SUAMI ANTI ROMANTIS

SUAMI ANTI ROMANTIS
Melarikan diri.


__ADS_3

Sorry buat semua kakak-kakak senior, udah lama SUAMI ANTI ROMANTIS gak up.. Semua itu karna aku ganti hp, dan lupa sandi dan gak bisa login... Beruntung sekarang udah bisa.. semoga bisa terus up setiap hari ya ka.. Salam kangen dari aku..❤️❤️❤️❤️


Dengan wajah nampak babak belur, Varo menatap Kiren yang masih terisak didepannya dengan hati hancur. Andai dia mendengarkan semua saran kakak iparnya, Varo yakin semua ini tidak akan terjadi.


Saat ini Varo merasa gagal menjaga dan melindungi Kiren, istrinya.


Dengan sedikit memaksakan senyum nya, Varo bergumam memanggil Kiren Istrinya. Membuat Kiren semakin terisak karna melihat suaminya yang nampak begitu terluka.


"Maaf." Lirih Varo pelan.


Setelah cukup lama menangis, akhirnya Kiren menatap Varo sayu.


"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Varo menatap perut Kiren.


"Dia kuat, sama seperti papanya."


"Dan hebat seperti mamanya."


"Mas baik-baik saja?"


"Hmmm, mas janji kita akan segera keluar dari sini."


"Bagaimana caranya mas, diluar banyak sekali penjaga... Kita bahkan seperti ini." Varo menatap sekeliling ruangan mencari apa pun yang bisa membuat ia lepas dari ikatan tali dikedua tanganya. Tapi nihil tidak ada apa pun yang bisa membantunya lepas.


Derap langkah kaki seseorang kembali membuat Varo memusatkan perhatiannya pada pintu kayu didepannya.


"Mas?" Panik Kiren.


"Ssstttttt, tenang lah." Bisik Varo menatap Kiren hangat. Berusaha menenangkan lewat kedua bola matanya, walau pun dalam hati ia juga merasa was-was, bahkan jantungnya berdetak sangat kuat.

__ADS_1


"Hei, lepaskan ikatan tali pria itu... Bos ingin dia menandatangi dokumen ini." Ucapan seorang pria gempal dengan kepala botak langsung diangguki oleh dua pria jangkung dengan rambut gondrong.


Varo hanya diam saat tali ditangannya pelan-pelan dilepaskan, bahkan ia berlagak lemas ketika kedua preman memaksanya berdiri.


"Cepat, bawa dia kemari."


Hingga sampai pria botak itu memberikannya pulpen, memaksanya menandatangani kertas ditangannya. Varo langsung menusukan pulpen ditangannya tepat dileher pria botak itu membuat ia berteriak histeris karna darah yang bercucur dari leher.


Kedua pria gondrong pun merasa panik saat melihat bosnya berteriak sakit. Sampai salah satunya membantu bosnya berdiri sedang yang satu berusaha memukul Varo dengan bengis.


Perkelahian pun tak terelakan, dengan sisa-sisa tenaganya Varo berusaha semampunya melawan. Sampai berulang kali ia mendapat pukulan karna tenaganya yang mulai terkuras habis.


Namun ketika ia tersengkur dengan kasar terjatuh diatas lantai, matanya bertemu pandang dengan Kiren yang sudah terisak menangis dengan kepala menggeleng penuh air mata di pipinya. Membuat Varo merasa tersentak.


Seperti mendapat kan kembali semangatnya, Varo bangun, mengelak saat berulang kali preman didepanya berusaha menjatuhkan nya, namun ketika memiliki kesempatan Varo langsung melayangkan bogeman mentah tepat di relung hati preman itu. Berulang-ulang, hingga membuat sang preman jatuh dengan kaki ditekuk memegangi perutnya. Tidak memberi belas kasihan, Varo sekali lagi memukul tepat di kepalanya, pukulan itu membuat preman itu langsung jatuh dan tak sadarkan diri.


Setelah melihat temannya terkapar jatuh, pria gondrong yang tadi berusaha membantu bosnya pun menatap bengis Varo. Dan melangkah lebar untuk memberikan nya pelajaran.


Tanpa buang waktu, Varo langsung menekan sebuah tombol pada cincin di jarinya sebelum berlari kearah Kiren. Melepaskan seluruh ikatannya dan membantu Kiren berdiri.


Memeluk erat Kiren, Varo berucap syukur ketika ia bisa menghirup aroma tubuh istrinya yang sudah lama ia rindukan.


"Ayo, kita keluar dari sini." seru Varo berlari menggandeng tangan Kiren, mengabaikan preman yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


"Mas." Panggil Kiren saat mereka sedang mengendap-endap disebuah lorong panjang, memperhatikan sekeliling yang nampak sepi, sunyi. Seperti tidak ada kehidupan.


Saat ini, Varo bersembunyi disebuah ruangan kotor dilantai dua. Dengan Kiren yang tanganya terus ia gandeng.


Varo hanya menoleh saat suara Kiren terdengar lemas. "Aku udah gak kuat." Bisik Kiren.

__ADS_1


"Kamu ingin istirahat?" Tanya Varo menuntun Kiren duduk disebuah kursi kayu. "Tunggu sebentar." Sambung Varo melangkah kearah sebuah jendela memperhatikan sekeliling yang nampak sepi.


Setelah dirasanya aman, Varo kembali melangkah kearah Kiren. "Dengar, mas yakin pasti anak buah pria itu sudah melaporkan kalau kita telah kabur dari mereka." Melepaskan cincin dijari manisnya, Varo memakaikannya pada Kiren.


"Mas ini---"


"Ini alat pelacak, mas Adam dan tim pasti menuju kesini... Dan mas mau kamu terus memakainya, jangan melepaskannya apa pun yang terjadi, mas akan keluar melihat keadaan dan mencoba memancing mereka.."


"Tapi---"


"Ssstttttt... Mas gak yakin kita bisa selamat kalau kamu ikut dengan mas, selama mereka belum datang dan menolong kita.. Apa pun yang terjadi tolong jangan keluar dari sini, biar mas yang mengurus semuanya."


"Mas?" Kedua mata Kiren berkaca-kaca. Rasa takut itu hadir ketika melihat keadaan suaminya yang nampak tidak baik-baik saja.


"Gak papa, mas janji kita akan selamat.. Diluar gak ada siapapun, mas yakin semua anak buah pria itu pasti sedang pergi bersamanya.. Jadi ini jika ada kesempatan kamu lari sejauh kamu bisa."


"Gak, aku gak bisa pergi tanpa mas." Geleng Kiren dengan air mata berlinang.


"Sayang, hei dengar." Ucap Varo mengangkat dagu Kiren. "Kita gak bisa egois, ada nyawa yang harus kita lindungi sekarang." Varo mengusap perut Kiren pelan. Mengecupnya sebelum berdiri dari duduknya.


"Mas." Kiren menahan lengan Varo, ia ikut berdiri dari duduknya.


Memegang kedua pundak Kiren, Varo mengecup kening Kiren lama. Seakan menyalurkan seluruh rasa yang ia rasakan saat ini. "Semua pasti baik-baik saja sayang... Mas janji, kalian akan selamat. Mas sayang kalian berdua, kalian adalah hidup mas sekarang.. Jadi tolong, tolong jadi istri penurut kali ini." Gumam Varo diatas kepala Kiren semakin membuat Kiren terisak dan juga takut.


"Baiklah, ayo... Kita pergi dari sini." Varo menuntun Kiren yang berjalan dibelakangnya.


"Dengar, kamu tunggu disini. Mas bakal cek diluar.. Jangan keluar kalau mas belum kesini, apa pun yang terjadi.. Tetap diam disini, hmmm?" Bisik Varo menoleh pada Kiren yang hanya diangguki oleh Kiren.


Setelah Varo keluar dari ruangan, Kiren yang diam menatap pintu nanar. Terus bergumam kan doa didalam hati. Berharap Tuhan akan memberikan sedikit belas kasihnya, untuk menyelamatkan mereka berdua, ah bertiga dengan calon bayi mereka.

__ADS_1



Hai kakak-kakak yang setia dengan Kiren dan juga Varo.. Yuk mampir kelapak baru aku "DEAR, MAS GANTENG.", ada Hanum dan Adam yang bakal buat kalian gemes dan juga greget karna kelakuan mereka.. Penasaran yuk mampir...


__ADS_2