka tidak sedang bertengkarkan. Lalu kenapa Varo sebahagia ini mendengar istrinya tertawa, anggap dia sudah gila. Tapi Varo tidak butuh mandi sekarang, yang dibutuhkanya adalah memeluk istrinya dan tidur. Ya itu sudah cukup bagi Varo.
__ADS_1
"Mas udah gak kuat ya?" Goda Kiren.
Melepaskan tangan Kiren dipipinya, lalu Varo mendorong kepala Kiren dengan telunjuknya sebelah tanganya. "Hilangkan pikiran kotor diotak kamu."
"Siapa juga yang berfikoran kotor. Aku gak mikir apa-apa kok." Elak Kiren menggeleng kepalanya cepat.
Malu setengah hidup gaeeees.
Varo hanya mendengus mendengar jawaban istrinya. Pintar sekali istrinya berdalih. "Kita tidur sekarang." Ucap Varo manarik Kiren kedalam pelukanya.
Malam ini sepertinya menjadi malam yang tragis bagi Varo, bahkan tadi hasratnya sudah menggebu-gebu ingin disalurkan. Tidak bisakah tamu bualanan Kiren ditunda dulu, bahkan mereka belum melakukan malam pengantin. Kenapa Varo jadi kesal saat mengingatnya.
...----------------...
Kiren mematut dirinya didepan cermin. Rambut ikal gelombangnya diikat agak tinggi menjadi satu. Dengan pakaian rapi Kiren siap untuk berangkat ke caffe. Melangkah keluar kamar.
"Udah mau berangkat."
Kiren tersentak dengan ucapan Varo, suaminya duduk disofa dengan kaki disilang. Apa yang dilakukan suaminya disini. Melirik suaminya yang melangkah kearahnya. Kiren dibuat heran karna seharusnya suaminya sudah berangkat dari tadi, lalu kenapa masih disini sekarang?
"Mas belum berangkat?" Tanya Kiren mengabaikan pertanyaan suaminya sebelumnya.
Varo hanya mengangguk, tidak mau rept-repot menjawab.
"Ayo aku antar." Ucap Varo berjalan lebih dulu dari Kiren.
"Gak usah deh mas, kita kan gak searah. Kalau mas anter aku dulu, mas jadi muter-muter nantinya. Mending aku naik taksi aja!!" Tolak Kiren.
"Aku gak menerima penolakan. Ayo!!"
"Tapi-"
"Cepet Kiren." Perintah Varo otoriter.
Kiren mendengus kemudian mengikuti langkah Varo yang lebih dulu keluar.
Selalu deh gue ditinggalin. Kapan sih dia mau gandeng tangan gue. Keselllllll.
Bersambung....
__ADS_1