
"Ya...ya... Jadi cepat pilih mau yang mana!!."
James dan Putri menahan senyum saat melihat pasangan unik didepannya. Dengan malu-malu Kiren kembali duduk disofa yang tadi dia duduki.
Varo mengelap wajahnya frustasi tak urung dia juga ikut duduk disamping Kiren. Bredehem pelan untuk menetralkan wajahnya sebiasa mungkin Varo nampak tak terganggu dengan senyuman aneh ketiga orang didepannya.
"Maaf mbak, jadi mau pilih yang mana?" Tanya James sopan.
Kiren memperhatikan beberapa cincin didepannya, semua nampak cantik. Masih dengan perasaan malu, Kiren menunjuk cincin dengan desaint elegant. Tapi nampak cantik dimatanya. Dan harganya memang nampak mahal dibandingkan yang lain. Seratus ribu, nominal itulah yang tertulis didaftar harganya.
Murah banget sih ini cincin. Masa tempatnya aja yang mewah tapi cincinnya murah.
"Yanga ini mbak?" Tanya Putri memastikan. Dengan malu-malu Kiren mengangguk.
"Wah....Selera mbak bagus. Ini koleksi terbaik kami disini." Puji Putri.
Mengerutkan kening heran. Bukannya harganya murah. Terus kenapa bisa jadi koleksi terbaik.
Setelah lebih teliti memperhatikan harganya. Kiren melotot ngeri saat memperhatikan harga cincin yang ternyata ada lambang US dolar dibelakangnya.
__ADS_1
Semahal itu, Varo sanggup gak ya bayarnya. Ah masa bodo dia kan kaya.
"Tolong beri inisial V dan K." Seru Varo memberi intruksi yang langsung diangguki oleh James sebelum pamit undur diri.
Kiren mengalihkan pandanganya kearah Varo yang bersandar disandaran sofa sambil memejamkan kedua matanya, dan kedua tangan dilipat didepan dada. Wajah lelah Varo begitu ketara membingkai wajahnya saat ini. Membuat sedikit hati Kiren tersentil melihatnya.
Apa akhir-akhir ini suaminya kurang istirahat. Atau perusahaannya sedang ada masalah membuat Varo nampak lelah seperti ini. Mengingat Kiren bukan istri yang baik untuk Varo, membuat hatinya ikut ngilu memikirkannya.
Egoiskah Kiren akhir-akhir ini, karna dia tidak memperhatikan suaminya belakangan ini, malah mempertahankan egonya karna cemburu. "Apa selesai ini kita pulang?" Tanya Kiren memecahkan keheningan.
"Kamu mau pergi kesuatu tempat lagi?" Tanya Varo masih dengan posisi sama.
Kiren menggeleng pelan. "Mas keliatan capek!!" Bisik Kiren pelan.
"Maaf." Cicit Kiren semakin merasa bersalah.
"Gak masalah. Asal setelah ini, jam tidur istriku bisa berkurang banyak karna aktifitas kami." Ucap Varo yang diakhiri dengan kekehan pelan.
Kiren memukul pelan paha Varo. Tak urung, wajahnya ikut nerona karna ucapan ambigu suaminya barusan.
__ADS_1
"Kamu cantik kalau sedang merona sayang." Gumam Varo dengan suara serak dan menarik telapak tangan Kiren keatas pahanya. Digenggam erat tangan Kiren diatas pahanya itu.
"Apa sih." Ucap Kiren malu.
Varo tertawa lucu melihat wajah malu Kiren. "Haruskah setelah ini, kita berbulan madu??" Tanya Varo dengan nada serius.
"Tapi mbak Hanum bakal buka cabang caffe baru. Dan aku pasti bakal sibuk karna itu."
"Ckkkkk....Bukankah aku sudah bilang.......Untuk kak Hanum mencari meneger baru." Gerutu Varo kesal.
"Jadi beneran mas yang nyuruh mbak Hanum cari pengganti aku!!" Ketus Kiren kesal.
"Ya. Aku gak suka istriku kerja terlalu keras.....Apa aku harus membangun caffe baru untukmu sayang. Agar kamu tidak terlalu sibuk?" Ujar Varo santai.
"Atau aku harus cepat-cepat membuatmu hamil agar kamu bisa berdiam diri dirumah!!" Sambung Varo memandang Kiren intens. Kiren melotot horor kearah Varo.
"Ya!! Sepertinya setelah ini, aku harus ambil cuti panjang....Agar kita bisa berbulan madu dan memproduksi banyak bayi..." Ucap Varo santai tapi dengan nada serius.
"Mas." Seru Kiren kesal. Tawa Varo pecah mendengar nada kesal istrinya.
__ADS_1
Kiren tidak menyangkan suaminya yang sedari dulu irit bicara bisa berbicara sefulgar ini. Kemana larinya Varo Pradipta yang cuek dan masa bodo. Kenapa suaminya berubah menjadi menyebalkan seperti ini.
Bersambung......