SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Sesi Curhat


__ADS_3

Setelah acara pertunangan, Kiren dan Varo memilih menginap di rumah mama Kiren, Laras. Karna hujan angin yang cukup kencang dan deras, membuat mereka memutuskan untuk menginap di rumah Laras.


Sebenarnya itu saran Laras, karna rumah Laras lebih dekat dari rumah adik iparnya. Yang langsung disetujui oleh Varo dengan senang hati. Sepertinya, suami Kiren itu sengaja sekali agar Kiren bisa cepat memaafkanya.


Tapi Kiren tidak akan secepat itu memaafkan suaminya, enak saja dia. Sudah buat Kiren kangen setangah hidup, kesel setengah mati. Ditambah, suaminya Kiren kan selalu mengabaikan semua perhatian Kiren. Gak adil kalau dia langsung dimaafkan.


Walau sebenarnya Kiren tidak tega liat wajah lelah suaminya, tapi tetap saja dia harus tegas. Kalau tidak begitu nanti, Varo malah ke'enakan memperlakukan Kiren seperti ini. Lagi!! Dan, dengan gampangnya akan meminta maaf seperti ini lagi, jika membuat kesalahan. Gak, Kiren gak mau seperti itu. Gak akan mau pokoknya.


Setelah mengganti baju dan membersihkan diri. Kiren melangkah pelan keluar dari kamar mandi bersiap naik keatas tempat tidur. Matanya sudah benar-benar terasa berat sekarang. Dia benar-benar ngantuk.


"Ren bisa kita bicara sebentar?" Tanya Varo memandang lurus kearah Kiren.


"Besok aja deh, aku udah ngantuk sekarang." Ucap Kiren menghindari tatapan Varo. Malu, grogi, kangen-kangen gimana gitu.


"Ren please...." Mohon Varo dengan wajah memelas.


Dengan berat hati akhirnya Kiren menurut, melangkah duduk disamping Varo, diatas tempat tidur. Gak tega ah, liat wajah ganteng Varo bute**g.


Hening, tidak ada suara selain hembusan nafas yang saling bersahutan antara Kiren dan Varo. Seakan mereka sibuk dengan fikiran masing-masing.


"Aku mau minta maaf." Ucap Varo tegas.


"Minta maaf buat apa?" Pancing Kiren.


"Buat semua kesalahan ku."


"Emang mas tau apa kesalahan mas?" Tanya Kiren sanksi.


"Ya." Jawab Varo mantap.


"Apa?"


"Karna udah buat kamu kecewa."


"Cuman itu?" Tanya Kiren sambil mengangkat sebelah alisnya.


Varo mengangguk. "YA." Jawab nya memperjelas.


Kiren diam mendengar ucapan Varo. Jantungnya ikut berdetak kuat sekarang.


"Kiren aku tau, aku salah karna terlalu cuek dan seperti gak peduli sama kamu. Tapi aku gak tau harus bagaimana bersikap ke kamu. Bukan cuman kamu yang merasa aneh dengan pernikahan ini, aku juga merasa seperti itu. Semua terasa mendadak buat aku, kamu, hubungan kita!!" Jelas Varo.


"Terus kenapa kalau kamu gak siap, harus maksa aku buat terima pernikahan ini?" Tanya Kiren marah, bahkan sekarang Kiren sudah berdiri ingin melangkah pergi. Sebelum tanganya ditahan oleh Varo.

__ADS_1


Varo menarik pelan tangan Kiren, mendudukanya ditempatnya semula. Dan Varo berganti duduk berjongkok didepan Kiren, dengan kedua tangan menggenggam tangan Kiren.


Varo memandang Kiren hangat dan teduh, Kiren yang dipandang seperti itu untuk pertama kalinya langsung terkesima kaget. "Aku tau. Disini aku yang egois. Ya aku minta maaf untuk itu. Dan juga aku terlalu memaksakan kehendak ku sama kamu. Aku yang sedari awal tidak mendengarkan kata-kata mama dan kak Hanum." Menarik nafas dalam.


"Ditambah, aku malah dengan kejamnya menyeret kamu masuk ke dalam masalah ku. Aku minta maaf juga untuk itu. Sejujurnya, sedari awal aku sulit mengungkapkan semua itu ke kamu!! Bukan tanpa alasan aku seperti itu. Kita adalah orang baru. Dan aku gak terbiasa dengan mengungkapkan isi hati ku, kepada orang baru!!" Varo menunduk sedikit dalam.


"Waktu aku, untuk pertama kalinya, ngajak kamu nikah. Dibayanga aku saat itu hanya mama, mungkin kamu akan sakit hati tentang ini. Tapi akan lebih sakit lagi kalau aku gak jujur. Selama aku ada dikalimantan, aku juga udah pikirin matang-matang tentang ini, tentang kejujuran aku yang bakal buat kamu tambah marah atau memaafkan aku. Aku bakal terima konsekuensinya nanti." Kiren tetap diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Varo, tak urung hatinya juga mulai resah sekarang.


"Tapi aku cuman mau tau, apa kamu siap buat denger ini!!" Tanya Varo hati-hati, melihat usaha Varo untuk jujur. Kiren hanya mengangguk dengan sorot mata penasaran.


"Tapi jangan pernah menyela ucapan ku nanti walau kamu sakit hati? Kamu harus dengerin sampai akhir cerita ini. Gimana kamu setuju?" Sambung Varo meminta persetujuan Kiren. Lagi-lagi Kiren mengangguk dengan jantung berdebar. Kira-kira apa yang bakal Varo ungkapkan untuk gue malam ini.


"Yang pertama aku bakal berterimakasih kekamu Kiren. Untu semua ketulusan kamu, dan kesabaran kamu selama ini."Ucap Varo pelan sambil memandang genggaman erat tangan Kiren denganya.


"Waktu aku memutuskan menikah sama kamu, itu adalah keputusan yang gak pernah aku sesali seumur hidup. Walau kita sama-sama belum siap dan terbiasa, Tapi aku gak menyesal. Dan apa yang aku ucapin waktu itu tentang kita yang harus membiasakan diri, belajar menerima pasangan satu sama lain, bahkan agar seperti pasangan pada umumnya. Aku gak pernah main-main tentang kata-kata itu. Gak sama sekali." Ucap Varo sarat akan ketegasan.


"Di setiap komitment atau hubungan yang aku jalanii, aku gak pernah main-main tentang semua itu. Sama hal nya, waktu aku berpacaran dengan Citra mantan tunangan ku. Kamu tau!! Bahkan saat aku melamarnya dan ditentang oleh mama dan kak Hanum. Aku berani ambil resikonya, karna menurut ku seorang laki-laki yang gentel adalah dia yang bisa memegang janjinya dan siap bertangguang jawab."


"Tapi semua berubah. Saat dia tiba-tiba datang. Dan mengatakan tidak bisa menikah dengan ku. Tidak siap jika harus berhubungan serius dengan ku. Karna aku terlalu sibuk bekerja dan kurang memberikan nya perhatian."


Kiren memperhatikan sorot mata Varo yang mulai melemah, tidak ada lagi nada tegas disuaranya. "Dia memilih pria lain yang lebih bisa memberikan semua waktu dan perhatianya, dibandingkan aku yang selalu sibuk bekerja. Untuk masa depan kami" Ucap Varo lirih. Kiren cukup kaget mendengar pengakuan Varo itu.


"Dan, di saat kamu juga mengatakan hal yang sama membuat aku sadar mungkin aku benar-benar sudah berlebihan. Hingga dua wanita yang pernah menjalin hubungan dengan ku nyaris sama merasakan kecewa karna perlakuanku." Kiren menggeleng mendengar ucapan putus asa Varo.


"Tapi Kiren," Ucap Varo memandang Kiren semakin putus asa.


"Aku, yang dari usia 15 tahun, sudah harus bekerja diperusahaan menggantikan almarhum papa. Harus sudah mengenal bisnis, belajar disela-sela kesibukanku bekerja. Padahal diusia segitu seharusnya aku menikmati masa remaja ku dengan teman-teman seusia ku." Mendengar nada melemah Varo, Kiren menggenggam tautan tangan mereka erat. Seakan memberi kekuatan jika ada dia saat ini.


"Aku tidak pernah tau bagaimana cara berinteraksi, sebagaimana sepasang kekasih yang memperlakukan pasanganya dengan baik. Yang aku tau aku harus bekerja keras, karna beban dipundak ku tidak ringan. Ada ribuan kariawan yang bergantung hidup pada ku. Aku tidak bisa mengesampingkan pekerjaanku hanya karna masalah ego. Anggap aku egois dalam hal ini. Tapi ini bukan tentang sinetron atau cerita fiksi yang seorang pria kaya bisa melimpahkan tugasnya pada orang kepercayaanya. Tidak sepenuhnya bisa seperti itu!!"


"Dari awal aku sudah mati-matian bekerja keras, aku tidak bisa langsung melimpahkan tanggung jawab ku pada orang lain meski dia adalan orang kepercayaan ku. Tidak semudah itu."


"Aku tidak tau harus berbagi keluh kesah, beban kepada siapa, karna aku juga tidak pernah melakukanya. Saat aku bertunangan dengan Citra, kami hanya berkomunikasi seadanya dan berintaksi seperlunya. Yang aku tau, memperlakukan pasanganya dengan baik itu mungkin dengan memberikan mereka berlimpah materi dan uang. Tapi ternyata aku salah."


"Aku salah dalam hal sisi pandang itu. iya kan?" Tanya Varo meminta persetujuan, Kiren hanya diam tidak menjawab atau mengkoreksi.


"Citra meninggalkan ku karna aku terlalu cuek dan sibuk bekerja. Begitu pun kamu yang nyaris hampir meninggalkan ku karna alasan yang sama." Bisik pelan Varo.


"Tapi saat dikalimantan, aku tidak bermaksud bersikap tidak peduli pada kamu Kiren. Tidak sama sekali!! Disana pekerjaan ku begitu bayak, semua nyaris terbengkalai kalau aku tidak cepat-cepat menyelesaikanya."


"Pernikahanku dengan mu yang mendadak membuat harga saham turun drastis, Yang dulu aku bertunangan dengan Citra dan tiba-tiba menikah dengan wanita lain. Semua beranggapan jika aku berselingkuh, dan dengan tidak tau diri malah meresmikan dengan dirimu. Dan mereka berfikir aku tidak bisa menjaga hubungan ku."


"Kenapa kamu tidak menjelaskan jika mantan tunangan mu yang selingkuh." Potong Kiren bersungut-sungut.

__ADS_1


"Semua tidak semudah itu sayang." Jawab Varo dengan sabar.


"Lalu?"


"Di dunia bisnis, kebanyakan invektor percaya bahwa tanggung jawab itu sangat berhubungan erat dengan komitment. Termaksud keluarga."


"Mereka yang bisa menghianati keluarga, tidak ada jaminan untuk mereka juga untuk tidak melakukan hal yang sama terhadap tanggung jawab pekerjaan dan kepercayaan."


"Karna itu saat aku menikah dengan gadis yang berbeda dengan gadis yang bertunangan dengan ku. Semua kontrak kerja sama dan investor hampir memutuskan kontrak kerja yang membuat perusahaan menjadi tidak stabil. Disitu, aku harus bekerja extra dua kali lipat lebih keras mengembalikan kepercayaan mereka. Jika tidak ingin perusahaan ku semakin mengalami hal yang lebih buruk."


"Termaksud saat kamu ke kalimantan?"


"Ya. Termaksud dikalimantan. Jadwal yang aku perkirakan hanya butuh dua minggu untuk mengurus semua itu ternyata melenceng jauh dari perkiraan. Aku saat itu nyaris benar-benar gila dengan semua masalah pekerjaan yang tidak menemukan jalan keluar. Dan di tambah lagi, saat kamu meledak-ledak karna aku terlalu cuek pada mu. Itu semakin membuat aku frustasi dan benar-benar gila." Ucap Varo diakhiri dengan kekehan, yang jika didengar Kiren terasa hambar ditelinganya.


Sumpah demi apa pun, Kiren merasa iba saat mendengar semua isi hati Varo.


"Maaf, aku gak tau kalau waktu itu mas lagi pusing." Ucap Kiren menyesal.


"Ok, aku maafin. Karna semua itu sudah selesai sekarang."


"Serius?" Tanya Kiren lega.


Varo mengangguk. "Tapi, tinggal satu masalah lagi sekarang!!"


"Apa?"


"Kamu."


"Aku?"Tunjuk Kiren pada dirinya.


Varo mengangguk dengan pandangan dalam.


"Aku kenapa?" Tanya Kiren tak terima. Bahkan matanya melotot kearah Varo.


"Kamu masih marah dengan ku. Dan itu bukan masalah sepele, sekarang. Karna membujukmu itu, tidak akan mudah. Iyakan?" Tanya Varo.


"Jadi sekarang keputusan mu. Masih marah? Atau tambah marah karna mendengar semua alasan ku!!!"Sambung Varo dengan perasaan was-was.


"Emmmmmm. It---u Aku..."


"Kenapa? Kamu belum bisa maafin aku?" Potong Varo tak sabaran.


Mana nih para kaum yang merasa teraniyaya oleh paksuπŸ˜‚πŸ˜‚Tunjuk tangannya dong.....Enaknya paksu kalau udah gini diapain yaaaaaπŸ€”πŸ€”πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­

__ADS_1


Setuju gak kalau ini bab terakhir buat hari iniπŸ˜―πŸ˜―πŸ˜―πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


Bersambung..........


__ADS_2