
Kiren yang sedang bergulung dibalik selimut hangatnya terganggu ketika mendengar pintunya diketur tidak sabaran.
TOK.....TOK......
"Bu Kiren."
Sayup-sayup suara orang dibalik pintu membaut tidur nyenyaknya benar-benar terganggu.
Dengan sedikit malas, Kiren bangun dari tidurnya. Mengikat asal rambutnya. Dan melangkah keluar.
Saat pertama kali membuka pintu, wajah panik dan berkeringat Jessi, sekertaris suaminya lah yang ada didepannya saat ini. Membuat Kiren manatap Jessi bingung. Bukankah seharusnya sekertaris suaminya ada disolo bersama suaminya. Lalu apa yang dilakukan sekertarisnya didepan pintunya hampir tengah malam begini.
"Mbak Jessi.. Kenapa?" Tanya Kiren yang belum sepenuhnya sadar.
"Bu...Kiren....Itu bu...Pak Dipta...Sedang dirumah sakit...." Ucap Jessi terputus-putus karna nafasnya yang masih ngos-ngosan. Sepertinya sekertaris Varo itu baru selesai lari maraton.
"Rumah sakit?? Dipta?" Tanya Kiren yang masih sedikit linglung. "Dipta itu suami saya kan ya.....?" Tanya Kiren sambik menggaruk pipinya yang tidak gatal. Jessi yang berdiri didepannya mengangguk polos.
"YA ALLAH...KENAPA SAMA SUAMI SAYA MBAK?" Teriak Kiren yang sudah mulai sadar.
"Itu.....Bu...Pak--"
"Terus ngapain mbak masih disini ayo...." Ucap Kiren memotong ucapan Jessi, dan langsung berjalan cepat meninggalkan Jessi yang gantian bengong melihat istri bosnya berteriak histeris..
"MBAK JESSI...NGAPAIN MENGONG DISITU.....AYO CEPET...." Teriak Kiren yang sudah melangkah agak jauh dari Jessi.
Mendengar teriakan istri bosnya, Jessi langsung tersadar dan menyusul langkah Kiren.
☆☆☆☆
Hampir tiga puluh menit perjalanan dari rumah Kiren, ke rumah sakit tempat dirawatnya Varo, suamnya Kiren. Hampir tiga puluh menit juga Kiren dilanda rasa cemas. Cemas memikirkan suaminya.
__ADS_1
Tadi, saat dijalan Jessi sekertaris Varo memberitahu Kiren. Jika selama Varo disolo tidak selalu muntah-muntah dan tidak nafsu makan. Setiap Varo baru selesai makan selalu berakhir ditoilet untuk memuntahkan semua makananya.
Akhirnya, dengan sedikit bujukan dan paksaan, Jessi untuk menyuruh Varo kembali pulang kejakarta dan kerumahnya membuahkan hasil.
Sore tadi, dengan sedikit tidak ikhlas Varo memutuskan menunda miting dan beberapa pekerjaannya. Karna dia akan kembali ke Jakarta. Tapi, naas entah karna tubuhnya yang lemah karna tidak ada asupan atau memang kondisi tubuhnya yang sedang drop. Varo jatuh tak sadarkan diri ketika baru keluar dari bandara. Dan mengakibatkan sedikit kehebohan disana. Beruntung Jessi ikut mengatar bosnya kembali kalau tidak, apa yang akan terjadi pada bosnya itu tadi.
Dengan sedikit tergesa, Kiren melangkah kearah ruang rawat Varo. Dengan perasaan cemas luar biasa.
"Mas." Panggil Kiren yang sudah berdiri disamping ranjang Varo.
Varo yang sedang tertidur karna efek obat dan infus hanya diam dan menutup mata. Tidak terganggu sedikit pun dengan panggilan istrinya.
"Mbak...Apa suami saya beneran gak papa? Kenapa mukanya pucet begini?" Tanya Kiren cemas kearah Jessi yang berdiri disampingnya.
"Kata dokter tadi gak papa bu...Pak Dipta hanya kekurangan nutrisi dan dehidrasi.. Mungkin karna efek muntah bu..." Jelas Jessi yang membuat Kiren menghembuskan nafas lega.
"Apa dia muntahnya kemarin parah mbak? Tapi kenapa waktu aku telpon dia keliatan baik-baik aja? Malah masih bisa becanda..." Tanya Kiren yang memandang suaminya prihatin.
"Saat jam makan siang sih pak Dipta muntahnya tidak terlalu parah bu...Tapi saat kami dibandara pak Dipta munthnya lumayan parah...Bahkan pak Dipta sampai memakai masker untuk menghilangkan aroma-aroma disekitarnya...."
"Buk Kiren?" Panggil Jessi membuyarkan lamunan singkat Kiren.
Kiren menoleh kearah selertaris Varo yang berdiri disampingnya. "Kenapa mbak?" Tanya Kiren pelan.
"Apa saya boleh bertanya sesuatu bu?" Tanya Jessi sopan. Kiren hanya diam tapi sorot matanya terlihat sekali sedang menunggu kelanjutan kata-kata sekertaris suainya.
"Apa...Pak Dipta seperti ini karna kehamilan buk Kiren?" Sambung Jessi pelan.
Kiren menghembuskan nafas panjang. Menarik kursi disampingnya dan duduk dengan tenang disamping tubuh Varo. "Kata dokter sih iya mbak.....Karna selama aku hamil...Varo yang mengalami morning sickness, ngidam dan sensitif..." Gumam Kiren pelan.
"Itu pasti karna pak Dipta sangat mencintai buk Kiren dan calon anaknya buk...Sampai pak Dipta juga merasakan ngidam dan morning sickness...Ada yang bilang, jika suami juga ikut merasakan ngidam...Pasti ikatan batik anak dan ayah akan kuat buk.."
__ADS_1
"Serius mbak?" Tanya Kiren. Jessi mengangguk menjawab pertanyaan istri bosnya.
"Tapi kasian mbak...Karna kehamilan ku...mas Varo jadi seperti ini..." Sambung Kiren sedikit murung.
"Gak papa buk...Pak Dipta juga kelihatannya gak keberatan buk..." Ucap Jessi menghibur Kiren.
Kiren hanya diam mendengar ucapan Jessi. "Mbak pulang aja deh...Istiraht...Mbak pasti capek seharian ini....Mana bolak-balik ngurusin mas Varo lagi..."
"Gak papa buk...Saya bisa istirahat disini...Nemenin buk Kiren....Lagian kalau saya tinggal kasian buk Kiren disini sendiri...."
"Gak papa mbak....Bentar lagi juga subuh...Kalau mbak istirahat disini juga kasian mbak...Pasti mbak gak bisa istirahatin badan...Kalau dirumahkan lebih nyaman." Ucap Kiren sedikit memaksa.
"Baiklah buk kalau begitu...Saya pamit pulang.."
"Mbak pulangnya dijemput?"
"Gak buk....Saya naik taxi.."
"Oh kalau gitu mbak pulangnya dianter supir aja deh...Kasian kalau jam segini mbak pulang sendiri...Mana naik taxi lagi....Minta anter mang Asep aja mbak.."
"Gak papa buk...Biar mang Asep nemenin buk Kiren disini....Atau barang kali, nanti buk Kiren butuh sesuatu, dan butuh bantuan....Ada mang Asep.....Biar saya bisa naik taxi aja buk."
"Udah mbak tenang aja, aku berani kok disini sendiri...Lagian mang Asep nganter mbak gak lama jugakan..Kayanya aku juga gak butuh apa-apa...Kecuali kalau bayi besar ku udah bangun baru..." Ucap Kiren sedikit bercanda.
"Baiklah buk kalau begitu...Saya pamit pulang dulu buk...Salam buat pak Dipta kalau nnti beliau sudah bangun.."
"Iya mbak...Hati-hati dijalan...." Ucap Kiren hangat. Yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Jessi.
Setelah Jessi pergi, ruangan Varo terasa sepi. Hanya suara deru nafas teratur Varo lahyng terdengar ditelinga Kiren. Membuat Kiren memandang nanar wajah pucat suaminya.
"Maaf ya mas...Kamu pasti merasa terbebani dengan keadaan mu sekarang..." Bisik Kiren pelan sambil menggenggam tangan Varo dan meletakkannya dipipinya.
__ADS_1
"Sayang....Udah jangan aneh-aneh lagi ya nak....Kasian papa mu...Dia pasti tersiksa sekarang..." Sambung Kiren sambil sebelah tangannya mengelus pelan perut ratanya.
Bersambung.....